Crazy Rich Christians : Memiliki Privilege itu Dosa??? (Part 1)

Best Regards, Live Through This, 17 July 2020
Sadar atau tidak sadar Tuhanlah sang pemberi privilege itu. Bagaimana kita menyikapinya?

In collaboration Priska Aprilia -  Marcella Liem

Menurut kamus Cambridge, privilege adalah sebuah kata benda (noun) dan memiliki arti sebuah keuntungan yang dimiliki oleh satu orang dan satu golongan karena jabatan atau karena kekayaan materi. Selain diartikan dengan keuntungan, privilege juga diartikan dengan kesempatan untuk melakukan kegiatan yang spesial.

Sebuah privilege dirasakan dari kehidupan manusia sedari dini, contohnya seperti mendapat pendidikan yang baik layak sedari dini, terpenuhinya kebutuhan primer (sandang, pangan, papan) dan sekunder, tumbuh besar di lingkungan yang layak, dididik di keluarga yang harmonis dan sebagainya. Namun, sayangnya tidak semua orang memiliki hal tersebut.

Si Kaya vs Si Miskin

Pada kenyataannya di kehidupan kita terjadi ketimpangan sosial, ada perbedaan kelas sosial antara si kaya dan si miskin. Si kaya memiliki privilege seperti mendapat pendidikan yang baik berupa sekolah yang mahal dan berkualitas sedari dini sampai dewasa, mendapat mainan yang mahal saat kecil, rasanya kehidupan si kaya ini baik-baik saja karena semua tersedia di hadapannya.

Namun, untuk si miskin dalam mendapatkan privilege, harus mengalami perjuangan yang jatuh bangun, “berdarah-darah”, dan mengeluarkan air mata. Mulai dari harus mengamen, berjualan dan tidur di pinggir jalan, dimaki-maki orang, bahkan untuk makan di hari itu pun harus berjuang dengan susah payah. Hal itu memang menjadi pil pahit, namun menjadi alasan mereka untuk berjuang mengubah nasib ke arah yang lebih baik. Ketimpangan inilah yang memacu kita berpikir demikian.

“Andai saya hartanya banyak seperti pengusaha X… Mungkin hidup saya akan baik-baik aja, saya bisa hidup enak tanpa mikir besok harus makan apa”.

“Seandainya uang saya banyak seperti dia, saya tidak perlu pusing dengan urusan pembayaran cicilan”.

Sayangnya, kita tidak menyadari hal-hal seperti di atas hanya kelihatannya saja. kita seringkali lupa proses untuk menggapai privilege yang demikian. Kita hanya melihat result atau hasil daripada proses perjuangan dan penderitaan yang berada di baliknya.

credit: pinterest.com 

Pada kondisi ini, memang ada beberapa orang yang memiliki “kekayaan yang diturunkan” dari generasi terdahulunya. Namun ada juga beberapa orang yang mendapatkan itu melalui proses perubahan strata sosial dan ekonominya sehingga menjadi mereka yang seperti sekarang. 

Apakah Tuhan Menciptakan Orang Kaya?

' Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demikian juga ia akan pergi, telanjang seperti ketika ia datang, dan tak diperolehnya dari jerih payahnya suatu pun yang dapat dibawa dalam tangannya. '

Pengkhotbah 5:14 (TB)

Tuhan tidak menciptakan si kaya dan si miskin, semuanya sama di mata Tuhan. Kita semua lahir sebagai bayi yang telanjang keluar dari rahim ibu kita dan tidak ada perhiasan yang menempel di tubuh kita. Walaupun ada orang yang lahir di kondisi yang berkelimpahan, tetap saja harta itu bukan miliknya tapi milik orang tuanya. Hal yang sama terjadi saat Tuhan sudah memanggil kita ke surga, harta, materi, bahkan yang kita dapatkan dengan privilege  kita tidak bisa kita bawa ke surga. 

Sayangnya, hal seperti ini sering dilupakan. Banyak orang yang memiliki sebuah privilege dan dijadikan sebuah patokan sebuah kesuksesan karena privilege-nya itu. Sehingga, ada orang yang bersungut-sungut akan  kehadiran orang-orang ini. 

Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.

Siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi; siapa tidur pada waktu panen membuat malu.

Amsal 10 : 4 -5

Kerajinan dan ketekunan kita lah yang menjadikan kita si kaya dan si miskin. Memang ada beberapa si Kaya yang sudah memiliki “harta keturunan” dari generasi sebelumnya. Namun apa jadinya jika ia tidak berhikmat menggunakan harta tersebut? Sia-sia bukan? Begitu pula sebaliknya, si miskin mungkin memang tidak memiliki apa-apa, namun ketika ia rajin dan tekun, terlebih lagi, jika mengandalkan Tuhan sang pemberi berkat, mungkin hasilnya akan berbeda.

Kepemilikan yang Sementara

Sebagai orang percaya, kita tentu tahu kisah Lazarus dan orang kaya (Lukas 16 : 19-31). Kisah itu menggambarkan seorang yang kaya akan harta yang dimilikinya dan Lazarus yang miskin dan menderita, namun saat meninggal Tuhan meninggikan Lazarus dan orang kaya itu berada di api neraka. 

Apakah gunanya uang di tangan orang bebal untuk membeli hikmat,

sedang ia tidak berakal budi? - Amsal 17 : 16

Tuhan tidak pernah menentang kita menjadi si Kaya yang memiliki harta dan ber-privilege, namun Tuhan mengecam jika harta baik privilege itu menjadikan kita orang yang tamak dan enggan mempedulikan sesama kita yang tidak memiliki hal tersebut atau menindas mereka yang berkekurangan. Di mana posisi harta lebih tinggi dari Tuhan dan menjadikan hal itu adalah sandaran hidup. Ingatlah bahwa akar dari segala kejahatan adalah cinta  uang, termasuk hal nya privilege. Pada akhirnya privilege ini bersifat sementara dan tidak dapat dibawa oleh kita saat menghadap Bapa di surga nanti.

Privilege yang kita nikmati sekarang ini adalah pemberian dari Tuhan. Tugas kita adalah mengelolanya memberkati dan membangun sesama kita yang tidak memiliki privilege seperti kita.

Karena hikmat lebih berharga dari pada permata,

apa pun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya. 

Amsal 8 : 11

Hikmat adalah privilege yang diberikan Allah kepada kita yang seharusnya kita kelola dalam hidup kita. Hikmat pula-lah yang dapat kita wariskan untuk generasi selanjutnya, karena hikmat lebih berharga dari berharga dari kekayaan kita. Tanpa hikmat harta yang kita kumpulkan hanya bernilai kesia-siaan.

Tuhan memberikan banyak privilege untuk kita, walau berbeda bentuknya. Masing-masing orang memiliki privilege yang berbeda dan sebagai manusia tidak layak kita membandingkan privilege kita dengan orang lain. Hendaknya kita berhikmat dalam mengelola pemberian Sang Pemberi Privilege dan menjadi berkat bagi sesama.

Soli Deo Gloria !

LATEST POST

 

"Ibadah seharusnya memelihara kehidupan bukan malah mengancam kehidupan"Minggu, 19 Juli 20...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 11 Aug 2020

Lee Ha-yi, atau yang lebih dikenal dengan nama Lee Hi, merupakan seorang singer-songwriter asal Kore...
by Jerell Michael Cussoy | 11 Aug 2020

Sudah bertahun-tahun aku melihat anakku terkulai lemah di atas ranjangnya. Tubuhnya panas, sewaktu-w...
by Hendrik Siboro | 11 Aug 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER