Lotus: Growing from The Thick Mud

Best Regards, Live Through This, 23 July 2021
You only live once, but if you do it right, once is enough -M.W

Dalam masa pandemi yang belum berakhir ini, kita disuguhkan dengan beberapa berita yang menampilkan masalah panic buying. Sebenarnya ada apa, sih? Apa motif di balik itu semua? Mari kita cermati bersama.

Beberapa hari yang lalu, aku membaca di sebuah laman internet, menurut Steven Taylor (seorang dosen dan psikolog klinis di University of British Columbia, dan penulis buku The Psychology of Pandemics) panic buying terjadi karena adanya sebuah ketakutan dan keinginan untuk berusaha menutupi atau menghilangkan ketakutan tersebut. Orang-orang yang mengalami panic buying tidak segan untuk mengantre dalam waktu yang lama, bahkan mereka memborong barang-barang yang dianggap penting (padahal mungkin ngga penting-penting banget). Singkatnya, panic buying ini terjadi karena adanya ketakutan. Siapa, sih, yang tidak pernah merasa takut? Kalian pasti pernah—setidaknya satu kali seumur hidup—merasa takut, kan? Karena disadari atau tidak, semua orang dalam berbagai usia (dari anak-anak sampai dengan lanjut usia pun) pasti pernah merasa takut akan sesuatu, termasuk aku yang kadang-kadang juga demikian. Dalam artikel ini saya akan belajar bersama teman-teman untuk melihat ketakutan dalam kacamata yang lain.

Apakah teman-teman pernah mendengar tentang filosofi bunga lotus? 

Salah satu filosofi lotus yang cukup terkenal adalah lotus tumbuh dengan indah meskipun tumbuh di dalam lingkungan yang kotor (lumpur yang begitu pekat). Aku sangat menyukai filosofi ini, bahkan aku ingin menjadi orang yang dapat hidup seperti bunga lotus itu. Walaupun menyukai filosofi ini, aku juga memiliki pemahaman sendiri tentang bunga lotus. Jika dalam filosofi bunga lotus biasanya lumpur digambarkan sebagai lingkungan yang kotor, yang tidak baik dan lain sebagainya, aku lebih melihat lumpur itu sebagai sebuah ketakutan, bahkan ketakutan akan sebuah kegagalan. Kenapa ketakutan? Menurutku, “ketakutan” adalah hal yang paling dekat dengan kehidupan kita (takut gagal, takut tidak bisa, takut salah, dan takut-takut lainnya).


Photo by Rui Xu on Unsplash 


Dalam sebuah perkumpulan, seorang teman menyeletuk, “Enak ya jadi kamu, kuliahmu tuh gampang”. Aku yang mendengarkannya hanya bisa tersenyum. Setelah itu dia bertanya tentang bagaimana caranya bisa sesantai dan se-b-aja” (baca: sebiasa mungkin) itu. Aku menjelaskan bagaimana usaha yang kulakukan, dari yang awalnya meraba-raba sampai sempat hampir putus asa dan akhirnya bisa (walaupun rintangan akan tetap ada). Aku pun menceritakan dan menjelaskan bahwa semua orang memiliki kesulitannya masing-masing, tetapi selama semuanya dapat diatasi (setiap orang tau seberapa batas kemampuannya), kenapa tidak dilakukan? Bukankah ketika kita melihat ketakutan tersebut sebagai central pikiran kita, maka kita akan stuck dan tidak berani melangkah?

Ketika mempersiapkan persekutuan remaja beberapa minggu yang lalu, aku mendapatkan sebuah pembelajaran penting, yaitu tentang manusia adalah pribadi yang unik. Dari keunikan tersebut, manusia dapat bertindak dengan kreatif, dan kreativitas inilah yang seharusnya dapat kita gunakan untuk melawan ketakutan yang sedang menghampiri atau di depan kita.

Selain itu, ada pula kisah seorang nabi yang ketakutan terhadap Ahab dan Izebel, sebab ia akan dibunuh. Nabi itu tak lain adalah Elia, yang pergi dengan ketakutan dan ia berjalan sampai ke padang gurun. Padahal sebelumnya dia baru saja melakukan sesuatu yang heroik, yaitu menantang para nabi Baal untuk melawan Allah yang benar, yaitu Allah yang Elia beritakan. Kita tahu siapa yang menang dari “pertandingan” ini: Allah sendiri. Namun, Izebel murka dan masih tetap memegang kendali kerajaan, Ahab juga tidak mengalami perubahan, apalagi Israel juga tidak bertobat. Setelah keputusan bahwa Elia harus dibunuh, larilah dia ke Bersyeba—yang sudah termasuk wilayah Yehuda (padahal Elia ada di Israel Utara dan beribukotakan Samaria). Mungkin akan beda ceritanya jika Tuhan menghendaki Elia mati di tangan Izebel, tetapi karena bukan demikian kehendak-Nya, sah-sah saja jika ia melarikan diri. Nah, saat beristirahat di bawah pohon arar, Elia (yang telah berpetisi agar Allah mencabut nyawanya) berbaring dan tidur hingga tiba-tiba ada seorang malaikat datang membangunkan dan menyuruhnya untuk makan. Setelah itu, Elia melanjutkan perjalanan dan sampai ke Gunung Horeb. Di Gunung Horeb, ia mengalami banyak peristiwa, yang pada akhirnya menyadarkannya bahwa Tuhan tetap menyertainya dan tidak membiarkannya celaka (1 Raja-raja 19:1-18).



Photo by Sincerely Media on Unsplash 


Dari tadi berbicara dan cerita tentang ketakutan terus dan seakan-akan ketakutan itu sebuah hal yang tidak benar. Sebenarnya, takut itu boleh ngga, sih? Wajar ngga, sih?

Well, ketakutan itu wajar, bahkan ya nggapapa kalau kita takut, tapi seperti yang dikatakan mentorku (a.k.a. Pdt. Hendrikus Agus Raharjo) dalam khotbah paskahnya tahun 2018 (kalau tidak salah), “Jangan lupa: kalo takut, ya, takutlah sewajarnya.” Beliau juga menyampaikan sebuah penghiburan bagi kita yang sedang bergumul dalam menutupi ketakutan dengan sukacita yang palsu:

“Jangan sampai kita tenggelam dalam ketakutan. Ketakutan BOLEH ADA, tapi biarlah kita melihat ada sukacita yang lebih besar dan sukacita itulah yang akan menguasai kita.”

See? Rasa takut itu wajar, asalkan sewajarnya. Seperti pengalaman Elia, penyertaan Tuhan, kasih Tuhan, dan sukacita dari-Nya selalu ada dalam hidup kita. Tuhan tidak pernah membiarkan kita kesusahan; sekalipun kesusahan itu diizinkan, pastilah ada hikmah atau tujuan di baliknya.

Bahkan, nih, wakil presiden pertama kita pernah berkata, Keberanian bukan berarti tidak takut; keberanian berarti tetap berjalan meskipun rasa takut itu ada. Secara tidak langsung, ungkapan tersebut mengingatkan bahwa setiap orang pasti memiliki ketakutannya masing-masing tinggal bagaimana orang tersebut akan melawan dan menaklukan ketakutannya. Mau diam saja karena takut? Atau nekat (eh, berani) karena tahu bahwa ketakutan itu dapat diatasi?

Kembali lagi ke bunga lotus di awal tadi, kita bisa belajar bagaimana lotus menunjukkan bunganya yang tetap bertumbuh dengan indah, meskipun ia tumbuh dalam lumpur yang tebal dan pekat. Ketakutan memang tidak akan pernah habis. Setelah bisa melewati satu ketakutan, mungkin ada ketakutan berikutnya yang mengikuti kitaNamun, apakah kita akan terus-menerus berfokus pada ketakutan itu? Walaupun terdengar klise, ketakutan yang dilepaskan dan digantikan dengan kepercayaan kepada Tuhan akan membuat kita dapat terus berkembang, bertumbuh dengan nyaman dan tenang, karena Dia akan selalu menyertai kita dengan cara-Nya yang ajaib. Janganlah hidup dengan takut yang berlebihan, melainkan takutlah sewajarnya (lagipula, “takut” juga termasuk emosi yang dimiliki manusia, lho. Bayangkan kalau sama sekali tidak ada rasa takut: kita akan jadi gegabah dalam melakukan apa pun). Kalau boleh bilang, teruslah berjuang melawan rasa takutmu sampai ada orang berkata, “Enak ya jadi kamu, hidupnya nyante banget,” walaupun sebenarnya mungkin kamu masih mencoba menghadapi ketakutan tersebut. 

Mari kita belajar dari bunga lotus yang selalu menunjukkan keindahannya (sukacita dari Tuhan) daripada lumpurnya (ketakutan). Selamat belajar menjadi berani :) Walaupun tak mudah, aku yakin kita dapat mengatasi bahkan menghilangkan ketakutan tersebut, karena Tuhan menyertaimu dan aku.

Love, Emmaps <3

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER