Amarah Cinta

Best Regards, Live Through This, 21 March 2021
Adakah amarah dalam cinta?

Amarah dan cinta...

2 hal yang memiliki makna yang berbeda bukan?


Lantas, dapatkah kita dapat mencintai dalam amarah?


Memang, tak jarang orang tua yang memarahi anaknya yang nakal atau tidak menuruti nasihat mereka, dengan alasan karena mereka begitu mencintai anak-anak mereka. Jika tidak dimarahi, bukan tidak mungkin bila justru mereka akan menjadi tambah nakal. Meski tak dipungkiri, banyak juga kok anak-anak yang masih dapat dinasihati dengan cara yang baik dan tidak perlu dimarahi.


Seringkali anak kecil akan diam, takut, dan bahkan menjadi nurut dan berjanji tidak akan mengulangi kenakalan mereka lagi. Lain halnya ketika orang tua memarahi anaknya yang sudah besar, dimana umumnya anak berpikir “aku udah besar, udah ngerti mana yang baik dan benar, jadi udahlah ga usah ngomelin dan ikut campur urusanku”.



Umumnya, orang tua memarahi anaknya lantaran mereka merasa bahwa mereka “telah lebih banyak pengalaman dan makan asam garam kehidupan”. Akan tetapi, bagi anak-anak jaman sekarang, cara ini sudah ketinggalan jaman, yang membuat anak-anak berpikir “kalo anaknya suka dimarahin, gimana anaknya bisa sayang sama orang tuanya?”.


Sangat jarang, bahkan kita tidak mau kan kalau orang yang kita cintai dan mencintai kita justru suka memarahi kita? Mau itu anak-anak, atau bahkan orang dewasa sekalipun. Amarah yang muncul, cenderung dapat memicu amarah orang yang lain. Jika di lain pihak, orang itu tak dapat menahan dan meredam emosi, maka akan timbul kesalahpahaman, pergesekan, dan bahkan penolakan karena tidak ada titik temu diantara mereka.


Kalau dimarahin, tandanya tidak cinta dong?


Meski aku orang yang terlahir dengan keterbatasan fisik, yang menjadikanku tidak dapat berjalan, jujur aku juga merupakan anak yang suka tidak nurut dan bahkan membangkang terhadap nasihat orang tua. Ini sering membuat papa sering memarahiku sewaktu kecil. Terlebih, dulu papa masih beranggapan bahwa “memarahi menjadi cara yang paling tepat untuk mengajarkan anaknya menuruti perkataan mereka”. Sebab, papa bercerita bahwa jaman dulu orang tuanya juga sering memarahi anaknya, sekalipun anaknya tidak nakal atau melakukan kesalahan.


Aku pribadi tidak dapat terima orang tuaku yang menasihatiku dengan cara yang demikian. Pikirku “Katanya papa sayang, tapi kok aku dimarahi terus? Berarti papa ga sayang dong?”, terlebih saat itu aku belum memiliki adik.


Hal itu terus terjadi hampir setiap harinya, bahkan untuk persoalan sekalipun. Sampai suatu ketika aku memiliki 2 orang adik dan kami mulai beranjak dewasa, papa sudah dapat mengurangi emosinya. Perlahan aku mulai menyadari kalau sebenarnya papa benar-benar sayang kepada anak-anaknya, walau dulu ada saja emosi yang ditunjukannya. Papa melakukannya dengan tujuan untuk menasehati dan mengarahkan ke arah yang baik.



Bukankah Yesus juga pernah marah? Apakah tak ada kasih dalam diriNya? Padahal kita tau bahwa Dia adalah Kasih.


Berbicara amarah, di Yohanes 2:13-25 pun diceritakan bahwa Yesus begitu marah saat dalam Bait Suci justru didapatiNya pedagang-pedagang lembu, kambing domba, dan merpati, serta penukar-penukar uang disitu (14). Dia membuat cambuk dari tali untuk mengusir mereka semua dari Bait Suci (15). Yesus sangat marah, dimana Bait Suci seharusnya betul-betul disucikan, karena itu merupakan Rumah BapaNya.


Alih-alih takut dengan sikap Yesus, orang-orang Yahudi justru meragukan bahwa Dia merupakan Putra yang diutusNya, dan menantang kuasaNya (18). Hingga Yesus menjawab tantangan tersebut dengan menyuruh mereka merombak Bait Allah tersebut, dan dalam tiga hari akan dibangunNya kembali (19). Padahal, yang dimaksudkanNya ialah tubuhNya sendiri (21).


Yohanes 2:17

Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku."


Mungkin kita akan bertanya-tanya “Mengapa Yesus yang adalah Kasih, justru malah marah?”. Akan tetapi, kemarahan Yesus memiliki tujuan yang jelas, yakni menyucikan Bait Allah yang merupakan Rumah BapaNya, tempat suci yang tidak layak digunakan untuk berdagang dan hal lainnya. Jadi, masuk akal jika Yesus marah. KemarahanNya untuk menegaskan pada mereka, agar mereka tak lagi menjadikan Bait Allah untuk berjualan, sebab saat itu banyak orang yang belum percaya kepadaNya.


AmarahNya meluap bukan karena tak ada kasih. Justru Dia marah karena rasa cintaNya terhadap Bait Allah tiada tara. Dia ingin orang-orang menjadi percaya dan berada dalam kasihNya.




Suatu relasi tak selalu berjalan mulus, dan adakalanya mungkin suatu kondisi membuat kita emosi. Namun, dibalik semua itu, jika kita ingin marah, bukan berarti kita meluapkan emosi karena terbawa ego kita. Milikilah kasihNya! Berdoa agar kita menegur, mengungkapkan apa yang tidak kita suka, dan halnya dengan hikmatNya, agar kita justru tidak menjadi batu sandungan bagi orang-orang disekeliling kita.


Tuhan Yesus mengasihi kita semua 🤗

LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER