Love is Money

Best Regards, Live Through This, 16 July 2020
Harta bukan sekadar tempat hati kita berada, melainkan juga tempat hati kita mengada.

Money can’t buy you love”—Ah, masa?

Menurutku, konyol saja sih jika kita berungkapan begitu sekarang ini. Kuduga, yang masih bilang begitu adalah orang-orang yang duitnya memang belum cukup buat membeli cinta. Lagipula, yang kita kira berduit sebukit belum tentu cukup modal untuk belanja cinta. Alasannya mungkin karena produk yang didamba belum ada atau sederhana saja: pelit. Memangnya alat make up dan skincare itu nggak bisa bikin pasangan kita mencintai kita? Ya jelas nggak bisa, kalau pacar saja kita nggak punya.

https://unsplash.com/photos/-8a5eJ1-mmQ


Ok, cukup. Yang hendak kukatakan adalah sebenarnya dengan sejumlah dana, kita bisa membeli cinta. Sekarang ini, cinta itu bisa berwujud likes dan reposts, followers dan subscribers. Nggak cuma di dunia malam, di dunia maya kehausan cinta kita juga bisa dipenuhi kok oleh para penyedia jasa. Ada permintaan, ada juga penawaran. "Palu gada: apa aja yang lu mau, gue ada."


Our new currency

Nah, ternyata likes, reposts, followers, dan subscribers itu nggak cuma jadi produk, barang yang kita beli. Mereka itu juga seperti IDR, USD, EUR, atau bahkan Bitcoin di pundi-pundi kita. Mereka itu mata uang yang bisa buat membeli hal-hal lain, termasuk cinta.

Kita yang adalah pejuang medsos bisa membangga-banggkan itu di depan kerabat dan sobat kita, khalayak berisik yang diam-diam juga suka ngejulidin dan ngegibahin kita. Kita bisa membeli cinta mereka dengan menunjukkan angka-angka likes, reposts, followers, dan subscribers kita. Mereka kagum lalu jatuh cinta, serupa dengan ketika sudah kita suplai dengan make up dan skincare—dan filter, kalau kelewat parah. 

Nggak cukup sampai di situ, buat beberapa orang, "mata uang" itu sungguh-sungguh bisa menarik mata uang sungguhan. Ada yang mencari nafkah sebagai youtuber, ada juga yang mendapat endorse-an gara-gara dinilai layak jadi influencer. Kalau sudah sampai di titik ini, masihkah kita berani bilang “money can’t buy you love”? Iya sih, “my money can’t buy you love”. I earned it, you tukang rebahan!


Checking our balance

Ada juga ungkapan lain, “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Buatku, ungkapan ini adalah suatu ajakan buat melihat apa yang sebenarnya berharga buat kita, bahkan di balik apa yang kita anggap berharga.

Gampangnya sih begini. Kita mungkin berpikir, duit itu berharga, lebih lagi kalau kita sudah bekerja sendiri, bersusah-payah mendapatkan dan mengumpulkannya. Masalahnya, ternyata kita masih menukarkan duit kita dengan hal yang lain. Kalau begitu, ada dong yang lebih berharga daripada duit kita, sampai-sampai kita rela menggusur kehadirannya dengan yang lain?

Oleh karena itu, coba kita lihat ke mana duit kita paling sering dan paling besar keluar! To be honest, duitku paling rajin pergi ke toko buku dan toko musik; apakah kemudian buku-buku itu dibaca atau apakah lagu-lagu itu didengar sepanjang masa, itu urusan lain. Pendeknya, hartaku adalah buku dan lagu. Ya, kalau lagi kaya, beli oplosannya: film, tapi kalau mau hemat, beli oplosannya yang agak murah: buku lagu.

Persoalannya nggak berhenti di situ. Seperti hal-hal lain dalam kehidupanku, buku dan lagu hanyalah bentuk, manifestasi dari “harta” yang sejati, hal yang paling berharga. To be honest versi beta, bagiku yang lebih berharga adalah imajinasi. Buku dan lagu adalah jalan yang menyediakan itu untukku. Ketika membaca buku atau mendengarkan lagu, atau membaca buku sambil mendengarkan lagu, atau sebaliknya membaca lagu sambil mendengarkan buku, aku bisa terlepas dari dunia yang menekan sambil masuk ke dunia lain, ke dunia buku dan lagu itu. Nah, harta yang paling berharga—mungkin setelah keluarga—adalah ketika ide-ide lahir dari imajinasi itu. Di sinilah aku belajar, berinvestasi pada buku-buku dan lagu-lagu bisa menghasilkan tulisan dan nyanyian baru. Dengan kata lain, harta yang baik adalah yang bisa menghasilkan harta lagi.


https://unsplash.com/photos/vVIwtmqsIuk

God is what we’ve got

Terakhir, soal Tuhan, periksa juga, apakah Dia harta terbaik dalam kehidupan kita atau justru Dialah yang memberi harta terbaik kita itu?

Harta kita bukan sekadar tempat hati dan perhatian kita berada, melainkan jadi tempat hati dan perhatian kita mengada, menghasilkan hati yang baru—untuk kita sendiri dan untuk dia dan mereka.


LATEST POST

 

"Ibadah seharusnya memelihara kehidupan bukan malah mengancam kehidupan"Minggu, 19 Juli 20...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 11 Aug 2020

Lee Ha-yi, atau yang lebih dikenal dengan nama Lee Hi, merupakan seorang singer-songwriter asal Kore...
by Jerell Michael Cussoy | 11 Aug 2020

Sudah bertahun-tahun aku melihat anakku terkulai lemah di atas ranjangnya. Tubuhnya panas, sewaktu-w...
by Hendrik Siboro | 11 Aug 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER