Kaum Muda? Bisa Apa Mereka?

Best Regards, Live Through This, 26 May 2020
“Mereka mah gak komitmen sama pelayanan!” “Ngapain ada mereka? Ngeribetin doang!” “Mereka tuh cuek, mana ngerti yang beginian!”

Kalian, khususnya para kaum muda, pasti pernah - secara langsung atau tidak, mendengar kalimat-kalimat seperti itu;  dinyinyirin, dikata-katain, karena kalian masih muda dan gak tau apa-apa. Mungkin ada saja pihak yang merasa, merekalah yang lebih memiliki pengalaman, lebih berpengetahuan, bahkan lebih mahir dalam mengadakan kegiatan. Kehadiran mereka bukanlah sebuah masalah, namun sikap nyinyir/mengata-ngatai mereka yang lebih muda, itulah yang berpotensi menimbulkan atmosfer yang toxic, entah di dalam keluarga, di masyarakat, hingga di dalam dunia pelayanan gereja sekalipun.  

Sejatinya pihak yang lebih berpengalaman, berpengetahuan atau mahir, perlu untuk melakukan pengarahan dan memberikan ruang kesempatan bagi kaum muda untuk bertanggung jawab, mulai dari yang kecil sekalipun. Bagi para pemuda atau remaja, tanggung jawab kecil tersebut menjadi benih awal dalam kehidupan. Mengapa? Karena segala sesuatu dimulai dari yang kecil, baru setelah itu bertumbuh dengan disiram setiap hari oleh pelbagai pengalaman, lalu adanya pemupukan melalui nasehat yang membangun, sehingga mereka dapat tumbuh sebagai sebuah pohon yang kuat, serta tahan terhadap angin kencang ketika mereka semakin tinggi karena akar mereka sudah sangat kuat menahan terpaan angin tadi.



Analoginya seperti seorang anak kecil belajar mengendarai sepeda ditemani oleh ayahnya. Pertama, jelas sang ayah akan memegangi pundak anaknya sambil mendorongnya perlahan. Dorongan ini bisa diibaratkan sebagai tanggung jawab kecil, karena anak tersebut harus mengendarai sepeda dari titik A ke titik B yang berjarak sekitar 10 meter. Setelah sampai dari titik A, di titik B ayahnya memberikan tantangan kecil, yakni akan melepas anak tersebut setiap 2 meter, yang berarti hanya akan dipegangi sebanyak 5 kali. Sang anak menerima dan berhasil menyelesaikan tantangan tersebut. Sang ayah bangga sehingga menaikan tingkat tantangannya tersebut, ia akan hanya memeganginya setiap 4 meter, maka anaknya mendapat bantuan sekitar 2 kali. 

Di tantangan ini, sang anak terjatuh sehingga lututnya merah, tentu ayahnya berdiri tak jauh dan langsung menolong anaknya tersebut. Ayahnya memotivasi dengan berkata bahwa ia tidak boleh menyerah dan memberitahukan kesalahannya dengan bahasa yang halus, serta mudah dimengerti. Anaknya kembali semangat dan mengulangi tantangan kedua tadi, hasilnya pun memuaskan. Saat akan memberikan tantangan terakhir, sang anak berkata bahwa ia tidak ingin dibantu sama sekali. Tentu sang ayah kaget dan menanyakan keputusan anaknya tadi, tetapi si kecil bersikeras. Akhirnya, sang ayah  mengiyakan tetapi dengan tetap mengawasi dari dekat. Tak disangka, sang anak mampu melaju dengan kencang dan sampai bahkan sebelum sang ayah sampai.

Teruntuk kita yang pernah memandang sebelah mata para pemuda serta remaja yang sedang bertumbuh, berikanlah kesempatan bertanggung jawab kepada mereka. Sebab, apabila tidak, jangan harapkan mereka untuk terus memegang apa yang menjadi tanggung jawabnya. Mengapa? Simple, mereka belum pernah diberikan tanggung jawab kecil, padahal segala sesuatu dimulai dari yang kecil baru akan bertumbuh menjadi besar. 

Tuhan Yesus berkata dalam kitab Lukas:

Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. (Lukas 16:10)

Teruntuk para pemuda dan remaja, percayalah, kalian merupakan pemimpin masa kini, termasuk di dalam lingkup gereja. Jangan pernah takut untuk berinovasi, apalagi dalam sebuah acara gereja. Suara kalian adalah suara kaum milenial yang mampu memuliakan Tuhan dengan perkembangan teknologi yang ada, serta talenta yang diberikan-Nya. Mungkin, kalian cukup ragu karena berbagai alasan, seperti kalian masih muda, takut suara kalian tidak didengar atau direspons, atau bahkan dibantah keras. Ada sebuah ayat yang ditulis Rasul Paulus untuk muridnya, Timotius, ketika ia ragu untuk menjadi perpanjangan tangan gurunya.

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.
(1 Timotius 4:12)

Teman-teman, sejatinya dunia ini menjadi sebuah ajang kesempatan bagi kita untuk menuai berbagai tanggung jawab yang diberikan Dia kepada kita. Orang-orang yang lebih berpengalaman, berpengetahuan dan mahir tadi sangat mungkin jadi partner kita dalam berkolaborasi untuk terus memuliakan nama Tuhan di berbagai aspek kehidupan (tidak hanya gereja), walau kita masih muda. Dalam berkolaborasi di bawah naungan kasih Kristus, setiap kita, baik yang muda maupun dewasa, baru maupun lama, bisa saling melengkapi, mengisi kekurangan, menasihati secara bijak demi kemuliaan Tuhan.  

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Pekerjaan apa saja yang diberikan kepadamu, hendaklah kalian mengerjakannya dengan sepenuh hati, seolah-olah Tuhanlah yang kalian layani, dan bukan hanya manusia.

(Kolose 3:23)

LATEST POST

 

Waktu itu, aku liat tiktok. Trus, ada satu video dialog filsafat dimana ada orang bule bicara tentan...
by Yessi Nadia Giatma Saragih | 11 Jan 2022

 Suatu ketika aku meminta mami untuk dibuatkan kue bolu pandan. Yah, aku suka sekali makan kue...
by Nuel Lubis | 11 Jan 2022

Hanya Dialah yang tahu ‘kan segala rahasia,tiada ‘ku takut ‘kan kuasa gelap.Masa y...
by Sandra Priskila | 02 Jan 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER