Outbreak, Kebaktian Ditiadakan?

Best Regards, Live Through This, 17 March 2020
“Masa-masa seperti ini jadi momen untuk mensyukuri bahwa ‘bertemu’ pun sangat berharga”.

COVID-19, disebabkan oleh virus yang bernama SARS-CoV-2. Virus yang bersaudara dengan virus penyebab SARS dan MERS ini menghebohkan seluruh dunia sejak persebarannya di Wuhan ditemukan akhir Januari lalu. Berdasarkan data per 16 Maret 2020, virus ini sudah menjangkit 146 negara, lebih dari 164 ribu kasus, dengan jumlah orang sembuh mencapai lebih dari 7.000 orang dan kematian lebih dari 6.000 jiwa. Di Indonesia sendiri, sudah ditemukan lebih dari 100 kasus, dengan 8 orang sembuh dan 5 kasus kematian.

Peta persebaran negara terdampak COVID-19 per 16 Maret 2020. Sumber: CDC.

Menanggapi kasus COVID-19 yang makin merebak, banyak pihak mulai menetapkan pembatasan kegiatan. Di bidang pendidikan, sekolah diliburkan, kampus menerapkan e-learning, bahkan banyak kegiatan kampus yang dibatalkan, seperti wisuda dan orasi ilmiah. Beberapa kantor menetapkan sistem WFH (work from home). Bagi yang terpaksa tidak bisa bekerja dari rumah, harus benar-benar dalam keadaan yang sehat atau tidak akan diijinkan bekerja di dalam kantor. Beberapa pertemuan agama sudah dibatasi dan difasilitasi dengan hand sanitizer.

Dan bagaimana dengan gereja? Saat ini sudah ada gerakan “namaste” pada sesi salam damai, untuk menghindari kontak tangan satu dengan yang lain. Mulai minggu Prapaskah 3 (15 Maret 2020), beberapa gereja yang lokasinya berada di sekitar daerah dengan kasus positif sudah tidak mengadakan kebaktian umum. Dan berdasarkan Pertemuan Majelis GKI Sinode Wilayah Jawa Barat pada 16 Maret 2020, kegiatan kebaktian umum bagi jemaat GKI Sinode Wilayah Jawa Barat secara fisik ditiadakan pada tanggal 22 Maret 2020 dan 29 Maret 2020.

Mendengar berita itu, mungkin banyak jemaat GKI yang merasa sedih karena tidak bisa melakukan ibadah yang biasa. Yang sudah mempersiapkan diri menjadi pembicara mungkin akan merasa bahwa persiapannya sia-sia. Beberapa pendeta bisa jadi harus berusaha lebih untuk mempersiapkan khotbah yang akan ia berikan secara online. Bisa jadi juga ada yang senang karena “tidak harus susah-susah” pergi menempuh perjalanan jauh ke gereja tempatnya berjemaat.


Berkaca dari negara lain

Jika kita melihat kasus yang terjadi di negara lain, sebenarnya praktik pembatasan kegiatan agama ini tidak hanya dilakukan di Indonesia. Mengambil studi kasus di Korea Selatan, diasumsikan bahwa penyebaran COVID-19 di negara ini melunjak akibat adanya anggota jemaat dari gereja sekte Shincheonji yang terdeteksi positif dan tetap melakukan kegiatan ibadah. Di Malaysia, salah satu kegiatan tabligh akbar diduga menjadi penyebab melunjaknya kasus positif di negara ini. Akibat kasus-kasus tersebut dan melihat potensi bahaya yang ada dari perkumpulan orang banyak di suatu kegiatan agama, banyak yang menutup kegiatan di dalam gereja atau solat berjamaah, bersamaan dengan regulasi lockdown yang dilakukan beberapa negara, atau memberikan peraturan untuk memberikan jarak antar jemaat untuk meminimalisir kontak fisik.

Apakah dengan begini, organisasi agama berhak menjadi pihak yang disalahkan karena adanya peningkatan kasus yang melunjak? Seharusnya tidak. Bahkan seharusnya kita mengapresiasi usaha organisasi agama untuk meminimalisir potensi penularan virus ini, terutama kepada pihak-pihak yang lebih rentan terkena dampak virus ini.


Photo by Nicolas LB on Unsplash 

Sikap

Bagaimana dengan sikap kita sebagai jemaat Kristen? Mungkin bagi jemaat yang terkena dampak peniadaan Kebaktian di gereja, hal ini menjadi langkah awal untuk berusaha beradaptasi dengan kondisi yang baru. Sikap yang paling dasar untuk dilakukan adalah untuk bersikap positif dan mendukung semua keputusan yang sudah dibuat, karena keputusan ini sudah dipikirkan secara matang.

“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” - Matius 18:20

Sikap selanjutnya yang harus dilakukan untuk mendukung semua keputusan yang sudah dibuat adalah dengan tetap mengadakan persekutuan, setidaknya di tengah keluarga. Dengan adanya teknologi terkini, materi kebaktian sudah dipersiapkan beberapa lembaga, sesuai dengan rentang usianya masing-masing. Didasari dengan ayat di atas, Yesus sendiri berkata bahwa Ia akan berada di tengah-tengah orang yang berkumpul dalam nama-Nya.

Setelah kita menerima metode yang diberikan oleh gereja, kita juga harus memahami alasan di balik gereja untuk melakukan persekutuan di rumah, yaitu untuk mencegah penyebaran virus pandemik. Jangan sampai metode yang diberlakukan saat ini menjadi alasan kita untuk selanjutnya tidak mengikuti persekutuan sama sekali. Dengan adanya metode live streaming khotbah, kita akan tetap mendapat sesuatu darinya. Tapi jangan lupa bahwa kita juga dipanggil untuk menyebarkan kembali berkat itu kepada orang lain.

Selain itu, kita juga harus mengikuti arahan pemerintah untuk melakukan social distancing. Pemerintah menyuruh kita untuk libur, bukan berarti kita melakukan liburan, karena tujuan libur ini adalah untuk meminimalisir kontak dan potensi tertular virus COVID-19. Lakukan hal yang produktif di rumah. Bagi yang sudah bekerja, lakukan pekerjaan di rumah dengan maksimal. Bagi yang masih menempuh pendidikan, belajarlah dengan baik di rumah. Bagi yang menyandang status bukan pelajar maupun pekerja, lakukan saja kegiatan-kegiatan positif di rumah, seperti membaca, menulis, atau melakukan hobi yang lama tidak dilakukan. Jangan lupa untuk berdoa bagi keadaan dunia saat ini.

Ketika kelak pandemi ini teratasi, kiranya kita terus menjadi saksi nyata penyertaan Tuhan di dalam kehidupan kita.

LATEST POST

 

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menari...
by Jeffry Immanuel | 24 May 2024

Ethan Winters dan Mia baru saja memulai hidup barunya yang tentram dan damai bersama Rosemary, bayi...
by Olyvia Hulda | 23 May 2024

Respons terhadap Progresive ChristianityIstilah progresive Christianity terdengar belakangan ini. Ha...
by Immanuel Elson | 19 May 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER