Aku di Mata Tuhan

Best Regards, Live Through This, 19 June 2019
Jangan menunggu sempurna untuk melayani, tapi melayanilah maka akan disempurnakan

Mama: 

"Ikut mama latihan koor di gereja yuk"

"Ikut doa lingkungan yuk"

"Ikut pelayanan di Gereja yuk"

Aku: 

"Nggak lah ma, besok aja. Tunggu bisa dulu"


Sejujurnya alasan di balik semua penolakanku itu adalah, aku merasa bahwa aku tidak cukup mampu untuk melakukan pelayanan dengan baik. Aku minder, banyak sekali orang-orang di luar sana yang lebih baik dari aku. Mereka lebih pintar bernyanyi dan bermain musik, lebih rajin ke gereja, aktif dalam komunitas sana sini sehingga punya banyak teman. Bahkan tidak jarang alasanku menyangkut hal-hal fisik. Mereka terlihat cantik dan membuat orang-orang akan kagum kepada mereka. Mereka tidak perlu takut ditolak atau tidak dipedulikan. Segala pemikiran-pemikiran negatif itulah yang kerap kali menghantui dan menghambat langkahku untuk berkarya. 

Lambat laun aku merasa tidak nyaman dengan perasaan ini, aku mencoba untuk bicara kepada Mama tentang hal itu. Waktu itu, kelihatannya Mama sangat kecewa dengan sikapku, dan langsung bilang  "Tuhan tu udah ciptain semua orang sesuai dengan citra-Nya dan keunikannya masing-masing. Gak perlu iri, ga perlu minder, minder berarti kamu ga bersyukur atas apa yang udah Tuhan kasih buat kamu!".  

Dari bagian akhir kalimat Mama tersebut, aku jadi merasa sangat berdosa. Aku baru sadar, selama ini aku selalu menggerutu dan menghujat Tuhan karena ketidaksempurnaanku. Aku lupa untuk bersyukur atas semua kesempurnaan yang ada, yang aku ingat hanyalah cacat dan kebobrokan. 

Kemudian aku kembali teringat tentang sepenggal kisah sederhana yang ada di balik buku Pekan Suci yang pernah Mama tunjukkan kepadaku, waktu aku masih kecil. Kisah itu tentang tempayan yang retak. Mungkin beberapa di antara kita sudah pernah membaca kisah tersebut. 

Daniel Tafjord on Unsplash


Begini cerita singkatnya: 

Ada 2 buah tempayan yang selalu digunakan tuannya untuk membawa air dari pegunungan sampai ke rumahnya. Namun, keadaan tempayan itu berbeda, 1 tempayan sempurna, sedangkan tempayan yang lain cacat, ia retak. Tempayan yang cacat ini merasa tidak berguna, dan sangat merugikan tuannya, karena air yang dibawanya tumpah di perjalanan sebelum sampai ke rumah. Ia merasa gagal, tidak dapat mengisi penuh kendi di rumah tuannya, tidak seperti tempayan sempurna yang selalu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Hingga suatu hari, tuannya mengetahui kesedihan yang dialami oleh tempayan yang retak itu. Tuannya meminta untuk jangan bersedih, serta menyuruhnya melihat sepanjang jalan yang dilalui dari pegunungan sampai ke rumah. Tampak bahwa sisi jalan yang dilalui tempayan retak itu dipenuhi oleh bunga-bunga yang cantik, sedangkan sisi jalan yang dilalui oleh tempayan yang sempurna gersang, bahkan tak ada 1 bunga pun. Ternyata tetesan-tetesan air yang mengalir melalui celah tubuh tempayan yang retak itu menyirami benih-benih yang ditanam oleh tuannya di sepanjang jalan. Tuannya telah mengetahui kelemahan tempayan itu, namun ia justru menjadikannya sebuah kelebihan. 

Cerita tempayan yang retak itu mengingatkan aku, bahwa Tuhan yang menciptakan aku, sudah lebih dahulu mengenal aku beserta kekurangan, maupun kelebihan yang ada dalam diriku. Tuhan sudah menyiapkan rencana-rencana indah dalam hidupku, yang begitu unik dan tidak akan sama dengan yang lain. Jadi, untuk apa aku masih minder. Untuk apa lagi aku merasa diri tidak mampu, malu, bahkan tidak percaya diri. Tempayan yang retak saja bisa menumbuhkan bunga-bunga indah, apalagi diriku! 

Elijah Hail on UnsplashKita semua adalah tempayan yang retak, selalu merasa tidak sempurna dan cacat. Tapi kita milik Tuhan, Tuhan tidak mungkin membiarkan kita tenggelam dalam kecacatan dan tidak akan mempermalukan kita. Justru Ia akan mengubah kekurangan kita menjadi kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Semoga kisah tempayan ini tidak hanya menginspirasiku, namun juga menjadi  kekuatan dan peneguhan bagi kita semua untuk selalu bersyukur dalam kehidupan yang terus disempurnakan Tuhan. 

Jangan menunggu sempurna untuk melayani, tetapi melayanilah, maka kita akan disempurnakan.

LATEST POST

 

Apa sih perasaannya kala itu?Saya sendiri bahkan tidak tahu apa yang saya rasakan. Saya tidak bahagi...
by Sobat Anonim | 15 Jul 2019

Purwokerto, 9 Juli 2019Shalom,Damai Sejahtera bagi kamu,Halo Nat, lama kita ngga berjumpa. Gima...
by Agustina Endarwanti | 15 Jul 2019

Water covers 70% of our planet and it is easy to think that it will always be plentiful and will not...
by Arum Sekar Ratrie | 15 Jul 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER