Tetap Mengasihi, Sekalipun Tidak Bersama

Best Regards, Live Through This, 07 July 2019
Jauh bukan berarti tidak setia. Dekat bukan berarti harus memiliki. – Prof. Panut Mulyono

Intensitas pertemuan dengan seseorang bisa mengarah pada dua hal: menjadi semakin mudah bergesekan, atau muncul benih cinta di antara kedua (atau salah satu)-nya.

I hate to say this, but it’s a truth.

Dari sekian relasi yang kujalani, ada sebuah relasi yang kusadari berpotensi mengarah pada pilihan kedua. Tapi bagaimana mungkin aku bisa melepaskan diri darinya, kalau aku dan dia terlibat dalam kegiatan yang sama plus waktu yang cukup lama? Lebih parahnya lagi, aku juga sudah berpacaran dengan orang lain. What a perfect thing!

Di awal pelayanan kami, aku tidak merasakan apa-apa terhadap teman laki-lakiku itu—meskipun aku sempat curhat pada mentor rohaniku karena takut mencintai dua orang sekaligus. Tapi di tahun kedua, aku melakukan kesalahan fatal karena membuka celah adanya komunikasi yang lebih intens. Itu pun karena aku tahu bahwa dia menyukai orang lain—dan itu bukan masalah bagiku, awalnya. Toh aku juga sudah punya pacar. (Percayalah, satu pacar saja sudah cukup).

Karena terlibat dalam pelayanan yang sama, aku cukup sering berkomunikasi dengan temanku itu. Apapun bisa kami bahas; mulai dari masalah pelayanan, keadaan generasi muda saat ini, sampai soal hati (well, yang terakhir aku lebih banyak menyimak karena aku tidak berani bercerita lebih jauh tentang hubunganku dengan sang kekasih). Aku menikmati setiap obrolan kami, dan aku melakukannya dengan kesadaran penuh, “Dia cuma temen, kok. Nggak salah kan, kalo mau ngobrol aja? Aku bisa jaga hati, kok. Toh yang lain juga bisa ngobrol bebas sama orang yang bukan pacarnya.

Ternyata aku salah.

Masalah mulai jadi serius ketika aku merasa dia agak menjauh setelah aku pulang dari kegiatan antar semester. Well, selama kegiatan itu, sebagai teman yang baik, aku memang masih berkomunikasi dengannya (di samping dengan pacar, tentunya). Makanya aku jadi canggung setelah dia terasa menjauh dariku. Ada hal lain yang juga ditunjukkannya dan itu sempat membuatku penasaran sampai aku bertanya pada dua temanku. Salah satu di antaranya berkata, “Yaa… aku juga jarang kontak-kontakan sama dia, sih. Mungkin ada masalah yang bikin dia kayak gitu.” Oke, baik… walaupun sebenarnya aku tidak puas dengan jawaban itu.

Tahu klimaks dari rasa penasaranku?

Aku memutuskan untuk putus.


Pacarku jelas muring-muringan balik, tidak memahami bagaimana perkaranya sampai akhirnya dia bertanya, “Aku nggak akan marah kalo kamu jawab jujur… ada orang lain kah?

Jujur saja, aku tidak ingin membohonginya, tapi juga belum siap untuk mengakui kenyataan itu. Jadi aku hanya menjawab, “… mungkin.” Perdebatan berikutnya terasa menjemukan; ingin menangis tidak bisa, tapi ingin berkata “sayonara” juga tidak mungkin. Perasaanku benar-benar sudah tumpul. Mungkin itu pertama kalinya aku mati rasa pada orang yang kucintai.

Tiba-tiba, dia menulis (kurang lebih) begini, “Coba dipikirin lagi, ya. Mungkin ini karena kita udah jadiin perasaan buat pondasi hubungan kita, bukan Tuhan lagi.”

Aku menahan napas.

Dia benar.

Tanpa aku sadari, emosiku menguasai cara berpikirku terhadap hubungan kami. Meskipun aku cukup sering membahas tentang how to have a Christ-centered relationship di media sosial, pada kenyataannya aku juga sering gagal melakukannya. Aku lupa bahwa adanya keinginan-untuk-diperhatikan-oleh-orang-yang-dicintai memang wajar, tapi bukan berarti dia yang menjadi pemuas hatiku. Mungkin ini yang menyebabkan aku sedikit berpaling pada orang lain, saat aku merasa perhatian yang diberikan pacarku tidak mencukupkan rasa hausku.

Photo by Hunter Newton on Unsplash

Singkat cerita, aku minta maaf padanya dan kembali belajar membangun cinta bersamanya. Kali ini, bukan perasaan yang jadi dasarnya, tapi Tuhan. Kami tidak lagi mengutamakan asumsi belaka, melainkan terus berjuang untuk mengimani bahwa Dia yang memimpin kami sampai saat ini jugalah satu-satunya cinta yang sejati. 

Baru-baru ini, aku kembali curhat pada mentorku tentang masalah itu. Hanya dengan satu pertanyaan maut, dia menyimpulkan, “Kamu lihat dia cuma karena fisik doang, kan?

DEG. Dia benar.

Meskipun pacarku lebih dewasa secara karakter, tapi temanku memiliki kelebihan dalam hal fisik—sesuatu yang tidak sepenuhnya dimiliki oleh pacarku. Aku masih bergumul mengenainya, terlebih setelah seorang adik tingkatku berkata, “Perbedaan yang nggak kelihatan aja bisa jadi masalah, apalagi yang kelihatan.

Namun pada akhirnya, aku menyadari bahwa benarlah apa yang dikatakan Blaise Pascal, ahli fisika dan matematika,

“Satu-satunya yang dapat memenuhi kekosongan hati kita hanyalah Yesus Kristus.”



Setampan apapun temanku, sedewasa apapun pacarku, dua-duanya tidak dapat memuaskan kebutuhan cinta sesempurna yang Yesus lakukan bagiku. Ketika aku mengingat lagi makna pengurbanan-Nya di kayu salib, itu lebih dari cukup untuk menyadarkanku bahwa aku tetap dicintai meskipun—sebenarnya—tidak layak diperlakukan demikian. Kebenaran ini yang seharusnya kupegang terus dan kuingat setiap kali aku melihat ketidaksempurnaan—sekaligus besarnya kasih—pacarku, dan saat aku merindukan orang lain yang lebih sempurna secara fisik.

Akhirnya aku memutuskan untuk meminimalkan kontak dengan temanku itu, kecuali kalau ada hal urgent yang harus kami lakukan bersama. Sebisa mungkin aku juga menjaga jarak (tapi tetap tidak memutus persahabatan), karena aku tidak ingin semakin dipermainkan oleh perasaanku sendiri (lucunya, kalau aku sudah berpikir begini, tiba-tiba saja dia ada di dekatku. Nggemesin, kan? Hehe). Bagaimana dengan pacarku? Yahh, seperti yang dikatakan mentorku, “Inget-inget sisi positif pacarmu”, pikiranku untuk mendua lagi pupus setelah mengingat hal-hal tersebut. Meski demikian, ada kalanya aku jatuh lagi pada lubang yang sama. Dan saat ini, aku ingin meminta satu hal, If you don’t mind, can you pray for me, please?

Aku sadar ini bukan perkara yang mudah—ditambah lagi aku menganggapnya sebagai sahabat yang sefrekuensi (nggak tahu sih, dia beranggapan sama atau tidak. Hahaha). Namun satu hal yang pasti: Aku percaya ketika aku tetap setia dalam hubunganku sampai akhir, buahnya pun tidak akan sia-sia. Lagipula, temanku itu bukan tipe orang yang mudah mendua hati ketika dia telah menemukan orang yang tepat. Believe me, he is a great man! He just need to find the right woman so they can shine Christ’s love through their relationship!

Jadi, izinkan aku menyampaikan sebuah surat terbuka pada laki-laki itu:



LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER