Hidup yang Melawan Arus

Best Regards, Live Through This, 21 May 2022
Apakah prinsip "let it flow" tetap relevan ketika ada hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran? Kebenaran seperti apa yang seharusnya menjadi kemudi hidup ini?

Kita hidup di era postmodern, yaitu sebuah zaman yang menganggap kebenaran sebagai hal yang relatif. Semua orang, siapa pun itu, "berhak" untuk menetapkan "kebenarannya" sendiri. Meskipun ada peraturan yang dibuat, ada kalanya kita juga bisa menggunakan "hak" tersebut untuk menentukan arah hidup kita. Tidak jarang pula kita memilih untuk pasif, membiarkan arus kehidupan membawa kita ke mana saja. Selama tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain, tentu tidak apa-apa, kan? Namun, sejauh apa prinsip ini bisa diterapkan? Dan mungkinkah tidak ada kebenaran yang absolut di dunia ini?

Sebagai pengguna jalan yang baik, kita tentu tidak boleh melawan arus. Contohnya, kita tidak mungkin melawan arus saat berada di jalan raya, apalagi jalan tol. Kita harus mematuhi rambu-rambu lalu lintas demi menjaga keselamatan semua pengguna jalan, baik pengendara maupun pejalan kaki. Jika kita tetap melawan arus saat berkendara di jalan raya, kemungkinan terjadi kecelakaan atau tabrakan akan besar.

Sama halnya dengan ujian sekolah. Jika kita ingin naik kelas, tentu ada ujian yang harus kita tempuh demi mencapai standar tertentu dan kita dinyatakan lulus. Kita tidak bisa melawan arus dengan tidak mengikuti ujian dan langsung naik ke level berikutnya melalui cara-cara yang curang.

Demikian halnya kita sebagai warga negara yang baik, tentu kita harus mengikuti segenap peraturan yang berlaku, baik itu di lingkungan tempat tinggal, lingkungan tempat kerja, dan tempat umum lainnya. Jika kita melawan arus, ada sanksi pidana dan sanksi sosial yang menjerat kita. Apa yang kita lakukan akan berdampak untuk diri sendiri dan masyarakat sekitar.


Photo by Laura Lefurgey-Smith on Unsplash  

Namun, apakah kita tidak boleh melawan arus dalam keadaan tertentu? Jika teman-teman kita terlambat dan bermalas-malasan, apakah kita ikut bermalas-malasan? Jika rekan kerja kita melakukan korupsi, apakah kita juga mengikutinya? Jika orang lain berbuat curang demi memenangkan permainan, atau ada yang menghalalkan segala cara demi terpilihnya dirinya dalam jabatan politik tertentu, apakah kita membiarkan dan tidak melawan arus? Apakah kebutuhan akan penerimaan atau status tertentu dapat menjadi alasan yang kuat untuk menentang kebenaran?

Sebagai anak Tuhan, kita tentu tidak boleh mengikuti hal-hal yang tidak baik. Kita harus melawan arus jika orang lain melakukan kejahatan dan tetap harus berbuat baik kepada semua orang. Mengasihi, mengampuni, peduli terhadap orang lain, dan mendoakan sesama merupakan beberapa contoh yang harus kita terapkan dalam hidup kita. Kehidupan orang Kristen harus melawan arus, tetapi dalam arti yang baik. Ketika orang lain bertengkar, pengikut Kristus harus menciptakan kedamaian. Ketika para penguasa sibuk menjadi yang pertama, kita juga harus memperhatikan kaum marginal.

Yesus telah memberi teladan yang baik (tentunya bukan hanya sebagai Tuhan, tetapi juga manusia yang sempurna). Kehidupan dan ajaran Yesus yang melawan arus berdampak luas terhadap orang banyak di zaman itu, bahkan hingga kini. Dalam Matius 5:44, Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi para musuh dan mendoakan mereka. Ketika kita disakiti, hendaknya kita tidak membalas dengan kejahatan, melainkan kita harus mengampuni dan berdoa bagi yang membenci kita. Yesus sendiri yang memberi contoh bahwa Ia mendoakan penjahat yang disalibkan bersama dengan-Nya di Golgota.

Photo by Alicia Quan on Unsplash  

Selain itu, Yesus juga melawan arus karena Ia adalah satu-satunya Juruselamat yang rela kehilangan nyawa-Nya demi menebus umat manusia. Ia dihina, disiksa, dan dihukum mati meskipun tidak berdosa. Ia menyelamatkan semua orang dengan menanggung kesalahan manusia di kayu salib. Puncaknya ialah kebangkitan-Nya pada hari yang ke-tiga. Tidak ada sosok lain yang bangkit dari kematian kecuali Yesus Kristus. Ia hidup dan menang atas maut. Setelah bangkit, Yesus menampakkan diri beberapa kali kepada Maria Magdalena, Maria yang lain, dan para murid-Nya. Kemudian Ia mengutus murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia. Sesudah Yesus memberikan perintah tersebut dan memberkati mereka, Ia terangkat naik ke sorga.

Di samping itu, tubuh kita adalah bait Allah dan Roh Kudus diam di dalam kita (1 Korintus 6:19). Maka dari itu, kita harus memuliakan Allah dengan tubuh kita (1 Korintus 6:20). Sudah sepantasnya dan sepatutnya kita mencerminkan Yesus dalam hidup kita. Terlebih lagi, saat ini kita hidup di dunia yang penuh dengan kecemaran. Seperti ungkapan McKinney dalam lagunya yang berjudul “Let Others See Jesus in You”, marilah kita hidup saleh dan benar serta menyatakan Yesus dalam kehidupan kita. Hidup kita bagaikan kitab terbuka yang dibaca sesama. Biarlah tiap pembaca melihat Yesus dalam hidup kita.

LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER