Membuktikan Diri Sebagai Pelayan-Pelayan Tuhan

Best Regards, Live Through This, 17 August 2020
Status sebagai pelayan Tuhan adalah suatu kebanggaan. Kebanggan untuk siap menderita, siap melakukan tugas yang berat dan menerima tanggung jawab yang besar.

Adalah sebuah kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri jika di dalam dunia pelayanan gereja, kita mendapatkan kepercayaan sebagai ‘pelayan Tuhan’. Beberapa bahkan terjebak dengan rasa iri, cemburu dan tak sedikit yang merasa underused hanya karena tidak ada kesempatan untuk menjadi seorang ‘pelayan Tuhan’.

Beberapa mengaggap bahwa status sebagai ‘pelayan Tuhan’ di gereja adalah sebuah kebanggaan. Katakanlah, menjadi ketua majelis, pemimpin komisi, pemain musik, pemuji, fulltimer bahkan sampai pelayanan di kepanitiaan acara-acara khusus di gereja. Tak heran, jika karena status menjadi seorang ‘pelayan Tuhan’ seringkali justru menimbulkan konflik dan permasalahan di antara jemaat.

Saya justru melihat hal yang lebih mengherankan. Beberapa pelayan Tuhan masa kini berlomba-lomba membuktikan dan menunjukkan kepada publik bahwa mereka adalah seorang pelayan Tuhan gereja A, gereja B dan itu adalah kebanggaan tersendiri bagi mereka.  Mereka juga sering menampilkan pada media sosial mereka, bahwa mereka sedang melakukan pelayanan pujian, permainan musik, bakti sosial, usher, menyampaikan firman Tuhan, dan lain sebagainya. Bagi saya, tidaklah salah jika kita melakukan hal tersebut, namun terkadang kita melakukannya karena ingin membuktikan kepada banyak orang bahwa kita adalah seorang ‘pelayan Tuhan’ di gereja tertentu dengan cara selalu eksis di media sosial. Dengan banyak cara, kita menampilkan (posting) foto-foto dan video pelayanan terbaik kita hanya karena kita ingin dilihat sebagai seorang aktivis gereja yang aktif.


Saya pribadi, sebagai seorang yang pernah melayani Tuhan bahkan dikenal sebagai pelayan Tuhan begitu keras, diingatkan bahwa status ‘pelayan Tuhan’ adalah suatu kebanggaan namun bukan untuk dibangga-banggakan alias dipamerkan. Bahkan menurut saya, menjadi pelayan Tuhan adalah sebuah tanggung jawab yang besar sekaligus berat. Status sebagai 'pelayan Tuhan' memiliki dua aspek kebanggaan, yaitu kebanggaan menanggung tanggung jawab yang besar sekaligus kebanggaan melakukan tugas yang berat pula.

Paulus menuliskan dengan tegas ketika melayani di kota Korintus bahwa ia adalah seorang pelayan Allah. Bahkan, Paulus membuktikan dirinya sebagai seorang pelayan Allah dengan menunjukkan hal sebagai berikut:

Yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran  dalam menanggung dera, dalam penjara   dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa;  dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus  dan kasih  yang tidak munafik; dalam pemberitaan  kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan   untuk menyerang ataupun untuk membela  ketika dihormati dan ketika dihina;   ketika diumpat  atau ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu,   namun dipercayai,  sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita;  sebagai orang miskin  , namun memperkaya  banyak orang; sebagai orang tak bermilik,  sekalipun kami memiliki segala sesuatu. (2 Korintus 6:4b-10)

Paulus dengan jelas memberikan gambaran bagaimana jati dirinya sebagai pelayan Tuhan. Kita dapat melihat sebuah paradoks dengan keadaan pelayan-pelayan Tuhan masa kini. Beberapa dari 'pelayan Tuhan' itu memilih  untuk tidak repot, tidak susah, dan maunya diperlakukan secara VIP. Mereka hanya mau melayani dengan orang tertentu yang kooperatif, maunya melayani dengan imbalan, agar dapat fasilitas, agar dapat popularitas, atau hanya mau melayani di gereja-gereja tertentu saja.

Saya sempat berpikir, apakah karena kemajuan dan perubahan zaman, status pelayan Tuhan juga ikut mengalami perubahan?

Tidaklah salah menjadi terkenal karena melayani Tuhan. Tidaklah salah jika kita berpikir bahwa dengan menjadi pelayan Tuhan, kita diberkati. Namun, kita harus sadar, bahwa membuktikan diri sebagai seorang pelayan Tuhan dengan sungguh-sungguh dilakukan bukan hanya untuk menunjukkan diri dan eksis dalam media sosial ketika sedang melayani. Lebih lagi, dalam status kita sebagai ‘pelayan Tuhan’, sudahkah kita siap menanggung hal-hal yang menyakitkan bahkan hal-hal yang tidak enak untuk dapat kita terima dengan sabar, sukacita, dan tetap bersyukur kepada Tuhan?

Ataukah kita merasa karena status kita sebagai pelayan Tuhan adalah kebanggaan sehingga dengan wajar jika kita menunjukkan dan membuktikan kepada banyak orang bahwa kita adalah seorang yang sibuk dalam pelayanan dan selalu dibutuhkan oleh gereja?

Bagi saya, kebanggaan menjadi seorang pelayan Tuhan tak sekadar  menjadi sebuah popularitas dan berharap agar dihormati banyak orang, namun kebanggaan untuk siap menderita dan menanggung hal-hal yang tidak enak dengan penuh kesabaran dan bersukacita.

LATEST POST

 

Sebuah Pertemuan23 Januari 2019, GKI Gunung Sahari. Sekitar 1 tahun yang lalu, aku mengenal mereka,...
by Jonathan Joel Krisnawan | 22 Sep 2020

Ignite People, awal tahun ini menjadi tahun yang kurang menyenangkan untuk kita. Tidak hanya kurang...
by Regina Megumi Tandiari | 22 Sep 2020

Melayani remaja bisa dibilang merupakan hal yang paling menantang di zaman ini. Aku merupakan seoran...
by Noni Elina | 22 Sep 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER