Be Still in the midst of the Storm

, What's Next, 01 June 2022
"We do the dances of life even through the deepest despair with our dearest friend to find the Truest Love. It's the seasons of life." -Recital "Seasons of Life" SMG Cheneniah 2017

Badai pasti berlalu.

Ignite People tidak asing dengan ungkapan di atas, kan?

Ya, ungkapan ini sering kita dengar ketika ada orang-orang sedang bersedih dan meratapi penderitaan yang dialami. Masalahnya adalah sepertinya ada yang kurang dari kalimat itu, karena pada kenyataannya terasa tidak demikian. Mungkin kepanjangannya seperti ini:

“Badai pasti berlalu, dan akan datang, dan akan berlalu kembali."

Benar, kan? Kita tidak akan jauh dari kata "badai kehidupan", seperti lautan yang tenang di suatu hari pun akan bergejolak di hari yang lain. Bahkan belum usai badai yang satu, tiba-tiba diperparah dengan pusaran di laut yang membuat para pengemudinya mual. Risikonya jelas ada: hanyut di laut dan tidak kembali lagi menyembul ke permukaan untuk bernapas. Pertanyaannya, apakah tidak ada lagi kapal-kapal yang berlayar karena laut yang menggelora? Tentu saja tidak. Kapal-kapal itu tetap berlayar dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin, sekaligus berharap agar cuaca tetap cerah hingga mereka sampai di tujuan.


Well, ibarat badai, masalah pun dapat datang bertubi-tubi ke dalam hidup kita. Bagai ungkapan "sudah jatuh, tertimpa tangga pula", rasanya sulit sekali untuk melihat bahwa hidup kita baik-baik saja. Walaupun bisa memasang topeng di hadapan orang lain, hati kita sebenarnya berteriak minta tolong. Kita takut kalau hidup kita akan terseret oleh masalah yang sedang dihadapi terus-menerus, tetapi di sisi lain pikiran kita pun kalut. Jika demikian, kepada siapa kita dapat meminta pertolongan? Oke, deh. Secara teori, kita tahu bahwa hanya Tuhan satu-satunya sumber kekuatan dan pertolongan yang sejati. Namun di tengah badai kehidupan, rasanya sulit untuk menghayati hal ini, bukan?


Photo by Barth Bailey on Unsplash

 Ketika menuliskan ed letter ini, Minbi teringat pada lagu yang merupakan adaptasi dari Mazmur 121. Judulnya 하나님은 너를 지키시는 자, dan yak Minbi nggak bisa tulis romanization-nya (bahasa Inggrisnya The Lord Watches over You, Mazmur 121). Minbi pertama kali tahu lagu ini dari sebuah resital yang diadakan oleh STT SAAT pada akhir tahun 2021 lalu.* Dalam salah satu session-nya yang bertemakan "When the Ocean Rise", lagu tersebut menjadi penutup yang menyimpulkan bahwa Tuhan selalu hadir di dalam setiap musim kehidupan kita, bahkan ketika kita sangat sulit merasakan kehadiran-Nya. Dia juga tidak menolak air mata dan keluh kesah kita, sebuah penghiburan bagi kita yang (mungkin) bergumul untuk mengekspresikan emosi di depan orang lain. Pertanyaannya adalah... apakah masalah yang kita hadapi membawa kita mengenal Tuhan dan diri sendiri dengan lebih utuh lagi? Apakah masalah yang ada hanya kita sikapi apa adanya dan mengandalkan insting saja? Atau mungkin selama ini kitalah yang mengkotak-kotakkan Tuhan dan pertolongan-Nya yang berada di luar akal manusia?

Mari, bagikan kisah Ignite People melalui karya tulis sepanjang bulan Juni-Juli ini! Kiranya kisah tentang badai kehidupan yang pernah (atau sedang) kita lalui menjadi teman seperjalanan bagi satu sama lain.



"Harapan bukanlah berbicara tentang jalan keluar, tetapi dengan siapa kita berjalan."

- Adela M. Lastasia



Cheers,

Minbi


*recital yang dimaksud bisa disimak di sini.

 

RELATED TOPIC

LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER