The Silent Warrior

, What's Next, 01 January 2021
Mari membuka 2021 dengan shout out untuk para pelayan yang telah menempuh jalan nan sunyi untuk memfasilitasi perjumpaan umat dengan Tuhan di kala pandemi!

Tidak semua orang mempunyai kelegaan hati untuk berkarya tanpa panggung. Pendeta dan penatua yang tetap harus melayani di ibadah kedukaan jemaat/simpatisannya, dengan risiko tak kecil; para editor video yang harus merelakan jam tidurnya untuk menuntaskan video ibadah gerejanya, plus semua kru di balik layar yang harus menghadapi berbagai tuntutan baru digital ministry di era pandemi. It’s a tiring & thankless job, to be honest.

                                               


Buat kita yang sejak dulu sudah berkoar-koar di gereja mengenai pentingnya memajukan digital ministry namun hanya berbalaskan kesunyian, tahun 2020 terasa seperti jawaban doa yang tidak diinginkan - ya, mendadak digital ministry mungkin jadi prioritas baru, tapi seiring itu mendadak pula sejuta komentator ikut cawe-cawe di dalamnya dan membuat kepalamu pening. Dari “Ih, nyanyi kok pakai masker sih?” sampai “Pengambilan angle di videonya ngebosenin deh” (sambil membandingkan video ibadah gerejamu dengan gereja lain yang sudah lebih dahulu serius menggarap digital ministry-nya dan berinvestasi pada peralatan standar industri).


Akibat pandemi, gereja-gereja arus utama bukan diajak melangkah dalam digital ministry, melainkan didorong melompat masuk ke dalamnya. It’s a leap, not a step.


Begitu banyak dinamika menarik yang mimin amati dalam pergerakan digital ministry di GKI setahun terakhir ini, tentu ada suka-dukanya, namun yang pasti: Mendadak para pelayanan digital ministry (yang biasanya diisi oleh aktivis usia pemuda) sibuk bukan main. Gereja harus bertransformasi menjadi studio PH dalam sekejap, tim ibadah yang biasa mengatur waktu pelayanan di akhir pekan, sekarang harus jumpalitan membagi waktu WFH/WFO dengan shooting yang umumnya terjadi di hari kerja; dan, para GSM harus mencari akal ‘memenangkan’ anak-anaknya yang sudah zoom fatigue karena sekolah online Senin-Jumat. 


                                                         



Demikian juga dengan bentuk pelayanan lain yang memerlukan perjumpaan secara langsung - kedukaan, contoh paling umumnya. Aktivis/pelayanan termuda lah yang biasa disodorkan untuk terjun ke lapangan, berlandaskan iman yang besar pada imun mereka, padahal yang muda pun sudah terjerumus dalam dosa kolesterol, darah tinggi dan asam urat.

Para pemuda aktivis GKI, your church relies on you now. Jalan ninjamu mungkin melelahkan dan minim apresiasi, namun mimin nggak pernah melihat peran pemuda menjadi se-vital ini di dalam gereja sebelumnya. So, here it is. Yuk bagikan ceritamu, kesaksianmu, tips-tipsmu dan mari saling mendukung agar kita maju bersama.

Ya, di 2021, setelah hampir setahun digital ministry di gereja kita masing-masing berlangsung, bisa jadi inilah momen to step up the game. Seharusnya kita sudah nggak ‘kaget’ lagi, masa adaptasi telah lewat, saatnya optimalkan segala potensi untuk menghadirkan ruang-ruang perjumpaan dengan Tuhan yang dirindukan oleh jemaat segala usia lewat kreativitasmu.

Cara berkontribusi sangat mudah, untuk mengunggah tulisan, login saja ke situs IGNITE GKI dan buka menu New Article. Untuk mengunggah seni visual, podcast monolog, maupun video, silakan hubungi admin Ignite GKI melalui e-mail ([email protected]) atau direct message Instagram dan chat Facebook.


Semangat!



 

RELATED TOPIC

LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER