Aku, Pelecehan Seksual, Masturbasi, dan Hubungan Toxic

Best Regards, Live Through This, 20 January 2020
U – turn adalah momen di mana aku mengingat kembali masa-masa tergelap sepanjang hidupku. Luka-luka yang belum sembuh dan kepahitan yang belum kunjung hilang. Tapi aku percaya Tuhan yang memampukan mengubah kutuk menjadi berkat.

DISCLAIMER : 18 TAHUN KEATAS (Semua tokoh di bawah menggunakan nama samaran)

Ketika membaca ed-letter dari Ignite aku sedikit merenung. Teringat banyak hal baik ataupun buruk. Ada dua hal yang membuatku sangat terpuruk sehingga masih membekas luka itu. U-Turn di tahun 2020 diawali dari 31 Desember 2019. 

Sambil menikmati hujan di akhir tahun yang menyebabkan banjir dan ditemani musik melankolis, pikiranku terbawa kembali pada masa-masa tergelapku. 

Diawali Mencari Penerimaan Fana

Terlahir sebagai anak sulung membuatku dididik lebih keras daripada adikku. Tidak jarang ekspektasi orang tua yang kadang “tidak manusiawi” membuatku semakin liar di masa pubertas. Bisa dibilang aku adalah sosok yang tidak disukai orang pada masa itu. Aku hanya butuh tempat untuk diterima, sayangnya tidak ada yang menerimaku. Mencari penerimaan dengan caraku membuatku jatuh pada sebuah insiden di masa SMA di mana aku benar-benar mengalami sakit mental atau depresi. 

Sewaktu SMA, aku diterima sebagai kekasih oleh seorang lawan jenis. Sebut saja dia Didi, seorang senior dari keluarga yang terdidik,ayahnya adalah seorang dosen di salah satu PTN di kota tempat aku SMA (aku SMA di luar kota). Didi selalu baik padaku dan selalu menerima apapun yang aku lakukan di sekolah pada saat itu. Termasuk jiwa rebel-ku yang suka bolos dan mencari cara untuk kena skors karena tertolak di kelas. Saat itu aku nyaman dengan Didi. Hingga dia lulus SMA, aku sedih karena merasa ditinggal olehnya. Untungnya setiap Didi kuliah kelas pagi, ia selalu ke hall sekolah untuk menungguku.

Satu hari, Didi berkata bahwa ia ingin membuat pengakuan kepadaku. Awalnya aku tidak tahu apa yang dia maksud. Ia mengajakku pergi ke tempat yang sepi. Hingga akhirnya kita ke sebuah kelas di koridor yang sudah kosong. Aku duduk di meja. Ia menyergapku dari belakang dan ingin menciumku. Aku dapat mendengar nafas nafsu dari hidung Didi saat itu. Aku memberontak dan berlari. Pulang sekolah, aku ingin menangis tetapi tidak bisa karena takut dengan mamaku (karena ia tahu Didi dan kami tinggal di rumah Oma). 

Keesokan harinya aku mencari pertolongan ke ruang BP, karena guru BP itu satu gereja denganku. Mereka pun shock dan tidak percaya akan ceritaku. Didi hanya meminta maaf lewat chat. Aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi di sekolah karena sangat trauma dengan kejadian tersebut. Rapotku merah, mamaku hanya bisa memarahiku tanpa tahu penyebabnya apa. Aku semakin benci dengan sekolah, sehingga aku berakhir di sebuah universitas swasta dengan jurusan yang tidak aku inginkan.

Hubungan dan Pertemanan Toxic di Masa Kuliah

Aku tidak antusias dengan masa kuliahku, benar-benar tidak tahu tentang HIMA dan organisasi lainnya di jurusan. Bahkan rasanya aku ingin pindah kampus karena benar-benar tidak suka dengan jurusannya. Aku iri dengan teman-teman yang lolos di PTN atau yang mendapat jurusan yang diinginkan. Tetapi, aku sadar Tuhan memberikanku orang-orang yang mau berteman denganku saat itu. Aku memakai topeng untuk mendapat teman dan akhirnya di semester 5 (tahun 2017) aku terjebak dalam lingkaran pertemanan yang toxic, dalam arti pertemanan yang saling menipu satu dengan lainnya. 

Aku juga merasa berada dalam relasi berpacaran yang toxic, di mana aku harus menjadi ‘sempurna’ dalam standarnya, sebut saja Fredy. Aku terjebak di lingkaran yang membuatku takut ditinggalkan, kesepian, dan tidak dicintai. Semakin dalam hubungan pacaran dan pertemanan itu, semakin tidak sehat diriku, bahkan aku mengorbankan IPK-ku, yang mencapai nol koma. Aku benar-benar tidak bisa memprioritaskan diriku sendiri dan tekanan dari pihak keluarga yang tidak terelakkan. 

Puncak masa terpurukku ketika keterikatan akan seks menjeratku dan Fredy. Hal ini berawal dari keinginan Fredy untuk foto bugil. Orang yang kenal dengan Fredy pasti tidak percaya karena ia orang yang aktif melayani. Lalu beralih ke video chat seks dan kami hampir melakukannya. Tangan Fredy sudah menjamah banyak dari bagian tubuhku, termasuk bagian kemaluanku, meskipun kami tidak sampai “berhubungan badan” tetapi sudah banyak yang sudah dia lakukan dengan tubuhku. Saat itu aku semakin merasa dikontrol oleh Fredy. Duniaku semakin hancur. Bahkan beberapa teman yang awalnya dekat, kini menjauh. Kemudian aku mulai berubah, sangat berubah. Aku merasakan belenggu yang sangat kuat yaitu rasa nyaman untuk melakukan masturbasi. 

Tidak lupa dengan hubungan pertemanan toxic-ku. Saat itu aku disadarkan oleh suatu hal. Ketika aku menyadari bahwa si ketua geng, sebut saja Denny sangat berambisi menjadi yang nomor satu. Aku merasa terbelenggu oleh pertemanan dengan Denny, bukannya membangun, melainkan merusak, sehingga aku terjerat dalam kecanduan alkohol. Aku memutuskan untuk menjauh dari Denny. 

Tidak hanya Denny saat itu, aku dicampakkan terang-terangan oleh Fredy. Duniaku benar-benar runtuh. Sudah jatuh tertimpa tangga. Fredy semakin PD dan semakin senang untuk menjatuhkanku bahkan menghakimiku seperti orang Yahudi menghakimi Maria Magdalena. Sedih, sakit, dan kecewa bercampur menjadi satu. Aku juga merasa tidak berharga dan ingin mengakhiri hidup.

Titik Balik dari Ketragisan Hidup

Awal 2018, Aku memantapkan diri untuk katekisasi dan sidi di gereja. Pada proses katekisasi pun aku diuji dengan respons keluargaku yang menolak. Aku merasa hidup menjadi lebih berat dari sebelumnya. Tidak terhitung air mata dalam proses mengikut-Nya sampai detik ini. 

Desember 2018, aku resmi menjadi anggota gereja tersebut a.k.a orang Kristen. Perlahan namun pasti aku melihat satu per satu hidupku dipulihkan. Walau belum sepenuhnya, tapi aku percaya Tuhan tidak pernah meninggalkanku.

Desember 2019, aku terlepas dari beberapa belenggu yang mengikatku. Meski belum sepenuhnya terbebas, aku percaya Tuhan yang akan membantuku untuk lepas dari segala ikatan.

Untuk teman-teman yang sedang berjuang lepas dari belenggu dosa atau kebiasaan buruk, aku tahu itu tidak mudah tapi percayalah Tuhan akan menolong kita. Semoga kisahku menjadi berkat ya.

“...Kepada TUHAN, hai penghuni sorgawi, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan! Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan!” Mazmur 29 : 1-2



LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER