Impian Ada di Tengah Peluh

Best Regards, Live Through This, 15 July 2021
Aku berdiri di atas panggung yang selalu kudambakan.

Setiap orang pasti pernah memiliki impian. Baik orang tua maupun anak muda, dan laki-laki serta perempuan, pasti memiliki impian terhadap sebuah target kehidupan. Impian tersebut dapat berupa materi dan non-materi. Jangka waktu yang kita tetapkan untuk menggapai impian tersebut pun berbeda-beda. Ada yang memiliki impian dalam jangka waktu pendek (1-2 tahun), ada pula yang berjangka panjang (lebih dari 5 tahun), bahkan ada yang secara tiba-tiba saja impian yang kita pikirkan tersebut menjadi kenyataan secara tiba-tiba. 


Namanya juga impian, kita akan melakukan beragam usaha agar bisa terwujud. Tak sedikit keringat dan darah pun tercurah menjadi saksi bisu terhadap diri kita yang terus berjuang tanpa henti. Perkataan orang lain (entah itu negatif atau positif) turut menjadi pengiring dalam lini waktu hidup kita. Ada yang mendukung, ada pula yang menjatuhkan. Hal tersebut merupakan hal biasa dalam mengarungi badai kehidupan. Namun, poin yang paling penting dalam merespons hal tersebut adalah bagaimana kita dapat bertahan dengan mengandalkan-Nya yang terus menahkodai kita.



Impian ada ditengah peluh

Bagai bunga yang mekar secara perlahan

Usaha keras itu tak akan mengkhianati

Impian ada ditengah peluh

Selalu menunggu agar ia menguncup

Suatu hari pasti sampai harapan terkabul

Lyrics by: JKT48 (Shonichi / 初日 / Hari Pertama)



Penggalan lirik lagu tersebut berjudul Shonichi atau Hari Pertama yang biasa dibawakan oleh sebuah idol group, JKT48. Shonichi ini berkorelasi dengan salah satu cerita mengenai perwujudan impian yang dimiliki seorang pemuda usia awal 20-an yang memiliki beragam impian pada hidupnya. Sebagian impiannya telah terwujud sesuai dengan waktu yang ditentukan, sebagian lagi gagal, tetapi sebagian lainnya juga menjadi kejutan dalam kehidupannya, yaitu ketika ia dipilih menjadi seorang pemimpin tim multimedia dan dokumentasi pada perhelatan wisuda sebuah universitas. Ketika terpilih, responsnya saat itu persis seperti Yeremia yang dipanggil dan diutus oleh Allah menjadi nabi atas bangsa Israel.


Maka aku menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” 

Yeremia 1:6



Ya, tepat seperti itu. Bagaimana pun, pemuda ini tak memiliki pengalaman yang kuat menjadi seorang pemimpin, terlebih lagi untuk memimpin acara sebesar wisuda universitas, walaupun dengan konsep daring (online). Beban yang dipikul pemuda ini semakin berat, ketika situasi pandemi semakin pelik di negara ini. Situasi tersebut mengharuskannya tetap melanjutkan acara ini dengan jumlah tim yang kini tersisa 14 orang (dari 27 orang). Pemuda ini seperti turut merasakan beratnya beban seorang pemimpin. Ia merasa seolah-olah apa yang diamanahkan kepadanya mustahil untuk tetap dilanjutkan, bahkan dalam hati kecilnya, ia terus meminta kepada atasan untuk menunda penyelenggaraan wisuda tersebut. Namun, pemuda tersebut dikuatkan oleh beragam cara. Misalnya kru yang cukup kooperatif dalam melakukan tugasnya, hingga pihak-pihak yang menyarankan memberikan rencana cadangan apabila hal yang tidak diinginkan terjadi. Selain itu, sang pemuda juga dikuatkan oleh kelanjutan kisah Yeremia yang menerima penguatan dari Allah agar tetap bersedia mengikuti panggilan-Nya sebagai nabi di tengah-tengah kemerosotan moral di Yehuda.


Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."

Yeremia 1:7-8


Hari yang dinantikan pun tiba. Setelah pembawa acara memberikan cue terakhir dan menutup acara, pemuda tersebut seketika berteriak kegirangan karena beban yang ia pikul kini telah terlepas. Di tengah kepelikan dan peluh keringat, pemuda tersebut mampu menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin. Pemuda tersebut sadar bahwa Allah tetap melindungi dan menyertainya untuk mewujudkan setiap impian yang ia impi-impikan selama ini, termasuk impian yang menjadi kejutan di tengah ketidakpastian hidup. 


Photo by Kelli Stirrett on Unsplash  


Memimpikan sesuatu adalah sebuah hal yang baik. Namun, kita perlu tetap mawas diri karena ada pihak-pihak tertentu (bahkan bisa jadi diri sendiri yang minder termasuk di dalamnya) yang ingin menggagalkan tujuan tersebut. Cara sederhana untuk tetap berpegang teguh pada impian tersebut adalah dengan terus percaya kepada Allah yang terus memelihara kehidupan kita sehingga pada akhirnya impian tersebut dapat terkabul. Sederhana tetapi membutuhkan kesungguhan hati, ya? Tidak apa-apa, asalkan kita yakin bahwa impian tersebut sejalan dengan rencana Allah, Ia sanggup untuk membukakan jalan tepat pada waktunya. Kiranya Allah memampukan kita agar suatu hari nanti, kita menjadi sebuah bunga yangtadinya hanyalah sebatas kuncupmampu mekar sempurna.


Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

Roma 5:3-4

LATEST POST

 

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menari...
by Jeffry Immanuel | 24 May 2024

Ethan Winters dan Mia baru saja memulai hidup barunya yang tentram dan damai bersama Rosemary, bayi...
by Olyvia Hulda | 23 May 2024

Respons terhadap Progresive ChristianityIstilah progresive Christianity terdengar belakangan ini. Ha...
by Immanuel Elson | 19 May 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER