"MERDEKA!" : Seruan Penindasan bagi 'Mereka'?

Best Regards, Live Through This, 17 August 2019
Jika Ia mengasihi dalam inklusivitas, maka tak ada satu pun yang berhak membatasi kasih-Nya—bahkan gereja sekalipun!

Sang Dwiwarna dikibarkan hampir di seluruh wilayah perkantoran dan sekolah. Tak mau tertinggal, gaung Indonesia Raya turut diperdengarkan juga—tak terkecuali di gereja. Kemerdekaan bangsa—yang sekaligus menjadi momentum di mana gereja memperingati kemerdekaan umat percaya di dalam Kristus atas belenggu dosa dan maut—turut dirayakan oleh beberapa gereja melalui ibadah syukur. Sebagian dari padanya bahkan turut menyemarakkan dengan berbagai jenis perlombaan. 

Sebagai bangsa, banyak orang atas nama kemanusiaan masih menyerukan, “MERDEKA!“ di dalam perjuangan memperjuangkan Hak-hak Asasi Manusia, yang selama ini masih tertindas oleh sistem dan otoritas yang menindas. Mereka adalah para aktivis HAM yang mewakilkan suara buruh, petani dan kalangan ‘bawah‘ lainnya—yang sering kali tidak didengar jeritannya. Di tengah seruan, “MERDEKA!“ yang digaungkan juga oleh gereja, siapa sangka bahwa gereja acap kali masih muncul sebagai pihak otoriter yang menyingkirkan kaum-kaum tertentu, termasuk kaum anak?



Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash 


Selama ini, mereka tertindas karena acap kali dianggap sebagai anak anggota jemaat, bukan anggotanya itu sendiri. Tak heran, setiap minggunya, hanya karena ingin beribadah, mereka dipisahkan dengan orang tua mereka oleh gereja (yang katanya menyatukan). Di meja perjamuan, mereka tak memperoleh tempat. Jangankan itu; sejak kecil, ketika belum tahu apa-apa dan hanya bisa menangis, mereka pun "diusir" karena dianggap mengganggu jalannya ibadah. Tak jarang, orang yang berdiri di atas mimbar pun merasa terganggu dengan keberadaan mereka. Alhasil, mereka yang mondar-mandir karena tak tahu harus apa di dalam ibadah malah ditegur (bahkan dimarahi), bukannya "dihampiri" dan dibimbing.

Lucunya, ketika mereka sudah mulai tumbuh dan berkembang selayaknya anak remaja yang sudah dianggap "tahu" oleh gereja, mereka terus didorong bahkan dipaksa untuk ambil bagian dalam kehidupan gereja yang asing bagi mereka sejak kecil. Tak munculkan batang hidung sedikit, buah bibir berhamburan, menganggap mereka tidak mempertanggungjawabkan janji iman dan kesetiaan kepada Allah. Oh, ini sungguh lucu. Mungkin mereka berpikir, "Betapa gereja telah menjilat ludahnya sendiri. Dahulu menolak keberadaanku, tapi saat ini mengemis akan kehadiran dan keterlibatanku."

Jika marginalisasi ini terus dipelihara oleh gereja, maka gereja tak sungguh-sungguh merdeka. Ia hanya merdeka bagi sebagian orang yang berdiri di atas penindasan sebagian yang lain. Gereja baru benar-benar merdeka, ketika ia mengubah paradigmanya seperti Yesus, Sang Kepala Gereja yang revolusioner. 

“Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus … akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.”  — Markus 10 : 13-14


Photo by Jude Beck on Unsplash 


Di tengah sistem patriarki yang turut memarginalkan anak-anak, Yesus menyerukan pembelaan-Nya kepada mereka—bahkan marah kepada orang-orang terdekat-Nya (alias para murid) karena menghalang-halangi anak-anak untuk datang kepada-Nya. Ketika orang lain melihat anak-anak sebelah mata, Yesus justru melihat mereka dengan tatapan, "They're so precious!". Ya, Dia menyambut kehadiran mereka! Bahkan, ketika sedang berbicara mengenai siapa yang pantas untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, mereka sering dijadikan role model pengajaran-Nya. Kita bisa melihat bagaimana Yesus benar-benar memanusiakan mereka sejak mereka menjadi manusia! Dia berani menerobos sistem yang menindas dan menciptakan pemisahan satu sama lain demi Kerajaan Allah yang menjunjung inklusivitas, keadilan dan kesetaraan! Untuk itu, gereja harus berhenti menganggap anak-anak sebagai biang keladi yang hanya bisa membuat keributan dalam peribadahan. Gereja juga harus berhenti untuk menganggap mereka sebatas aset masa depan gereja. Sekali lagi: Anak-anak bukan aset, melainkan jemaat itu sendiri! Jemaat bukan saat mereka dirasa sudah masuk kategori "tahu" oleh gereja, tapi jemaat sejak mereka dilahirkan—sejak mereka disebut "manusia"!

Melalui keterbukaan terhadap kehadiran anak-anak, gereja baru sungguh-sungguh menjadi gereja yang merepresentasikan kasih Allah yang memerdekakan semua golongan. Jika Allah, Sang Pencipta, mengasihi secara inklusif, maka tak ada satu pun yang berhak membatasi kasih-Nya—sekalipun itu gereja! Sebaliknya, gereja justru perlu hadir membongkar segala sistem yang menindas dan memarginalisasikan, hingga akhirnya gereja memiliki keberanian untuk menerobos sekat-sekat yang diciptakan manusia untuk memerdekakan "mereka" yang selama ini menjerit di bawah kungkungan tersebut.


Apakah ada "mereka" lainnya?

Tentu. Oleh karenanya, selamat memerdekakan! 


LATEST POST

 

Bahagia itu konsep yang aneh, definisi umumnya adalah keadaan di mana kita menikmati hidup dan meras...
by Joshua Eldi Setio | 06 Apr 2020

“Dunia sedang sakit atau dunia sedang berduka” begitulah tanggapan setidaknya dari penga...
by Lefrandy Praditya Klaas | 06 Apr 2020

Hari ini Luna berulang tahun, ulang tahun kesekian yang tidak perlu disebutkan berapa angkanya. Seda...
by Surya Hadi | 06 Apr 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER