Tentang Bahagia (2): “The Story of Kale”

Best Regards, Live Through This, 20 November 2020
Cinta memang semisterius itu Tak ada yang menerka tebingnya Tak ada yang tahu dimana puncaknya

Satu lagi karya ajaib buatan tangan Tim Dapur Visinema yang diberkati dengan kreativitas tanpa batas. “The Story of Kale” merupakan spin-off karaker Kale dari film “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini” (NKCTHI). Buat kamu yang belum nonton, coba deh tonton film NKCTHI. Nonton bareng keluarga lebih ngena. Lalu, setelah itu nonton "The Story of Kale". Film tersendiri mengenai tokoh Kale membuat ramai dunia maya yang sudah menunggu jawaban official terkait Kale. Ada apa dengan Kale? Mengapa Kale bisa jadi ‘sesadis’ itu dalam film NKCTHI dengan menolak mentah-mentah orang yang membuka diri untuk menyayanginya?


Apa yang akan sampaikan ini akan berisi beberapa cuplikan cerita dari film Kale. Jadi, buat kalian yang belum nonton, silakan nonton dulu terus balik lagi deh ke sini. Kale awalnya berpacaran dengan seorang perempuan yang membuatnya rela untuk melepaskan banyak hal dalam kehidupannya. Dia berjuang begitu keras untuk mampu membahagiakan sosok perempuan yang dicintainya. Hingga suatu saat, perempuan yang begitu dicintainya itu mengaku dengan jujur bahwa ia selingkuh. Tahu apa yang diucapkan Kale?


“Aku yang janji bisa memastikan kebahagiaan di hidup kamu…”


Kisah Kale menjadi sebuah ironi yang nyata. Ignite People, coba ingat kembali momen dalam kehidupan kita ketika kita berusaha begitu keras untuk membahagiakan seseorang yang kita sayang tetapi hasilnya tidak seperti yang kita harapkan? Atau justru kita mengharapkan orang lain untuk membahagiakan kita? Di titik manapun kita, kita ada dalam krisis ketika berpikir bahwa kebahagiaan orang lain adalah tanggung jawab kita atau sebaliknya.


Untuk beberapa alasan, perkataan sang perempuan yang dikasihi oleh Kale masuk akal, 

“Gak ada orang yang bisa bertanggung jawab akan kebahagiaan di hidup kita selain diri kita sendiri” 

Ya. Kitalah yang menentukan apakah kita ingin bahagia atau tidak. Bahagia kita adalah respons pribadi kita. Bukan tanggung jawab orang lain. Siapapun dia.

Apa yang dikisahkan karakter Kale adalah masalah seorang yang merasa dirinya superhero mampu membuat orang yang dikasihinya selalu bahagia bersamanya. Bahkan berjanji. Kale menjadi cerminan sebuah kegagalan mengolah rasa dan mengolah kesadaran dalam relasi percintaan. Ia menjadi ‘budak’ atas perasaan bertanggung jawab. Ia menjadi ‘budak’ atas perasaaan cinta yang sejatinya bukan cinta, melainkan ego. Merasa diri bertanggung jawab atas hal besar dalam diri orang lain adalah ciri pribadi yang egois, seolah orang itu tidak akan bahagia jika tanpanya. Seolah dirinyalah pusat kebahagiaan orang yang dikasihinya. Tidak begitu. Kebahagiaan adalah tanggung jawab pribadi.

We choose to be happy or not.


Meski aku setuju bahwa respons bahagia adalah pilihan kita pribadi, hal itu bukannya menjadikan kita acuh dan menyerah pada usaha untuk membahagiakan orang lain. Kita selalu memiliki andil untuk melakukan banyak hal yang dapat membawa sepercik kesukacitaan bagi orang lain. Jika kita benar-benar menyayangi seseorang, kita akan rela untuk melakukan hal-hal yang membuatnya sukacita.


Kalau begitu, apa yang salah dari usaha Kale? Bukankah Kale hanya berusaha untuk memberi kebahagiaan penuh bagi kekasihnya? Bukankah itu usaha yang baik? Ya. Baik. Sangat baik bahkan. Sayangnya, ia mulai keliru ketika melihat kebahagiaan itu tanggung jawabnya. Ketika rasa tanggung jawab atas kebahagiaan itu muncul, cinta Kale bukan lagi cinta yang tulus memberi, tetapi mengharapkan something in return. Apa itu? Ia mengharapkan bahwa kekasihnya akan terus berada di sisinya bahkan ketika kekasihnya ingin pergi.

Sakit. Ketika seorang yang berusaha membahagiakan orang lain malah harus tersakiti karena kehilangan kekasihnya. Tapi, bukanlah itu realitas cinta? Tak ada yang mampu menariknya paksa, dan tak ada yang mampu menahannya pergi. 


Cinta memang seusil itu.

Tak ada yang bisa mengendalikannya

Tak bisa dipaksa untuk datang

Tak bisa ditahan ketika ingin pergi

Tak bisa dipaksa bahagia di saat semuanya terasa sia-sia


Cinta memang sejahil itu

Tak ada yang menerka gerakannya

Gejolak di sana-sini

Naik turun, rollercoaster emosi


Hah, cinta memang seringkih itu

Sedikit retak pada kaca kepercayaan

Dan dia akan hancur jadi kepingan


Tapi, cinta memang setulus itu

Memberi dengan kepenuhan hati

Diterima syukur, ditolak ya sudah


Cinta memang semisterius itu

Tak ada yang menerka tebingnya

Tak ada yang tahu dimana puncaknya


Setiap liku terasa bagai lembah dan bukit

Setiap sakit terasa bagai tikam beling

Setiap senyum terasa bagai angin sepoi

Setiap marah terasa bagai hujan lebat

Setiap tawa rasanya seperti surya kala senja


Cinta memang seanggun itu, kawan :)

LATEST POST

 

Buat kalian pecinta YouTube, adakah dari kalian yang merasakan hal yang berbeda di awal tahun ini? K...
by Lay Lukas Christian | 22 Jan 2021

Just imagine, or remember, if you have this kind of story of life! One day, you met your “supp...
by Timothy Aditya Sutantyo | 22 Jan 2021

Berada dalam suatu persekutuan inklusif yang membangun iman percayaku kepada Allah Tritunggal dan da...
by Jerell Michael Cussoy | 21 Jan 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER