Sebuah Harapan dari Pinggir Jalan

Art, The Works, 27 January 2020
"Lantas apalagi yang harus kutakuti? Tuhan sudah membuktikan bahwa Ia mampu mencukupi."

Semalam aku khawatir, apa besok hidupku berakhir?

Aku juga gelisah, apakah besok dunia masih ramah?

Hatiku sangat kalut, dipenuhi rasa takut.

Uang di rekeningku habis, di dompet sudah tipis.

Sementara cicilan sudah menunggu, matilah aku!

“Makan apa aku besok?” 

Teriakku sambil memukul tembok.

Dengan sombong aku bertanya pada Sang Empunya

Dimana kuasaNya? Apa cuma milik mereka?

Aku tenggelam, semakin dalam.

Kemudian terlelap dalam pelukan gelap.


Pagi tadi terbangun, aku masih tertegun.

“Minum dulu tehnya,” kata ibu sambil melempar senyumnya.

Selepas mandi, aku pun pergi.




Siang tiba, lapar melanda.

Rekan kerjaku datang, membawa nasi lauk rendang.

“Ini buatmu. Sudah kenyang perutku.”

Aku senang, dia pun senang.


Sorenya aku rehat sejenak, untuk mendinginkan otak.

Di depanku ada si tua renta, sedang memelas iba.

Raut pak tua jadi ceria, kupastikan ia sedikit tertawa.

Ia menerima dua ribu lusuh dari seorang buruh.

Buruh senang, pak tua pun senang.


Jam pulang kerja aku melihat tak sengaja.

Si tunawisma bahagia, anaknya sudah bisa bicara.

Emperan toko bagai istana dengan gerobak sebagai kereta kencana.

Ku membatin dalam hati yang dipenuhi iri.


Malam ini aku termenung, air mataku tak terbendung.

Hari ini aku menyaksikan kejadian yang membuat sebuah harapan.

Harapan baru untuk jiwa yang sedang pilu.

Pagi tadi dunia menunjukan bahwa ia masih ramah, melalui senyum ibu dengan teh hangatnya.

Siang tadi Tuhan memberiku makanan lezat, melalui kawanku yang datang bagai malaikat.

Sore tadi aku bisa belajar berbagi, melalui si buruh yang suka memberi.

Kemudian aku mengerti bahwa bahagia bukan hanya soal materi.




Lantas apalagi yang harus kutakuti?

Tuhan sudah membuktikan bahwa ia mampu mencukupi

Aku sudah ditegur, rasa takutku terkubur.

Aku tersungkur sambil bersyukur. Merangkai puji untuk Ilahi

Sekarang aku percaya, harapan itu nyata

Terima kasih Tuhan, sekarang aku punya harapan.



“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” Mazmur 42:5



 

RELATED TOPIC

LATEST POST

 

            Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga di Malang mend...
by Yawan Yafet Wirawan | 20 Oct 2020

"Aku yakin kamu pasti senang kalau orang lain menganggap kamu ‘incredible’!"(...
by Timothy Aditya Sutantyo | 20 Oct 2020

Mungkin aku hanyalah seorang mahasiswa biasa dan masih jauh sekali untuk membicarakan pernikahan. Te...
by Yeheskiel Dewabrata | 19 Oct 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER