Memaknai Hidup yang Hanya Sekali (Bagian 1)

Best Regards, Live Through This, 15 May 2019
Sebagaimana kita sadar bahwa hidup hanya sekali, sudahkah kita mengisinya dengan kasih?

Pada tahun 2011, sempat trending sebuah istilah dalam bahasa Inggris, “YOLO”, yang artinya adalah “you only live once”. Istilah ini pada masa itu cukup nempel dengan anak muda; mirip-mirip denganquotes-quotes catchy yang sekarang banyak di-screenshot dan dijadikan status oleh anak muda dari Path, Instagram, Twitter, atau dari artis terkenal.

Bahkan baru dua bulan yang lalu sebuah buku karya Marchella FP dengan judul “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini” dirilis. Isi bukunya quotes semua; bisa difoto dan dijadikan status, kalau mau. Tapi pada tahun 2011 buku ini belum ada; yang terkenal adalah istilah “YOLO” itu tadi.

Tren tersebut cukup menarik, karena dua tahun sebelumnya dirilis pula sebuah film yang diangkat dari sebuah isu yang membuat geger seluruh dunia: 2012. Kiamat sebentar lagi! Waktu itu saya masih SD kelas 4, dan celetukan yang langsung keluar dari teman saya adalah: Loh, aku belum menikah! Anak kelas 4 SD saja tahu bahwa kiamat artinya tidak ada waktu lagi untuk menikah. Hidup cuma sekali, bos!

Photo by Jill Heyer on Unsplash

Bisakah kita lihat sama-sama bahwa kiamat dan hidup hanya sekali memiliki keterkaitan yang cukup dekat? Kalau iya, kamu pasti tahu ke mana arah tulisan ini. Tapi coba lanjutkan membaca. Siapa tahu tulisan ini ingin berbicara sesuatu denganmu. Atau dengan temanmu.

Kita semua pasti bisa relate bahwa kitab Wahyu di Alkitab berbicara tentang Hari Tuhan. Sebelum bergerak lebih jauh, mari sama-sama buka bagian awal dari kitab ini. Ada sesuatu yang menarik.

Di awal kitab ini, kita diberitahu bahwa Yohanes sedang berada di Patmos, dan dia memperoleh penglihatan. Saat itu Yohanes dengar di belakangnya ada suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala, katanya: “Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergasmus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia, dan ke Laodikia.”

Photo by Álvaro Serrano on Unsplash

Seperti yang kusampaikan sebelumnya, ada yang menarik di bagian ini. Bila kita lihat bersama-sama, jemaat pertama yang mendapat kiriman pesan ini adalah Efesus. Apa sih, yang dipesankan Tuhan kepada jemaat ini?

Wahyu pasal 2 mencatat bahwa Tuhan tahu segala pekerjaan jemaat Efesus; baik jerih payah mereka, maupun ketekunan mereka dalam menghadapi penderitaan. Bagus dong, ada satu jemaat yang tetap sabar dan tidak kenal lelah dalam berjuang.

Tapi, di ayat 4 tiba-tiba suasana berubah;

Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.


Saat membaca kalimat ini, sempat muncul rasa tidak terima karena kelihatannya perjuangan jemaat di Efesus sudah cukup bagus dan pantas mendapatkan pujian. Kenapa justru dalam Alkitab dicatat bahwa Tuhan mencela mereka? Apa Tuhan serius ingin menunjukkan pada semua orang Kristen bahwa jemaat Efesus adalah jemaat yang pantas dicela?

Eh, tunggu.

Setelah berhenti ngegas, aku coba baca kalimat itu lagi dan menyadari bahwa bukan jemaat di Efesus saja yang dicela oleh Tuhan.

Dia yang selama ini berapi-api melayani Tuhan di gereja dan baik pelayanannya namun di balik layar semuanya omong kosong.

Dia yang dipilih menjadi pengurus namun memilih untuk tetap berkubang dalam dosa-dosa lama.

Ternyata Tuhan mencela aku.

Photo by Joshua Earle on Unsplash

Terkait dengan ini, aku ingin menceritakan sebuah fenomena di Jepang, di mana saat ini sudah ada sebuah layanan jasa persewaan keluarga. Namanya Rentaru Kazoku. Kita bisa request sosok ayah, ibu, kakak, adik seperti apa yang kita inginkan. Mungkin terkesan baik, tapi sebenarnya di balik layar, jika kita amati lebih dalam, layanan ini berpusat pada diri sendiri.

Ada perbedaan fokus antara “keluarga” seperti ini dengan keluarga yang sesungguhnya. Orang-orang yang kelihatannya ideal dan disewa ini sebenarnya hanya melakukan tugas karena dibayar. Berbeda dengan keluarga yang autentik di mana ada kasih, juga kerinduan untuk berkorban satu sama lain.

Film karya Yandy Laurens yang berjudul “Keluarga Cemara” menjelaskan hal ini dengan amat baik. Selama 110 menit dalam film ini, sosok Abah, Emak, Euis, dan Cemara sama-sama belajar bagaimana menjadi sebuah keluarga yang tidak fokus pada diri sendiri. Mereka berjuang bersama-sama untuk memahami bahwa: harta yang paling berharga adalah….. (Lanjutin sendiri, pasti udah pada ngerti).

Photo by Paul Gilmore on Unsplash

Ingat, Allah berkata, “Namun demikian, Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.

Paulus mengingatkan jemaat di Korintus:

[dan] sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.


Tentu ada dari kita yang punya kerinduan melayani Tuhan di gereja untuk menyenangkan hati Tuhan. Tapi bayangin aja kalau kita udah berkobar-kobar melayani Tuhan, berjuang dengan tetesan keringat dan air mata, tapi reaksi Tuhan pada pelayanan kita adalah “Aku mencela engkau”. Sakitnya tuh di sini!

Bukan suatu kebetulan kalau peringatan keras ini muncul di dalam kitab ini. Sebagai anak muda yang hidup menanti kedatangan Tuhan kedua kali, sudahkah kita kembali pada kasih mula-mula itu?Sebagaimana kita sadar bahwa hidup hanya sekali, sudahkah kita mengisinya dengan kasih?

Photo by Kevin Schmid on Unsplash

Syukur, Tuhan tidak berhenti sampai di kalimat tersebut.


“Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan….”


Masih ada kesempatan. Hidup yang cuma satu kali ini, mau diisi dengan apa?


Baca bagian selanjutnya:

LATEST POST

 

“Dek, kamu mau gak ikut pelayanan?”“Engga.”Yups, aku yakin bahwa k...
by arthia anada | 17 Aug 2019

Bulan ini, Ignite GKI sedang membahas serba-serbi gereja. Bagiku, seiring dengan beredarnya akun-aku...
by Chintya | 17 Aug 2019

Pagi ini, sebelum ada yang datang, lelaki itu sudah tiba, mendirikan motornya, membuka pagar, mengge...
by Prioutomo | 17 Aug 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER