3/3- Alternatif dari Neoliberalisme

Best Regards, Live Through This, 07 October 2020
In talk shows and around dinner tables – is to choose our favourite kind of activism: we give Greta Thunberg a big thumbs up but fume at the road blockades staged by Extinction Rebellion. Or we admire the protesters of Occupy Wall Street but scorn the lobbyists who set out for Davos. . . That’s not how change works. All of these people have roles to play. Both the professor and the anarchist. The networker and the agitator. The provocateur and the peacemaker. The people who write in academic jargon and those who translate it for a wider audience. The people who lobby behind the scenes and those who are dragged away by the riot police.

Sebelum saya memaparkan alternatif yang ada, saya akan meminjam analisis Chang dan Grabel (2004) mengenai enam mitos yang dikedepankan kaum neoliberalis. Mitos itu adalah: negara kaya mencapai kemakmuran berkat komitmen yang kuat terhadap pasar bebas; neoliberalisme berjalan dengan baik; globalisasi neoliberal tidak dapat dan tidak akan berhenti; kapitalisme ala Amerika adalah sistem ideal yang mesti diikuti semua negara berkembang; model Asia-Timur itu unik, sedangkan model Anglo-Amerika itu universal; dan negara berkembang membutuhkan aturan yang ditetapkan oleh institusi lokal pembuat kebijakan yang independen secara politik.

Chang dan Grabel membongkar enam mitos tersebut satu persatu. Saya akan melampirkan tabel yang disusun oleh Rizky dan Majidi mengenai hal ini:


ArgumenKontra Argumen
  • Negara kaya mencapai kemakmuran melalui perdagangan dan arus finansial bebas
  • Negara berkembang menderita karena mengadopsi kebijakan intervensi pasar
  • Rahasia sukses mereka bukan perdagangan dan arus finansial bebas
  • Kisah sukses sebagian negara berkembang karena program intervensi yang dirancang dengan baik
  • Neoliberalisme meraih sukses, ketika kebijakan lain gagal
  • Setelah berjalan dua dekade, neoliberalisme memang membuahkan hasil
  • Neoliberalisme tidaklah membawa pertumbuhan perekonomian, bahkan dalam ukurannya sendiri
  • Tidak mampu menutupi biaya-biaya yang ditimbulkannya
  • Memperburuk kesenjangan dalam negeri dan antar negara
  • Kemiskinan yang semakin parah dan kondisi sosial yang mengalami kemunduran di negara berkembang
  • Tidak menumbuhkan demokrasi
  • Globalisasi digerakkan oleh kemajuan teknologi
  • Akan menjadi mahal jika menjalankan kebijakan lain diluar neoliberalisme
  • Globalisasi bukan hasil akhir dari kecanggihan teknologi yang tak dapat dielakkan
  • Penggerak utama dibalik globalisasi adalah keputusan politik, bukan teknologi
  • Jaringan antara globalisasi dan neoliberal dapat dihancurkan.
  • Konsep ekonomi baru tahun 1990an merefleksikan dinamisme dan keunggulan model ekonomi ala Amerika
  • Keunggulan model Amerika juga ditunjukkan oleh kegagalan ekonomi di Eropa dan Jepang
  • Didasarkan angan-angan mengenai kedigdayaan Amerika, bukan hasil analisa yang seksama dan obyektif
  • Tidak pernah ada konsep ekonomi baru di tahun 1990an
  • Ledakan ekonomi tahun 1990an tidak menguntungkan kehidupan masyarakat awam Amerika
  • Keruntuhan gelembung pasar saham Amerika mengindikasikan korupsi korporasi dan alokasi sumber daya yang salah kaprah
  • Banyak negara industri lain yang menunjukkan kinerja ekonomi sama atau lebih baik dari Amerika

  • Model Asia Timur tidak bisa diterapkan di luar wilayah itu karena kondisi budaya dan kesejarahannya
  • Model Anglo-Amerika sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal
  • Kesuksesan model Asia Timur tidak hanya bisa dijelaskan atas dasar keunikannya
  • Secara empiris, model Asia Timur telah memainkan peranan yang penting dalam mendorong pembangunan ekonomi di seluruh dunia dibanding model Anglo-Amerika
  • Model Amerika Serikat dan Inggris yang justeru bersifat khusus
  • Kebijakan ekonomi seharusnya tidak diserahkan ke tangan para politikus dan pegawai negeri
  • Disiplin yang berhubungan dengan institusi ekonomi yang independen secara politis sangat penting di negara berkembang

  • Pejabat pemerintahan telah merancang kebijakan ekonomi yang baik di banyak negara
  • Tidak ada bukti bahwa pegawai negeri punya sifat korup bawaan atau menghambat proses pengambilan kebijakan
  • Menempatkan wewenang pengambilan kebijakan ke tangan para teknokrat bertentangan dengan prinsip demokrasi


Watts dan Hodgson meminjam pemikiran Brenner et al dalam menggambarkan spekulasi empat skenario sebagai bahan pertimbangan untuk mempersiapkan rencana dan tindakan menuju post-neoliberal. Partisipasi lokal, nasional dan global diperlukan dalam keempat skenario ini.

  1. Zombie neoliberalisation. Pada skenario ini, neoliberalisme kurang lebih berada pada kondisi sekarang. ‘kepala’ ideologis tidak lagi aktif, namun ‘tubuh’ mekanisme kerja sudah secara sistematis terintegrasi ke seluruh lapisan masyarakat.
  2. Disarticulated counter-neoliberalisation. Pada skenario ini, neoliberalisme berada pada kondisi sekarang, namun dalam kritik dan serangan gerakan perlawanan lokal dan nasional seperti gerakan hak pekerja, grup pecinta lingkungan dan gerakan sosial lainnya termasuk populis dan sayap kanan. Gerakan ini terpisah-pisah karena gerakan yang ada bersifat lokal atau nasional dan mereka tidak koheren dan Bersatu untuk memberi dampak jangka panjang dalam mengatur ulang struktur ekonomi global.
  3. Orchestrated counter-neoliberalisation. Gerakan perlawanan lebih terorganisir dengan koalisi yang secara aktif dan sistematis mencoba menerapkan pemerintahan dan peraturan ‘neo-Keynesian, social democratic, atau eco-socialist national, regional atau local government’. Namun, skenario ini masih belum cukup untuk melawan neoliberalisme dari pemimpin politik-ekonomi global seperti agensi multilateral, supranational trading blocs dan pemerintahan negara lain
  4. Deep socialization. Neoliberalisme takluk dalam pengawasan dan kritik dari publik. Tidak hanya ideologi tetapi juga institusi dan peraturan. Kritik terhadap neoliberalisme bersifat total sampai kepada inti dan akarnya. Skenario ini perlu diikuti oleh

These might include capital and exchange controls; debt forgiveness; progressive tax regimes; non-profit based, cooperatively run, deglobalized credit schemes; more systematic global redistribution; public works investments; and the decommodification of basic social needs such as shelter, water, transportation, health care, and utilities. Out of the ashes of the neoliberalized global rule-regime emerges an alternative social democratic, solidaristic, and/or eco-socialist model of global regulation.

Brenner et al mengingatkan bahwa

A post-neoliberal future may be driven by forces that are hardly based on social justice. Out of the ashes of neoliberalism ‘any number of regressive, even barbaric, scenarios are possible, including various forms of neoconservative, neototalitarian, and neofundamentalist reaction, hyperpolarization, neo-imperialism, remilitarization, and ecological degradation.

Rizky dan Majidi mengusulkan tiga hal untuk melakukan perubahan, yaitu:

  1. Perubahan pemerintahan (termasuk reformasi ekonomi) mustinya membawa bangsa dan negara Indonesia kepada posisi yang lebih baik berhadapan dengan kekuatan pemodal besar internasional. Akan tetapi, kesalahan dilakukan sejak awal pemulihan krisis karena mengandalkan pihak yang justru mewakili kepentingan kapitalisme dunia. Bisa dikatakan bahwa negara semakin dikuasai kaum kapitalis (asing dan kroni domestiknya).
  2. Perlawanan yang sementara ini bisa diandalkan adalah perubahan sosial dalam artian luas, termasuk perjuangan untuk pembenahan mekanisme kenegaraan. Perubahan sosial dimaksud juga masih lebih bertumpu pada peran individu dan kelompok masyarakat tertentu.
  3. Perlu diwaspadai adanya berbagai jebakan seperti dipicunya konflik horisontal antar elemen masyarakat, serta pemanfaatan tema pelemahan negara (state). 

Mereka juga memberikan agenda perlawanan aktivis gerakan terhadap neoliberalisme.


Bretger memaparkan tiga pandangan ekonom Perancis yang ia sebut sebagai French trio of economists. Thomas Piketty dan Emmanuel Saez menerbitkan tulisan yang menggambarkan pendapatan 1% orang terkaya di dunia. Mereka menunjukkan bahwa ketimpangan masih begitu tinggi. Piketty mengusulkan pajak progresif.

Ekonom ketiga adalah Gabriel Zucman. Ia menerbitkan buku yang menunjukkan bahwa ada sekitar 7,6 triliun pajak yang tidak dibayarkan. Pada tulisan lain, ia bersama Saez menghitung bahwa 400 orang terkaya di amerika membayar tingkat pajak yang lebih rendah dibandingkan dengan jenis pekerjaan lain mulai dari tukang pipa, pembersih, suster sampai pensiunan. Pikkety pada 2020 menerbitkan lagi 1.088 halaman tulisan yang mendukung hal tersebut.

Bregman sebagai sejarawan mendukung pemikiran Pikkety mengenai pajak progresif. Ia berpendapat bahwa pajak yang tinggi berpengaruh baik bagi ekonomi. Pada 1952, pajak pendapatan tertinggi di Amerika Serikat adalah 92% dan ekonomi bertumbuh dengan cepat.

Pemikiran seperti ini mungkin dianggap tidak masuk akal pada empat tahun lalu, namun sekarang menjadi hal yang dipertimbangkan. Bregman dalam ketidakpastian, masih memiliki harapan menuju masa depan yang lebih baik. Ia berkata: 

The ideology that was dominant these last 40 years is dying. What will replace it? Nobody knows for sure. It’s not hard to imagine this crisis might send us down an even darker path. That rulers will use it to seize more power, restrict their populations’ freedom, and stoke the flames of racism and hatred. . .But things can be different. Thanks to the hard work of countless activists and academics, networkers and agitators, we can also imagine another way. This pandemic could send us down a path of new values. 

Terakhir, ia mengusulkan tiga hal: pemerintahan berdasarkan kepercayaan, sistem perpajakan berdasarkan solidaritas serta investasi berkelanjutan untuk memastikan masa depan kita semua.

De La Torre berpendapat bahwa alternatif dari spirit neoliberalisme dapat ditemukan dalam iman orang-orang. Tradisi-tradisi iman akan memperlengkapi orang termarjinalkan dalam pencarian kebebasan. Setiap usaha akan berakar pada kehidupan sehari-hari dalam pencarian makna bagaimana iman dapat menyediakan cara bertahan dari kondisi tanpa hak. Lebih jauh ia berkata:

To view a faith tradition from the margins of power is to move beyond a traditional understanding of religion which fuses and confuses how those privileged by the faith tradition present their religion to the Euro-American audience with how the vast majority of believers, who exist on the underside of power and privilege, interpret that same faith for daily survival. To believe from the margins, and commit to the praxis belief engenders, provides a salvific approach to dealing with the overarching false religion of neoliberalism. 

Arah kita sekarang

Para tokoh di atas memberikan banyak alternatif arah yang bisa kita ambil. Wattson dan Hodgson memberikan empat skenario dan diperlukan partisipasi lokal, nasional dan global. Rizky dan Majidi, mendeskripsikan ragam peran yang bisa kita lakukan baik secara individu sampai kelompok. Bregman mengingatkan kita mengenai regulasi ekonomi serta peran pemerintah. Terakhir, De La Torre menekankan peranan iman yang berada di pinggiran.

Segala ide yang disampaikan memiliki maksud untuk menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik bagi semua orang. Sebagian ide ini mungkin dianggap tidak masuk akal atau tidak dapat diterima akal sehat. Namun, demikian juga dengan neoliberalisme sebelumnya, pemikiran Friedman dan Hayek merupakan hal yang tidak masuk akal pada masanya. Begitu juga berbagai pemikiran lain, seperti kesetaraan gender atau persamaan hak orang kulit hitam dan putih atau pembebasan budak menjadi hal yang ditentang pada masanya.

Selain itu kita juga perlu mengingat bahwa setiap kita memiliki perannya masing-masing. Kita memulai dari diri sendiri dengan apa yang bisa kita lakukan. Bregman mengingatkan bahwa seringkali kita melupakan bahwa setiap kita memiliki peran yang berbeda-beda. Bregman berkata:

In talk shows and around dinner tables – is to choose our favourite kind of activism: we give Greta Thunberg a big thumbs up but fume at the road blockades staged by Extinction Rebellion. Or we admire the protesters of Occupy Wall Street but scorn the lobbyists who  set out for Davos. . . That’s not how change works. All of these people have roles to play. Both the professor and the anarchist. The networker and the agitator. The provocateur and the peacemaker. The people who write in academic jargon and those who translate it for a wider audience. The people who lobby behind the scenes and those who are dragged away by the riot police.

Selain itu, kita juga diingatkan oleh Rizky dan Majidi serta Wardana mengingatkan kita mengenai ketidaksetujuan kita terhadap ketidakadilan yang kita lihat dalam RUU ini.
Rizky dan Majidi mengingatkan agar kita:

Perlu diwaspadai adanya berbagai jebakan seperti dipicunya konflik horisontal antar elemen masyarakat, serta pemanfaatan tema pelemahan negara (state).


Wardana mengingatkan kita dengan menuliskan:


Dengan demikian, kritik terhadap UU Cipta Kerja haruslah diletakkan sebagai bagian dari kritik atas kapitalisme. Kemudian, yang juga harus diperhatikan adalah perlawanan-perlawanan rakyat yang semakin besar ini juga dapat menaikkan eskalasi konflik antar-elite. Elite yang berada di luar kekuasaan bisa saja sedang menunggu kesempatan yang tepat untuk menunggangi gerakan untuk memuluskan agenda perebutan kekuasaan. Oleh karena itu, artikulasi yang lebih tegas—bahwa gerakan ini adalah perlawanan terhadap kapitalisme—akan menjadi pembeda antara gerakan rakyat yang progresif dengan gerakan yang membawa agenda elite oportunis.


Daftar Acuan

Bregman, Rutger. 2020. The neoliberal era is ending. What comes next? 14 5. Diakses 9 28, 2020. https://thecorrespondent.com/466/the-neoliberal-era-is-ending-what-comes-next/61655148676-a00ee89a.

Brenner, N, J. Peck, dan N. Theodore. 2010. “Variegated neoliberalization: Geographies, modalities, pathways.” Glonal Networks 182-222.

ICEL. 2020. Berbagai Problematika Dalam UU Cipta Kerja Sektor Lingkungan dan Sumber Daya Alam. 6 10. Diakses 10 11, 2020. https://icel.or.id/wp-content/uploads/ICEL-SERI-ANALISIS-UU-CIPTA-KERJA-SEKTOR-LH-DAN-SDA-compressed.pdf.

Idris, Muhammad. 2020. Mengenal Apa Itu Omnibus Law RUU Cipta Kerja dan Isi Lengkapnya. 5 10. Diakses 10 5, 2020. https://money.kompas.com/read/2020/10/05/102200626/mengenal-apa-itu-omnibus-law-ruu-cipta-kerja-dan-isi-lengkapnya?page=all.

KBBI. t.thn. KBBI Daring: Neoliberalisme. Diakses 9 2020, 28. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/neoliberalisme.

Lumbanrau, Raja Eben. 2020. RUU Omnibus Law Cipta Kerja: Mengapa pekerja kantoran 'masa bodoh' dan apa dampaknya bagi mereka? 2 3. Diakses 9 2020, 28. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51661671.

Ni'matun, Naharin. 2020. Aksi Virtual AJI untuk Menolak Omnibus Law. 8 10. Diakses 10 11, 2020. https://aji.or.id/read/video/99.html.

Persada, Syailendra. 2020. 5 Aturan Omnibus Law Cipta Kerja yang Dianggap Rugikan Pekerja. 15 2. Diakses 9 28, 2020. https://nasional.tempo.co/read/1307814/5-aturan-omnibus-law-cipta-kerja-yang-dianggap-rugikan-pekerja/full&view=ok.

Rizky, Awalil, dan Nasyith Majidi. 2008. Neoliberalisme Mencengkeram Indonesia. Jakarta: E. Publishing.

Shalihah, Nur Fitrianus. 2020. Apa Itu RUU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja, yang Ditolak Gejayan Memanggil Lagi? 9 3. Diakses 9 2020, 28. https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/09/173000665/apa-itu-ruu-omnibus-law-cipta-lapangan-kerja-yang-ditolak-gejayan-memanggil?page=2.

Wardana, Agung. 2020. Omnibus Law Cipta Kerja: Peneguhan Hukum sebagai Instrumen Akumulasi Kapital. 8 10. Diakses 10 11, 2020. https://indoprogress.com/2020/10/omnibus-law-cipta-kerja-peneguhan-hukum-sebagai-instrumen-akumulasi-kapital/?fbclid=IwAR3Ib5RrAiHLx_TtYxVPmkLBqtMkWPTHtAn-3k9bsf0-2QKL1g-_5wh4PgY.


LATEST POST

 

            Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga di Malang mend...
by Yawan Yafet Wirawan | 20 Oct 2020

"Aku yakin kamu pasti senang kalau orang lain menganggap kamu ‘incredible’!"(...
by Timothy Aditya Sutantyo | 20 Oct 2020

Mungkin aku hanyalah seorang mahasiswa biasa dan masih jauh sekali untuk membicarakan pernikahan. Te...
by Yeheskiel Dewabrata | 19 Oct 2020

TAGS

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER