Social Dilemma

, What's Next, 05 July 2021
Apa gunanya teknologi yang selalu bisa di-update, tetapi yang satu spesies dengan penciptanya justru tidak mengalami perkembangan—bahkan merosot dalam banyak hal?

Apa yang terlintas di pikiran Ignite People ketika membaca tema IGNITE website untuk Juli-Agustus ini?

a. permintaan tolong yang terlalu banyak tetapi raga tidak sanggup untuk menolong semuanya?

b. informasi yang berjibun membuat kita jadi kewalahan menyaringnya, apalagi untuk menegur orang-orang yang menyebarkan hoaks?

c. kecanggihan teknologi yang, sayangnya, tidak selalu diiringi dengan bertambahnya kapasitas manusia dalam berbagai aspek kehidupan?


Buat Minbi, jawabannya adalah nomor tiga. Minbi lupa kapan kejadiannya, tapi waktu itu papa Minbi bercerita tentang salah satu fakta yang mencengangkan dan ironis, tetapi juga memunculkan sebuah refleksi pribadi.


"Tahu nggak," Papa memulai ceritanya, "sekarang apa-apa itu udah bisa pakai tenaga mesin. Banyak rumah sakit yang udah pakai robot buat bantuin proses operasi dan pemeriksaan medis. Di beberapa sekolah di luar sana, ada juga yang pakai robot sebagai guru. Kamu pernah denger yang namanya artificial intelligence (AI), kan? Sejak ada AI, apa-apa jadi berubah."

“Iya, sih, ada yang kayak gitu.” Minbi mengangguk setuju, karena teringat ada ulasan tentang robot guru di Jepang di salah satu majalah favorit Minbi sejak kecil (sebut saja majalah Bobo). Karena ada AI, maka algoritma di media sosial kita juga memperlihatkan berbagai hal yang menjadi minat kita.

“Nah, makanya itu… coba cari keahlian yang enggak bisa ditandingi sama robot, karena cepet atau lambat, tenaga manusia bisa tergantikan sama mereka.”

Wah, gimana itu ntar kalau ada orang yang mau wawancara, tapi yang ngewawancara malah robot? pikir MinbiGimana kalau ada robot yang kasih konseling ke orang-orang? Manusia aja masih susah buat berempati, apalagi robot.

Minbi jadi ingat dengan salah satu film Doraemon yang menceritakan tentang dunia dengan manusia dan robot yang hidup dalam harmoni, sampai akhirnya ada raja baru yang memerintah dan membuat kesenjangan di antara mereka. Para robot diperlakukan dengan semena-mena karena dianggap hanya benda mati, padahal mereka (dikisahkan) juga memiliki perasaan. Singkat cerita, kehadiran Doraemon dan kawan-kawan menggerakkan hati para penduduk di sana untuk bersatu dan melawan penguasa pada saat itu. Akhirnya, mereka bisa hidup dalam damai lagi.


https://ignitegki.com/storage/post/202107/Nobita%20in%20the%20Robot%20Kingdom.jpghttps://doraemon.fandom.com/wiki/Doraemon:_Nobita_in_the_Robot_Kingdom


Ironis rasanya kalau melihat teknologi yang diciptakan untuk memudahkan pekerjaan manusia, ternyata justru “melawan balik”. Tidak sedikit yang terkena imbas dari pengadaan mesin di berbagai tempat demi efektivitas dan efisiensi daya, dana, serta waktu agar berproduksi dengan maksimal. Bahkan kalau mengingat dua poin pertama di awal ed letter kali ini, banyak di antara pengguna teknologi yang seolah-olah sedang diperbudak olehnya. Informasi yang membeludak membuat kita jadi sulit menyaring mana yang benar dan yang hoaks. Jujur saja, kita sudah sangat jenuh berhadapan dengan gawai setiap saat, tetapi kondisi saat ini mengharuskan kita untuk menggunakan teknologi agar tetap dapat terhubung dengan orang lain.

Mungkinkah apa yang tertulis pada gambar di bawah ini akan menjadi kenyataan?

Mungkinkah suatu hari nanti, kumpulan data di dalam sebuah mesin ciptaan manusia justru memberikan berbagai pemikiran yang lebih baik dari kita—manusia yang diciptakan oleh Sang Pencipta itu sendiri? Jika tidak, lalu apa gunanya teknologi yang selalu bisa di-update, tetapi yang satu spesies dengan penciptanya justru tidak mengalami perkembangan—bahkan merosot dalam banyak hal?



https://ignitegki.com/storage/post/202107/franki-chamaki-1K6IQsQbizI-unsplash_(1).jpgPhoto by Franki Chamaki on Unsplash



Mari, tuangkan kegelisahan Ignite People di website ini! Kiranya kejenuhan dan ratap yang terpendam tidak menghalangi kita untuk berkarya, meskipun saat ini jangkauan kita terbatas untuk merangkul mereka yang nun jauh di mata.

Kyrie eleison.

Tuhan, kasihanilah kami, orang-orang yang (tampaknya) telah diperbudak oleh ciptaan kami sendiri.


Peluk daring dari Minbi

 

RELATED TOPIC

LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER