Aku Lelah Disakiti, Tuhan

Best Regards, Live Through This, 10 May 2022
"Jika kita ingin hidup damai dengan Allah dan sesama, maka pengampunan harus terus berlanjut dalam hidup kita.”

“Aku capek disakitin terus, gak mau gini lagi!”

“Kenapa aku harus mengampuni orang itu?”

“Aku gak bisa mengasihinya, Tuhan.”


Pernahkah Ignite People mengucapkan ungkapan-ungkapan di atas ketika ada seseorang yang menyakiti? Mungkin teman, pasangan, keluarga, saudara seiman, dan lainnya pernah melakukan suatu tindakan yang melukai hati Ignite People. Yah, tapi di Alkitab dikatakan kita harus mengampuni, kan? Bukankah Tuhan Yesus pun mengajarkan demikian? Namun, kenapa rasanya berat sekali untuk memberikan pengampunan itu?

Jujur saja, ketika hati sudah merasa sakit dan air mata terus mengalir, perintah untuk harus mengampuni orang yang menyakiti kepada kita memang sulit. Dibohongi, dimanfaatkan, difitnah, dijauhi, dan hal buruk lainnya. Kita tidak ingin hal itu terjadi dalam hidup kita, bukan? Saat ada orang lain yang melakukan hal tersebut, kita bisa saja langsung sakit hati, timbul rasa benci, tidak ingin bertemu lagi, dan bahkan tidak mau memaafkan orang tersebut. 

Semua orang pasti pernah disakiti, begitu pula denganku. Aku  juga butuh waktu untuk mengampuni kesalahan orang lain. Terlalu fokus pada rasa sakit dan mempertanyakan situasi yang dirasakan membuatku menjadi semakin sulit mengampuni. Meskipun demikian, aku diingatkan untuk mengampuni seperti Tuhan mengampuniku (Kolose 3:13). Maka dari itu, melalui refleksi ini, aku berharap kita semua mau sama-sama belajar dan menjadi pelaku Firman untuk mau mengampuni orang lain sesuai dengan apa yang Tuhan ingin kita lakukan selama kita hidup di dunia ini.


Photo by Susan Q Yin on Unsplash  


Bagaimana caranya mengampuni orang lain saat hati sudah lelah disakiti? Ada beberapa ayat Alkitab yang dapat membantu diriku dan kita semua yang bergumul tentang mengampuni.


Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

Roma 5: 8

Di saat aku merasa sedih dan sakit hati, aku mencoba mengingat kembali bagaimana Tuhan mau mengampuni setiap dosaku dan pengurbanan yang Ia lakukan di atas kayu salib. Coba kita bayangkan: Tuhan yang mahakudus itu mau mengampuni kita yang berdosa dan (sebenarnya) tidak pantas menerima pengampunan-Nya. Pengurbanan Kristus ini membuktikan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, bahkan ketika kita masih berdosa. Lalu, kenapa kita masih sulit mengampuni sesama kita yang mungkin kesalahan yang dilakukannya tidak sebanding dengan dosa yang sudah kita perbuat kepada Tuhan?


Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

Matius 5:44

Saat sulit mengampuni dan hati masih terasa sakit, aku pernah menemukan satu ayat Alkitab seperti yang telah Ignite People baca di atas. Secara manusiawi, aku tentu saja sulit untuk mengasihi dan mengampuni orang yang melukaiku. Bagaimana bisa? Sudah disakiti, tetapi Tuhan ingin diriku untuk tetap mengasihi dan mendoakan orang tersebut? Dianya yang keenakan, akunya yang makan ati. Namun, ketika aku memutuskan untuk taat dan mau mendoakannya, sebenarnya rasa tenang dan damai akan hadir di dalam hatiku.

Salah satu wujud pengampunan kita adalah melalui doa untuk kesehatannya, relasinya, dan pergumulan yang dihadapi oleh orang tersebut. Kita juga bisa berdoa agar Tuhan dapat bermurah hati, terus memimpin hidup orang tersebut, dan menjadikannya pribadi yang lebih baik dan berkenan di hadapan-Nya. Tentu ini tidak akan bisa terjadi kalau bukan karena Tuhan yang memampukan kita untuk mengampuninya, bukan? Lagipula, pengampunan bukan hanya berbicara tentang pihak yang "bersalah", tetapi juga kita yang Tuhan ubahkan dari hari ke hari.


“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Matius 6:14-15


Ayat di atas juga meneguhkan pentingnya bagi kita untuk mengampuni. Jika kita mengaku telah menerima pengampunan Tuhan, bukankah seharusnya kita juga meneruskannya pada orang lain? Yah, mengampuni tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, dan ada kalanya memori terhadap peristiwa yang melukai itu akan timbul kembali. Namun, dengan pertolongan Tuhan, perlahan-lahan kita dimampukan-Nya untuk melihat peristiwa tersebut sebagai pembelajaran berharga, tidak lagi untuk diratapi. Mengampuni memang butuh waktu, tetapi pengampunan itu memulihkan—setidaknya bagi kita yang terluka.


Photo by Aaron Burden on Unsplash  


Selain ketiga ayat Alkitab tersebut, kita juga perlu sadar kalau kita sebagai sesama manusia termasuk orang yang berdosa (memiliki natur dosa) sehingga kemungkinan untuk disakiti maupun menyakiti sesama manusia bisa saja terjadi.  Salah satu akun Instagram di cabang gerejaku menuliskan demikian:

“Pengikut Kristus percaya bahwa masa hidup kita di dunia ini hanyalah sebagian kecil dari masa hidup kekekalan kita, dan kita yakin bahwa ada ‘puncak akhir yang kekal’ yang menantikan kita dalam kemuliaan. Namun sementara itu, tidak semua orang yang melukai kita akan bertobat; tidak semua relasi akan membaik. Anda akan tetap menghadapi situasi di mana Anda dipersalahkan, difitnah, dan diperlakukan tidak adil. Pengampunan tidak berkuasa untuk mencegah semua hal tersebut. Kita akan kecewa dan hidup dalam kepahitan jika kita mengharapkan hal yang sebaliknya. Itulah sebabnya, jika kita ingin hidup damai dengan Allah dan sesama, maka pengampunan harus terus berlanjut dalam hidup kita.”

Mengampuni bisa menjadi hal yang sulit dilakukan, tetapi mengampuni bukanlah hal yang mustahil kita terapkan. Belajarlah untuk tetap taat kepada perintah Tuhan tentang mengampuni sesama. Bergantunglah pada-Nya dan biarkan Roh Kudus menuntun setiap jalan hidup kita untuk mau mengampuni. Semoga terberkati! Kiranya Tuhan menolong kita!

LATEST POST

 

Ignite People, dijumpai hari sulit selama hayat di kandung badan tidak menjadi masalah asal ada iman...
by Jeane Marlessy | 26 Jun 2022

Photo by Nick Fewings on Unsplash Ya Bapa, aku datang ke hadapan-Mu tanpa jemu-jemu.Engkau tah...
by Ms. Maya | 26 Jun 2022

Hai Ignite People! Apa kabar kalian?Ternyata, sudah hampir setahun aku ga menulis.Sempat bingung mau...
by Regina Megumi | 26 Jun 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER