We Wish You a Merry Pandemichristmas

Best Regards, Live Through This, 25 December 2020
Apa pun yang terjadi dalam hidup kita saat ini, baik maupun buruk, hanyalah sebuah bab dari cerita kasih kita dengan Tuhan yang tidak akan pernah berakhir. -Sidney Mohede

Cimahi, penghujung tahun 2020.

Tahun 2020, adalah tahun di mana beberapa pemikiran saya (hanya pemikiran, bukan doa ataupun harapan, lebih tepatnya hanyalah sebuah andai-andai). Tuhan ternyata tahu betul setiap detail pemikiran dan hati kita, sekalipun itu memang tidak kita cita-citakan. Jumlah setiap helai rambut kita yang berwujud saja Ia tahu, apalagi semua detail pemikiran kita yang tidak berupa.

Ah, yang bener?

Semua dimulai dari kepanitiaan Natal 2019 yang perdana bagi saya, ketika saya diperbantukan di tim publikasi dan dokumentasi. Saya bersyukur karena posisi kepanitiaan ini menurut saya cukup strategis karena ini memang passion saya dan sebagian besar hanya menghabiskan waktu di belakang layar dan tidak membuang banyak waktu untuk berlatih maupun gladi resik, dan segala tetek-bengeknya seperti para performer di depan layar. 

Namun pada puncaknya, tetap saja kami pada akhirnya akan bertugas di sekitar panggung untuk mendapatan hasil jepretan yang bagus. Jadi sangat disarankan untuk hadir di acara yang namanya gladi resik.

Tadinya, saya urung untuk datang ke acara gladi resik karena jarak rumah dan gereja yang cukup jauh. Tapi apa daya, sekalian mengantarkan adik yang bertugas sebagai tim pengangkat properti yang agak lumayan besar.

Karena saya baru pertama kali datang dan turut "terlibat" untuk hadir di acara gladi resik seperti ini, saya pun agak takjub melihat semua segala ke-hectic-an yang ada. Mulai dari angkut-angkut properti, masuk-keluarnya penari dan pemain drama, tim praise and worship beserta musik, semuanya ada dalam satu panggung.

Saya yang memantau dari ujung bawah panggung pun berpikir:

"Duh, gak capek apa mereka ya, udah malam begini masih latihan, padahal besok sudah mau tampil..."

"Kalau besok ternyata ada yang sakit gimana yah?"

"Wah bersyukur jadi pubdok, kerjanya gak ribet, tapi besok tetap aja harus totalitas motretnya".

Sampai akhirnya saya mendapatkan satu benang merah dari pemikiran saya:

"Kayaknya kita terlalu fokus untuk selebrasi aja deh, bukan ke makna Natal itu sendiri."

Ya, itulah yang tercetus di benak saya. Seorang yang newbie di kepanitiaan natal. Hingga akhirnya muncul suatu angan-angan:

"Bisa gak ya, kapan-kapan perayaan Natal itu sederhana saja, cuman candle light aja kalau bisa, biar simplicity-nya makin berasa?"

"Ah, kayaknya gak mungkin deh kalau temanya itu sederhana. Pasti dari awal udah di-reject idenya."

Lalu saya pun membayangkan, bagaimana Yesus yang lahir di palungan, bukan di kamar VVIP sebuah rumah sakit kenamaan di Betlehem.

Waktu berlalu. Gladi resik dan acara puncak perayaan Natal berlangsung sukses sampai akhirnya tahun 2020 datang beriringan dengan tamu yang datang tidak dijemput, pulang tidak diantar. Apa lagi kalau bukan pandemi Covid-19 yang luar biasa. Bukan hanya satu dua bulan. Ia mengiringi empat per lima bagian dari tahun 2020.

Dan siapa sangka, pemikiran iseng di Natal setahun silam pun terjadi. Natal tahun 2020 ini murni 100% tidak dibuat-buat bertemakan kesederhanaan alias simplicity. Jangankan performance drama musikal atau tarian, candle light untuk setiap jemaat saja tidak ada. Tidak hanya itu, jabatan tangan juga pelukan hangat tak tampak. Duduk pun semua berjarak satu meter, tidak peduli apakah sedang bermusuhan atau tidak.

Lalu saya pun jadi ingat, ternyata bukan pemikiran itu saja yang terjadi di tahun 2020. Tuhan ternyata mengabulkan angan-angan perihal pekerjaan. Saya yang fresh graduate dan bekerja di salah satu perusahaan sewa bus yang langganan memenangkan tender ibadah haji pun pernah berandai-andai, karena saya pertama kali masuk kerja pada saat musim ibadah haji 2019 dan bisa dibilang itu adalah masa high season dan membuat saya kelimpungan karena saya adalah pegawai baru dan harus menginput data setiap hari.

"Duh andai tahun depan gak ada ibadah haji, enak ya kerjanya pasti santai."

Ternyata Tuhan menjawab benang merah pemikiran saya yang kedua. Ibadah haji tahun 2020 ditiadakan, membuat data yang harus diinput berkurang drastis, dengan jackpot berupa potongan gaji. Itu juga membuat saya prihatin karena banyak pekerja yang di-PHK.

Akhirnya, kedua benang merah pemikiran saya yang terjawab di tahun 2020 membawa saya kepada satu keyakinan:

Tuhan memegang kendali atas hidup kita, di setiap musim kehidupan kita. Kasarnya, mau musim durian hingga musim rambutan, termasuk musim pandemi pun Dia selalu ada. Kita yang suka tidak sepenuhnya sadar bahwa Ia selalu ada untuk kita.

Kurang lebih bisa diibaratkan dengan salah satu slogan iklan dari minuman teh dan permen kenamaan Indonesia,

Apapun makanannya, minumannya teh ***** *****, anggap saja apapun masalahnya, Tuhannya tetap Tuhan Yesus. Bersama-Nya lah segala manis, asam, asin kehidupan kita menjadi rame rasanya.


Quote dari Sidney Mohede dalam bukunya yang berjudul Simple Truth akan menutup artikel ini.

Apa pun yang terjadi dalam hidup kita saat ini, baik maupun buruk, hanyalah sebuah bab dari cerita kasih kita dengan Tuhan yang tidak akan pernah berakhir.

-Sidney Mohede

Akhir kata, We Wish You a Merry Pandemichristmas !

LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER