Siap Melayani Dalam Kekurangan? Why Not?

Best Regards, Live Through This, 11 July 2022
"Melayani dalam kelebihan, itu biasa. Tapi kalau melayani dalam kekurangan, itu yang luar biasa." - Anonymous

Saya bersyukur, karena sampai saat ini, saya masih dipercayakan oleh Tuhan untuk bisa melayani di jemaat dimana saya berpelayanan. Jujur pertama kali saya masuk dalam pelayanan saat salah seorang Ketua Komisi Musik Gereja meminta saya untuk mengambil bagian dalam pelayanan bernyanyi mengiringi jemaat di tiap ibadah hari minggu. Dan sampai sekarang, kendati pandemi masih berlanjut, pelayanan itu masih terus saya jalani. Bahkan saya sendiri pun sudah memiliki dua tugas pelayanan tambahan, yaitu sebagai pelayan di Komisi Remaja dan di bagian Multimedia Gereja. Sebenarnya, saya sendiri melayani bukan dengan kemampuan yang saya punya. Justru saya menyadari bahwa saya begitu banyak kekurangan. Namun, entah kenapa melalui kekurangan saya itulah Tuhan memampukan saya untuk bisa melayani. Nah, melalui perenungan ini saya ingin menerangkan kepada teman-teman Ignite bahwa sebenarnya melayani bukanlah seberapa hebat kemampuan atau talenta yang kita punya dan sejauh mana pelayanan itu kita usahakan dan jadi tolak ukur dalam keberhasilan pelayanan kita. Namun, bagaimana kekurangan itu malah justru membuat kita semakin kuat dalam melayani. Hal ini dapat kita lihat dalam kehidupan jemaat Makedonia di Surat 2 Korintus 8 : 1 - 5.


Dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus ini,  Rasul Paulus memberi apresiasi kepada jemaat di Makedonia. Mengapa Paulus memberi apresiasi kepada mereka? Karena kendati jemaat Makedonia sedang dilanda berbagai tantangan dan ancaman, namun jemaat ini dapat terus bertumbuh dan bahkan dalam kekurangan mereka sendiri pun mereka dapat bisa memberi diri dalam pelayanan lebih dari apa yang diharapkan oleh Rasul Paulus sendiri. Paulus juga dalam suratnya mengkritik jemaat di Korintus dalam hal pemberian dan juga pelayanan mereka. Mereka justru harus belajar dari jemaat Makedonia ini dalam hal memberi dan melayani. Nah, lebih jauh lagi kita akan melihat profil jemaat Makedonia.


Jemaat Makedonia: Miskin Namun Kaya

Ilustrasi Jemaat Makedonia

Ignite People, jemaat Makedonia sendiri adalah jemaat yang terbentuk dari pemberitaan Injil yang diberitakan oleh Rasul Paulus. Jemaat ini adalah jemaat yang disebut sebagai jemaat yang sangat kecil. Mereka hidup dalam kemiskinan, dan tidak terlalu kaya dalam hal materi dan pengetahuan, tidak seperti jemaat-jemaat yang lainnya di sepanjang pemberitaan Injil. Namun, dikatakan bahwa mereka "kaya dalam kemurahan" (2 Korintus 8 : 2). Artinya, dalam memberi bantuan, mereka tidak mempersoalkan untung dan rugi dalam mereka memberi maupun melayani. Tidak seperti kita, yang mungkin dalam pelayanan kita, kita masih memperhitungkan untung dan rugi dalam pelayanan itu. Bahkan mereka dapat memberi lebih dari apa yang diharapkan oleh Paulus dan rekan-rekannya (2 Korintus 8 : 5). Ada yang menarik di sini. Pertama-tama mereka memberi diri mereka untuk melayani kepada Allah, lalu pada akhirnya kepada Rasul Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya. Hal ini menunjukkan, bahwa pelayanan yang mereka miliki adalah berangkat dari keinginan mereka untuk bisa melayani Tuhan yang adalah sumber dari segala hal dalam hidup mereka. Bahkan mereka sendiri pun yang mendesak Rasul Paulus untuk mengambil bagian dalam pelayanan yang dilakukan oleh dia dan rekan-rekan sepelayanannya (2 Korintus 8 : 4). Itulah mengapa Rasul Paulus sangat mengapresiasi mereka dalam hal ini. Tidak banyak informasi yang kita dapatkan dari jemaat Makedonia ini. Namun yang pasti adalah bahwa jemaat ini adalah jemaat yang patut dicontoh oleh jemaat-jemaat yang lain termasuk jemaat Korintus. 


Pelajaran Yang Bisa Di Dapat Dari Jemaat Makedonia


Ilustrasi Melayani dalam kekurangan

Dari jemaat Makedonia ini kita belajar bahwa untuk bisa melayani tidak dibutuhkan kemampuan atau keterampilan yang mumpuni. Tetapi, dari mereka kita belajar bahwa melayani pertama-tama dibutuhkan sebuah komitmen yang sungguh dalam kita melakukan pelayanan yang dipercayakan. Berkomitmen untuk belajar dan berusaha untuk setia dalam pelayanan kita adalah contoh dimana kita sungguh-sungguh mempunyai keinginan untuk mau melayani dalam persekutuan dan pelayanan dimana kita terlibat di dalamnya.


Kedua, melayani merupakan proses untuk semakin berkembang. Ketika kita melihat bahwa ada begitu banyak pelayanan kita, jangan anggap itu menjadi suatu beban. Tetapi menjadi bukti nyata bahwa Tuhan masih tetap mempercayakan kita untuk bisa melayani dimanapun kita ditempatkan. Dan mungkin saja ini muncul karena dari keinginan kita untuk terus-menerus belajar. Dari jemaat Makedonia ini kita melihat bahwa dalam hal melayani mereka bisa melayani dalam keterbatasan mereka dan akibatnya adalah pelayanan mereka menjadi berkat teristimewa bagi jemaat di Yerusalem.


Ketiga, pergunakan segala potensi dan kemampuan bahkan talenta kita untuk menjadi berkat bagi sesama terutama dalam pelayanan di jemaat. Ajakan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus mengingatkan kita untuk bisa melihat teladan dari sebuah jemaat kecil yaitu jemaat Makedonia. Jemaat Korintus yang adalah jemaat besar dan kaya dalam segala hal, harus bisa mempergunakan kekayaan itu untuk menjadi berkat bagi sesama (2 Korintus 8 : 7). Bagaimana dengan kita? Bagi kita yang merasa mempunyai potensi atau kemampuan yang mumpuni, pergunakanlah itu untuk jadi berkat. Dan bagi kita yang mungkin belum memiliki potensi atau kemampuan tertentu, jangan berkecil hati. Tuhan telah memberikan setiap orang keterampilan dan kemampuan siapapun itu. Dan oleh karena itu, teruslah mencari potensi atau keterampilan dan kemampuan kita, dan biarkan Tuhan yang memampukan untuk kita bisa mengembangkannya kendati ada banyak kekurangan. Jika jemaat Makedonia bisa memberi diri dalam bentuk pemberian dan pelayanan di tengah keterbatasan mereka,  mengapa sobat Ignite tidak mencoba memberi diri untuk melayani? 


Ignite People, setiap dari kita pasti memiliki kekurangan dan keterbatasan. Namun, biarlah kekurangan dan keterbatasan kita itu tidak membuat kita merasa minder atau tidak percaya diri ketika kita dipilih atau memilih untuk melayani. Tetap terus gali segala potensi dan kemampuan kita sembari kita melayani. Tuhan akan senantiasa memperlengkapi kita untuk bisa menemukan dimana potensi dan kemampuan yang kita miliki. Sehingga kita boleh menjadi berkat bagi sesama kita. Doa saya adalah agar kita semua senantiasa mau dan bersedia memberi diri untuk bisa melayani. Jangan takut untuk melayani. Tuhan akan senantiasa memperlengkapi kita di dalam keterbatasan dan kekurangan kita. Siap melayani dalam kekurangan? why not?

LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER