Media Sosial dan Ghosting

Best Regards, Live Through This, 02 May 2020
Kamu teramat berharga Kamu terlampau mempesona Kamu amat menawan Kamu terlalu indah

Tahukah kamu salah satu kegiatan yang belakangan ini banyak dilakukan oleh orang-orang selama masa karantina mandiri di rumah? Dalam circleku, banyak teman-temanku yang justru mencari teman chatting baru. Awalnya menyenangkan, lama-lama malah mulai halu (alias halusinasi; membayangkan jika saja mereka bertemu dan menjadi teman nyata, bahkan mungkin bisa melanjutkan hubungan lebih jauh lagi. Duh sudah sudah, jangan ngehalu lagi!) Setelah masa-masa halu terlewati, datanglah masa-masa jarang chatting, hingga seiring berjalan waktu, poof! Orang tersebut menghilang tanpa jejak, blablabla. 

Apakah kamu pernah ditinggalkan oleh teman chatting dan kamu pun mulai bertanya-tanya, “Apa sih yang salah dari aku sampai-sampai dia pergi begitu saja tanpa memberi sedikitpun kabar?” Jika iya, berarti kamu pernah merasakan ghosted, alias menjadi korban dari seseorang yang melakukan ghosting

Apa itu ghosting? Ghosting adalah sebuah jalan pintas untuk menghakhiri sebuah perkenalan atau pertemanan dan bahkan sebuah kencan, dengan cara memutus semua jalur komunikasi dengan seseorang. Sederhananya begini, jika kamu ghosting, berarti kamu tidak akan lagi menanyakan sesuatu padanya terlebih dahulu; baik kabar ataupun kegiatan hari ini. Kedua, jika kamu ghosting, maka kamu tidak akan menerima semua telepon dan tidak membalas pesan apapun dari seorang yang ingin kamu jauhi. Ketiga, ghosting juga bisa lho sampai pada tahap memblokir semua sosial media seseorang yang ingin kamu hindari, sehingga benar-benar tidak ada lagi lajur komunikasi antara kamu dan orang tersebut.

Ghosting biasa dilakukan dengan alasan menghindari konflik atau pertengkaran yang tidak diinginkan. Sayangnya, cara seperti ini justru toxic, tidak mendewasakan dan bahkan merupakan cara yang sangat kekanakan untuk melarikan diri dari masalah. Ghosting adalah bukti nyata dari sebuah ketakutan untuk menghadapi kemarahan, kekecewaan dan menyelesaikan konflik dengan pembicaraan yang jelas dan terbuka. Ketakutan ini justru menimbulkan berbagai kecemasan terhadap pelaku ghosting dan juga orang yang menjadi korbannya.

Semua berawal dari kebosanan, lalu mencari teman chattingan tapi rasanya sama sekali tidak menyenangkan ketika berakhir menjadi korban ghosting. Aku tidak akan bahas lebih jauh dari sisi pelaku, tapi aku ingin menyoroti perasaan yang mungkin muncul dalam benak korban ghosting. Dari banyak cerita teman-teman penulis, tidak sedikit dari mereka yang merasa cukup kebingungan dan merasa dirinya kurang baik bahkan kurang asyik untuk dijadikan teman.

Hei, hei! Jika kamu pernah merasakan hal itu atau mungkin sedang merasakannya, izinkan aku tegaskan satu hal saja padamu:

Kamu teramat berharga

Kamu terlampau mempesona

Kamu amat menawan

Kamu terlalu indah

“Oke, pit. Itu gak cuma satu hal sih.”

Nope. Itu satu hal. Sebab berharga, mempesona, menawan, dan indah, semuanya menyatu dalam dirimu.”

Rasa tidak percaya diri, ketakutan untuk kembali memulai pertemanan dengan orang baru, baik dari media sosial ataupun teman yang berkenalan secara langsung seringkali menjadi kendala bagi orang-orang yang pernah menjadi korban ghosting. Rasa sakit bahkan traumanya tidak semudah itu untuk segera pulih. Ada banyak orang yang sangat menghargai relasi dan sama sekali tidak bisa mengerti mengapa dirinya dijauhi. Ada begitu banyak orang baik yang akhirnya mulai memandang rendah dirinya sendiri karena merasa gagal dalam pertemanan. Mungkin kamu salah satunya. Mungkin juga temanmu pernah menjadi korban pula. Padahal, tidak ada yang salah dengan dirimu.

Let me tell you this. Keindahanmu, kecerdasanmu, segala yang baik dalam dirimu tidak bisa dinilai dari seorang yang menjauhimu dan meninggalkanmu hanya karena mereka bosan atau memang tidak terbiasa dengan hubungan dalam waktu yang lama. Kepergian tiba-tiba dari mereka tanpa kabar dan tanpa jejak sama sekali bukan salahmu. Tidak perlu kau tanyakan lagi apakah ada yang salah dengan dirimu. Tidak perlu. Ini bukan salahmu. Ini hanya pilihan bodoh dari segelintir orang yang tidak mengerti betapa bahagianya bisa bersamamu. Jangan biarkan orang-orang yang begitu mudah menghilang dari hidupmu tanpa alasan, menjadi alasan bagimu untuk takut memulai relasi baru :)


Peluk hangat untuk kalian,

gmp


LATEST POST

 

"Kala kucari damaihanya kudapat dalam Yesuskala kucari ketenanganhanya kutemui di dalam Yesusta...
by Grifith Mercia | 25 Nov 2020

Kalau saja namanya bisa ditukar dan menjadi keadaan ibunya, Gia akan senang hati menukarnya walau mu...
by Surya Hadi | 25 Nov 2020

Pagi itu, aku hendak berangkat ke gereja dan melihat ada yang berbeda dari helm papaku. Ada stiker b...
by Emmanuela Angela | 25 Nov 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER