Lifelong Learning

, What's Next, 13 April 2022
Belajar itu bisa dari mana saja, tetapi apakah ada faedahnya bagi kita?

Selamat menyambut bulan Mei!

Di Indonesia, bulan Mei dikenal sebagai Bulan Pendidikan Nasional. Ironisnya, masih ada banyak orang yang sangat sulit untuk mengakses pendidikan karena terkendala banyak hal. Teknologi yang masih belum merata, fasilitas dan tenaga pengajar yang belum sepenuhnya memadai (tahu sendiri, kan, Indonesia sangat luas), infrastruktur sekolah yang tidak sepenuhnya terawat dengan baik, dan sebagainya. Berikut adalah salah satu video dari Kok, Bisa? yang menjelaskan kondisi pendidikan di Indonesia.



Memprihatinkan? Yes.

Namun, bukankah perjalanan iman kita juga ada kalanya seperti perkembangan pendidikan saat ini, sedangkan keduanya juga melibatkan proses belajar—yang bahkan berlangsung seumur hidup?


Seberapa sering kita membandingkan iman satu sama lain, tetapi tanpa menggumulkan berbagai pembelajaran berharga yang Tuhan taburkan di dalamnya? Minbi ingat ada teman yang pernah berkata, "Tidak ada stagnansi di dalam pertumbuhan rohani. Yang ada hanyalah pertumbuhan atau kemunduran. Tidak ada pilihan yang lain." Artinya, keadaan stagnan pun sebenarnya merupakan tanda-tanda kemunduran yang harus kita waspadai, termasuk dalam perjalanan iman kita.

Setiap orang berada pada tahap pertumbuhan imannya masing-masing karena dipengaruhi oleh latar belakang dan kepribadian mereka, begitu pula dengan kita. Menanggapi fenomena tersebut, James W. Fowler—salah satu teolog dari Amerika Serikat—mencetuskan stages of faith sebagai berikut:


The Stages of Faith

"Kalau gitu, aku udah di tahap individuative-reflective faith, dong! Kan, udah umur 20-an..."

"Weh, kok, bisa yang universalizing faith dikit banget!?"

Yes. Kenyataannya, pertumbuhan iman kita tidak selalu berjalan sesuai dengan tahap perkembangan kita secara biologis. Mereka yang mengaku sudah menjadi orang dewasa, tidak jarang masih memercayai shio dan ramalan lainnya sebagai sebuah kebenaran yang menentukan nasib kehidupan mereka. Bahkan ada juga yang ke gereja hanya sebatas terlibat aktif di dalam pelayanan demi memenuhi kebutuhan penerimaan dan afirmasi. Terkesan judgemental-kah? Lalu, bagaimana respons kita sebagai orang Kristen? Apakah kita mau berhenti belajar dari perjalanan iman kita karena merasa sudah cukup mengenal Tuhan, padahal Dia adalah Pribadi yang misterius dan menyingkapkan diri-Nya sesuai dengan kesiapan kita menerima-Nya?

Mari, tuangkan tanggapan Ignite People dalam tulisan yang bertajuk Lifelong Learning! Selain seputar iman, Ignite People juga bisa membahas beberapa topik berikut:

  • Respons sebagai orang Kristen terhadap keadaan pendidikan di Indonesia
  • Sharing pengalaman terhadap pembelajaran yang dialami bersama Tuhan (baik secara akademik, non-akademik, emosional, spiritual, dll.)
  • Kalau Ignite People punya ide topik menarik yang bisa dibahas, silakan, ya!

Kami berdoa agar ed letter Lifelong Learning tidak hanya menjadi penghias untuk memasuki bulan Mei, tetapi memantik Ignite People dalam berbagi kisah maupun pemikiran seputar perjalanan yang berlangsung seumur hidup ini. Selamat berbagi (dan menerima) berkat!   


Cheers,

Minbi

 

RELATED TOPIC

LATEST POST

 

Mazmur 42:2-3“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan E...
by Valentine Ibrahim | 23 May 2022

Sebuah kalimat yang melekat, buat saya, terhadap pendeta Budi Santoso Marsudi, adalah ketika Jumat A...
by Victor Hasiholan | 23 May 2022

Fenomena anak indigo tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Apalagi akhir-akhir ini, banyak content...
by Monica Petra | 23 May 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER