Trilogy #Secretum Part 1: "Sedikit Saja, Tuhan.."

Best Regards, Live Through This, 15 September 2020
"... for I am gentle and lowly in heart, and you will find rest for your souls." -Jesus Christ

Berbicara tentang kegagalan, saya sangat tertarik dengan konten #PerempuanGagal yang ada di Instagram dan YouTube. Bukan hanya karena yang menjadi narasumbernya adalah kaum perempuan namun juga, bisa melihat bagaimana perempuan hebat di usia muda bisa berterus terang dengan kegagalan-kegagalan yang pernah mereka alami dalam hal asmara, pernikahan, kuliah, pekerjaan, keluarga, pertemanan, menjalankan tradisi agama, dan banyak lainnya. Menurut saya, terlalu banyak kesuksesan yang bisa kita contoh dari banyak tokoh besar di Indonesia maupun dunia di berbagai bidang atau mungkin anggota keluarga yang terlihat sukses dan menjadi standar penilaian bagi orang tua kita alih-alih memotivasi anak-anaknya dengan berkata, “Makanya nanti kamu harus pintar kayak anaknya itu! Jangan mau kalah!” Atau misalnya begini, “Mama dengar sepupumu dapat beasiswa ke luar negeri, kamu bisa ga kayak gitu? Masak sih kamu ga bisa kayak dia?” Dan lainnya yang tak berujung.

Ayu Kartika Dewi, pencetus "#perempuangagal"

Sumber: news.detik.com/berita/d-4803569/ayu-kartika-dewi-ungkap-riwayat-kegagalan-pribadinya-apa-saja


Selalu melihat kesuksesan atau keberhasilan dalam meraih sesuatu tanpa terlebih dahulu diajak untuk melihat bagaimana proses yang dilalui juga tak lepas dari kesulitan, tantangan, bahkan kegagalan yang mungkin tidak sekali atau dua kali saja terjadi. Ya. Memang kita lebih suka dimanjakan dengan cerita kesuksesan siapa pun dan membuat kita kagum bahkan memuja, sebaliknya, jika disodorkan cerita-cerita kegagalan, rasanya kurang memiliki sensasi untuk ingin tahu lebih jauh.

Kenapa begitu? Kalau menurut aku pribadi karena jika aku mengalami kegagalan, aku akan malu, merasa rendah, tidak berguna, dan pastinya menyimpan kegagalan itu sendirian. Jangan sampai ada yang tahu. Berikutnya, karena terbiasa dengan itu, akhirnya terbiasa untuk menyangkal berbagai hal tentang kesulitan atau kegagalan baik dari diri sendiri atau orang lain. Padahal kalau mau benar-benar diresapi, setiap kisah kegagalan memberikan kebijaksanaan tersendiri untuk menjalani hidup dalam segala hal yang tak akan didapati dari sekolah, khotbah di gereja, dan nasihat orang tua. Kebijaksaan  bagiku sangat personal dan membekas penuh makna sebagai pelajaran penting ke depannya.

Tanpa disadari, semua kita adalah ORANG GAGAL. Sadarkah? Hmm sebentar.. GAGAL apa nih maksudnya? Kok bisa-bisanya bilang SEMUA ORANG GAGAL?!


Ya. Salah satu kegagalan terbesar kita semua adalah KITA SEMUA BERDOSA. Sama dengan kalimat yang telah aku sebutkan sebelumnya, kalau melihat atau tahu ada orang lain berdosa, apa respon kita? Kadang kita akan cepat untuk mencemooh, menertawakan, atau bahkan bisa menjadi seperti panitia surga yang dengan mudahnya melemparkan ayat Alkitab atau penilaian subjektif dan merasa diri sendiri paling benar.


“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”.

Roma 3:23

Ayat yang selalu menjadi ayat hafalan berjuta umat di dunia ini. Tapi, ayat ini sering kali membuat telunjuk kita menunjuk pada orang tua kita, pacar atau pasangan kita, saudara, teman, sahabat, orang lain, artis-artis, dan para penjahat di luar sana. Namun, apakah kita sendiri sadar bahwa “semua orang telah berbuat dosa” merujuk pada semua pribadi termasuk yang tak lain dan tak bukan adalah diri kita sendiri. “Ah, kalaupun aku berbuat dosa, dosaku mah kecil aja. Bohong beberapa kali aja. Aku ga membunuh kok”. Penyangkalan terjadi.

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita” - 1 Yohanes 1 : 8. Rasanya, Tuhan tak pernah membuat klasifikasi tentang dosa kecil, agak kecil, sedang, atau apapun itu namanya. Apa manusia yang ingin selalu terlihat benar pada akhirnya kreatif membuat klasifikasi itu? Bahkan kalau kita membaca Yakobus 4:17, “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa”. Jelas sekali bagaimana kalau kita punya niat saja dan memilih tidak melakukannya, itu sudah menjadi dosa di hadapan Tuhan. Kira-kira sudah berapa niat untuk berbuat baik yang kamu punya tapi tidak dilakukan?

Dalam proses pengembaraan di hidupku, aku merasakan Tuhan meraihku dengan caraNya agar aku tidak hanya tahu tentang dosa yang sudah ribuan kali aku dengar tapi tak memahami bagaimana sebenarnya dosa di hadapan Tuhan. Ia sangat membenci keberdosaanku apalagi ketika dalam otak dan hati sudah mulai berkompromi, “Sedikit saja, Tuhan. Aku bohong sedikit. Aku nafsu sedikit. Aku memberontak sedikit. Aku malas sedikit” dan sebagainya. Ditambah lagi, apakah dengan semua pelayananku pada akhirnya aku bebas dari dosa? Justru semakin banyak pelayananku, semakin banyak dan besar dosa yang bisa kulakukan. Inilah fakta yang sangat jujur yang aku dapatkan dari bagaimana Tuhan akhirnya membuatku berhenti sejenak, mengambil waktu untuk merenung, dan kembali belajar bagaimana dosa sangat merenggut kemuliaan Allah dalam hidupku. Kalau diingat lagi, tak terhitung orang yang aku sakiti dengan perkataan satirku dan bahkan tak lagi memiliki relasi yang baik denganku.

Sumber: https://restoration.or.id/2019/11/18/dosa-warisan-yang-menentang-pengenalan-akan-allah/


Ketika Tuhan meraihku untuk  mengambil langkah agar aku melakukan self-healing dengan suatu metode yang aku pilih, aku semakin tersadar bahwa bahayanya dosa bukan hanya dalam hidupku sendiri sebagai pribadi. Rantai dosa bisa juga menjadi pola hidup yang berulang entah dari generasi pendahulu baik yang masih hidup atau sudah meninggal dan jika rantai dosa itu tidak diputus dalam diriku, itu juga bisa terbawa sampai ke keturunan-keturunan selanjutnya. dan, jika aku telusuri, itu memang terjadi di dalam hidupku, dan rantai dosa yang belum putus itu akhirnya menjadi sinful nature (dosa yang menjadi kebiasaan atau karakter) dalam hidupku berpuluh-puluh tahun. Syukurlah, Tuhan menggerakkan aku untuk menjalani "penyembuhan" dan transformasi diri di dalam mengenal dosa-dosa yang ada di hidupku baik sebagai konsekuensi rantai dosa dari generasi pendahuluku atau memang yang terjadi akibat penyangkalan diriku terhadap banyak hal.

Mari ambil waktu sejenak untuk melihat lagi, di area apa dalam hidup kita, yang setelah kita telaah lagi, ternyata didapati adanya rantai dosa yang masih terus mengikat atau kejatuhan kita sendiri dalam dosa yang mendukakan hatiNya?


Dosa adalah penghambat keselamatan


“1. Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; 2. tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” Yesaya 59 : 1-2



Secretum berarti “sendiri” dalam bahasa Latin. Trilogi ini mengajak kita fokus pada diri sendiri mengambil waktu sejenak kelak bisa berdialog dengan diri sendiri juga Tuhan...

LATEST POST

 

            Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga di Malang mend...
by Yawan Yafet Wirawan | 20 Oct 2020

"Aku yakin kamu pasti senang kalau orang lain menganggap kamu ‘incredible’!"(...
by Timothy Aditya Sutantyo | 20 Oct 2020

Mungkin aku hanyalah seorang mahasiswa biasa dan masih jauh sekali untuk membicarakan pernikahan. Te...
by Yeheskiel Dewabrata | 19 Oct 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER