Siapa Yang Tidak (Akan) Bangkrut?

Best Regards, Live Through This, 25 March 2021
Money never sleeps. God too. But, money is the illusion. God not.

"Lou, are we going under?"

"You're asking the wrong question, Jacob."

"What's the right question?"

"Who isn't?"

Itu adalah percakapan singkat di film "Wall Street: Money Never Sleeps", antara Jacob Moore, seorang trader saham di KZI (Keller Zabel Investment), dengan bosnya yang sekaligus mentornya, Louis Zabel, saat beredar rumor bahwa KZI akan bangkrut dan Jacob mau memastikannya sendiri. Di samping itu, ia juga tidak mempercayai rumor tersebut, sebab Louis baru saja memberinya bonus tahunan sebesar $1 Million (satu juta US Dollar). Mana ada perusahaan bangkrut yang memberi bonus besar? Apalagi KZI adalah sebuah perusahaan sekuritas besar di Wall Street, yang sepertinya tidak mungkin akan bangkrut dalam semalam.

Dan yang menarik buat saya adalah jawaban dari bosnya, Louis Zabel, yang tampak datar saja saat mengatakan: siapa yang tidak (akan bangkrut)?

Film ini kembali menjadi topik yang kembali diperbincangkan di media sosial, terutama di Twitter, beberapa waktu lalu, karena ada kemiripan dengan fenomena yang terjadi belum lama ini: banyak orang (ritel) membeli saham hanya berdasarkan rumor, pompom, dan endorse selebriti... alias berspekulasi. Hingga lalu kalimat dari karakter fiksi di film ini, Gordon Gekko, mencuat kembali: "The mother of all evil is speculation."

Tapi bukan itu (orang terlilit hutang karena berspekulasi saat membeli saham) yang menjadi awal ide saya menulis (perenungan) ini, meskipun diawali dengan sedikit dialog dari film tentang bursa saham tadi. Tapi kalimat Louis Zabel itulah yang membuat saya merenung: "Who isn't (going under)?".

Bisa dikatakan pandemi Covid-19 ini mengubah cara pandang saya akan (hampir) segalanya tentang "mesin" ekonomi dunia.... Dimulai dari kabar kalau seseorang dengan #Gaji80Juta yang bisa jatuh bangkrut, lalu berita beberapa perusahaan maskapai (penerbangan) besar dunia yang dinyatakan pailit, dan terakhir, sebagai orang Jogja, cukup dikagetkan dengan kabar kalau Centro akhirnya tutup setelah hampir 15 tahun membuka bisnisnya.

"Siapa yang tidak akan (bisa) bangkrut?"


Saya yakin dan percaya setiap orang pasti akan berusaha sedemikian rupa mempertahankan apa yang dimilikinya. Bisnisnya, pekerjaannya, sumber penghasilannya. Beberapa bisa sampai lupa akan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya, kesehatan dan keluarganya, bahkan sampai lupa pada Sang Pemberi Penghasilan. Apalagi ketakutan akan masa depan semakin besar karena ketidakpastian pemulihan ekonomi akibat pandemi. Dari mulai ancaman depresi ekonomi (akibat resesi berkepanjangan), hingga stock market yang diprediksi akan kembali crash setelah semua orang divaksinasi. Hampir semua orang khawatir: kapan keadaan “new normal” akan berakhir? Dan di balik kekhawatiran ini, lebih banyak diakibatkan oleh faktor ekonomi (takut di-PHK, usaha yang gulung tikar atau bangkrut).

Mungkin jarang sekali, bahkan tidak pernah saya dengar dengan telinga dan kepala sendiri, seseorang yang jatuh bangkrut berkata seperti Ayub: "TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21). Bahkan diceritakan di film tadi, kalau Louis Zabel memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Lalu pertanyaannya: masihkah “Di Badai Topan Dunia, Tuhanlah Perlindunganku” dinyanyikan di hati kita?

Atau mungkin jika saat ini kita takut dan khawatir; merasa dunia ini gelap dan belum melihat cahaya di ujung lorong... itu karena bukan Tuhan Allah Sang Sumber Kehidupan yang sebenarnya kita jadikan pegangan? Kita lebih berpegangan kuat pada bisnis keluarga yang sudah dirintis puluhan tahun, pekerjaan yang bergaji puluhan juta setiap bulan, karir di perusahaan dengan capital market yang besar, aset-aset yang sudah dikumpulkan bertahun-tahun, dan atau harta warisan yang kita anggap "tidak akan habis dimakan 4 turunan"?

Jika iya, jika kekhawatiran akan masa depan itu sampai menutup mata dan hati kita akan pemeliharaan-Nya, yuk mari sebentar bernyanyi:

"Burung Pipit yang kecil, dikasihi Tuhan. Terlebih diriku, dikasihi Tuhan."


Sudah mulai merasakan kasih Tuhan? Kalau belum, yuk kita bernyanyi lagi:

"Bunga Bakung di padang, dikasihi Tuhan. Terlebih diriku, dikasihi Tuhan."


“Which of you by taking thought can add one cubit unto his stature?” Jesus said.


Apakah sudah lebih merasa nyaman karena mengingat kasih dan penyertaan Tuhan selama ini?

Kalau masih belum, saya akan akhiri perenungan ini dengan kalimat dari pendeta Hadyan Tanwikara dalam salah satu kotbahnya yang mengutip Maude Royden: "Ketika kamu punya banyak hal yang kamu cintai lebih dari Tuhan, maka kamu tidak akan pernah mengerti bahwa Tuhan itu lebih dari cukup."


Ketika seseorang tidak memiliki apa pun dan dia hanya memiliki Tuhan, dia hanya mencintai Tuhan, dia akan mengerti betul bahwa mencintai Tuhan itu lebih dari cukup.


Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus, selalu menyertai kita sekalian, sehingga kita akan terus merasakan kecukupan, karena Dia senantiasa memberkati dan memampukan.


LATEST POST

 

Kalimat itu terus terbesit dalam benak saya malam  itu di dalam kesendirian saya di kamar kos s...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 15 May 2021

Tidak ada seseorang yang sempurna untuk dicintai.Kamu akan menemukan orang-orang yang tidak sempurna...
by Monica Petra | 15 May 2021

Tujuh tahun yang lalu, ketika salah seorang sahabat terdekat saya meninggal dunia karena pesawat yan...
by Primaridiana Pradiptasari | 15 May 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER