Merespons Nubuatan akan Berakhirnya Covid-19

All About GKI, Behind The Scene, 27 March 2020
Jangan takut kepada apa yang dapat membinasakan tubuh seperti wabah sekalipun, melainkan mendekatlah kepada Allah yang memegang kehidupan kita. Berharaplah hanya kepada Allah bukan kepada nubuatan manusia. Kalaupun pada hari ini wabah covid masih melanda bahkan tampak lebih buruk, percayalah bahwa semua ada dalam kedaulatan Allah dan kita harus selalu bergantung dan berserah penuh pada-Nya

Di tengah berita bertambahnya jumlah orang yang terinfeksi dan yang meninggal membuat kecemasan dan kepanikan bertambah, kabar baik menjadi hal yang sangat dinantikan oleh banyak orang. Salah satu kabar “baik” yang berkaitan dengan virus covid-19, dikabarkan oleh seorang hamba Tuhan dari Nigeria, T.B. Joshua. Beliau mengatakan bahwa virus corona akan berakhir pada akhir Maret ini, tepatnya di tanggal 27 Maret 2020.

Dalam video yang disebarkan lewat media sosial, beliau mengatakan dengan yakin bahwa hal tersebut adalah nubuatan yang disampaikan Tuhan kepada dirinya.  Nubuat yang dinyatakan oleh hamba Tuhan, baik dalam khotbah maupun pernyataan secara langsung, umumnya menjadi sebuah teologi yang dianut oleh kalangan jemaat Pentakosta-Kharismatik. Kabar “baik” ini tentu saja menjadi harapan kebanyakan orang di tengah situasi yang tidak menentu saat ini. 

Namun demikian, apa jadinya ketika setelah tanggal 27 Maret, ternyata nubuatan yang disampaikan tersebut tidak terjadi?  Tentu saja kabar yang semula menjadi kabar baik akan menjadi kabar yang sia-sia. Dampak yang ditimbulkan akan setara dengan kabar buruk yang biasa kita terima. Bahkan nubuatan yang pada akhirnya tidak terjadi dapat berakibat pada keraguan iman umat Tuhan yang sangat berharap pada pemulihan yang Allah berikan.

Nubuatan tentang kesembuhan merupakan pengajaran yang paling sering digunakan oleh kalangan hamba Tuhan Pentakosta-Kharismatik. Pengajaran tentang kesembuhan sesungguhnya merupakan pengajaran yang membuat kita berserah, menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Seringkali kesembuhan disalahpahami sebagai bagian dari hal yang pasti akan terjadi

Kebanyakan pengajaran yang demikian mengacu kepada bagian Alkitab yang menerangkan tentang kesembuhan ilahi. Namun, perlu disadari bahwa hari ke depan merupakan bagian milik Tuhan, bukan manusia. Masa depan dan hal yang terjadi semua ada di bawah kedaulatan Allah.

Teologi tentang nubuatan dan kesembuhan ilahi perlu dievaluasi dan dipertajam dalam pengertian yang lebih luas. Amos Yong, seorang teolog Pentakosta, mencatat dalam bukunya yang membahas disabilitas, bahwa kesembuhan bukanlah yang menjadi tujuan utama sebuah nubuatan, nubuatan seharusnya membawa penyerahan hidup manusia kepada Allah

Gagasan ini Yong nyatakan sebagai wujud keprihatinannya atas banyaknya orang yang berharap akan sebuah kesembuhan dan menjadi kecewa karena realita menyatakan bahwa mereka tidak sembuh, bahkan banyak orang yang pada akhirnya meninggal. Artinya, ketika manusia mengalami sakit-penyakit, ataupun harus menghadapi kematian, maka seharusnya ia lebih menyerahkan dan mendekatkan dirinya kepada Tuhan. 

Matius 24:36 berbunyi demikian: 

Tetapi tentang hari dan saat itu tidak ada seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.” 

Bagian firman Tuhan ini seharusnya dapat menajamkan pengajaran tentang nubuatan yang diarahkan kepada kedaulatan Allah.  Manusia terbatas dalam mengetahui hari depan, dan bahkan bisa salah. Oleh karena itu seharusnya hamba Tuhan sekalipun perlu bijak dalam menyampaikan sebuah informasi, apalagi “mengklaimnya” sebagai nubuatan dari Tuhan. 

Nubuatan tentang kesembuhan seharusnya tidak diajarkan dengan tujuan meyakinkan seseorang pasti sembuh. Nubuatan tentang kesembuhan seharusnya membawa manusia semakin menyadari keterbatasannya dan manusia memerlukan Tuhan. 

Melalui pandemi Covid-19 ini, banyak orang menjadi sadar dan kembali merenungkan kehidupannya di dunia. Kehidupan manusia sangat terbatas, tetapi kedaulatan Tuhan adalah yang kekal. Mari mendekat pada Allah di tengah wabah yang membuat kita resah. Jangan takut kepada apa yang dapat membinasakan tubuh seperti wabah sekalipun, melainkan mendekatlah kepada Allah yang memegang kehidupan kita.

Berharaplah hanya kepada Allah bukan kepada nubuatan manusia. Kalaupun pada hari ini wabah Covid-19 masih melanda bahkan tampak lebih buruk, percayalah bahwa semua ada dalam kedaulatan Allah dan kita harus selalu bergantung dan berserah penuh pada-Nya. Amin.



LATEST POST

 

            Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga di Malang mend...
by Yawan Yafet Wirawan | 20 Oct 2020

"Aku yakin kamu pasti senang kalau orang lain menganggap kamu ‘incredible’!"(...
by Timothy Aditya Sutantyo | 20 Oct 2020

Mungkin aku hanyalah seorang mahasiswa biasa dan masih jauh sekali untuk membicarakan pernikahan. Te...
by Yeheskiel Dewabrata | 19 Oct 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER