Jika Yesus Lahir di Tahun 2021…

Best Regards, Live Through This, 02 January 2022
Tahun 2021 menjadi tahun yang berat bagi kita akibat pandemi COVID-19 yang masih belum usai. Akan tetapi, kondisi pandemi tidak separah tahun 2020 lalu, karena pemerintah kembali mengizinkan aktivitas masyarakat dilaksanakan, termasuk ibadah secara on-site di gedung gereja. Syukur kepada Allah, tahun ini kita boleh merayakan Natal di gedung gereja meski dengan keterbatasan kondisi. Dan saya (mungkin juga Ignite People sendiri) mulai membayangkan, bagaimana jika Yesus lahir dengan kondisi yang kita alami saat ini.

Pada hari Minggu awal Desember lalu, saya teringat dengan sebuah meme pada hari Natal tahun 2020. Meme itu menggambarkan percakapan Yusuf dengan pemilik penginapan. Yusuf dan Maria ditolak oleh pemilik penginapan karena kapasitas pengunjung sudah penuh. Meme serupa muncul lagi di tahun ini dengan sedikit berbeda. Kali ini, Yusuf dan Maria ditolak pemilik penginapan karena belum vaksin!



Melihat meme ini, saya sempat tertawa sekaligus bertanya dalam hati: apakah ini akan benar-benar terjadi jika Yesus lahir di tahun 2021? Bagaimana kondisi, alur cerita, dan scene kejadiannya? Jika kita mengandaikannya seperti narasi film, apakah cerita gembala-gembala tidak akan ada karena larangan berkerumun? Ataukah Yesus lahir di kandang karena Yusuf dan Maria sedang dikarantina?


Mari kita sejenak membaca kisah Natal secara "liar" (baca: imajinatif). Mari kita berandai-andai jika kondisi pandemi COVID-19 yang kita alami saat ini terjadi saat peristiwa kelahiran Yesus. Atau kita juga bisa berandai-andai peristiwa Natal terjadi di tahun 2021 ini, yaitu ketika Yesus lahir dalam masa pandemi. Kemungkinan besar kita akan memikirkan apa yang saya pertanyakan di atas, bahkan kita bisa mengkonstruksinya menjadi lebih dari sekedar sebuah komedi, melainkan sebuah penafsiran. 


Saya mencoba untuk membagikan pembacaan saya terhadap kisah ini dengan perspektif kondisi pandemi saat ini tanpa mengubah cerita yang ada dalam teks. Saya membayangkan Yusuf dan Maria melakukan perjalanan dari Nazaret menuju Betlehem guna melakukan sensus penduduk. Entah mereka berjalan kaki atau menaiki keledai (karena teks tidak memberi keterangan dengan cara apa mereka pergi), perjalanan ini sangat jauh dan berbahaya bagi Maria yang tengah hamil tua. Sesampainya di Betlehem, mereka justru tidak mendapatkan tempat penginapan. Kita bisa berasumsi, mungkin saja Yusuf dan Maria tidak mendapat penginapan karena tempat penginapan memang benar-benar penuh, atau pemilik penginapan sengaja menolak mereka dengan dalih tempat penginapan sudah penuh. Jika kita membaca dengan kondisi saat ini, Yusuf dan Maria bisa saja ditolak karena tidak melakukan karantina terlebih dulu, tidak dapat menunjukkan sertifikat vaksin, atau tidak menerapkan protokol kesehatan sesuai yang dianjurkan.


Kita bisa melihat di sini betapa ironisnya nasib pasangan muda ini. Mereka tidak mendapatkan pelayanan yang semestinya mereka dapatkan, apalagi Maria dalam kondisi hamil. Yang mereka dapatkan adalah sebuah kandang. Sejumlah arkeolog memperkirakan kandang yang dimaksud bukanlah kandang yang umumnya kita jumpai saat ini secara langsung atau melalui visualisasi Natal, melainkan kandang yang ada dalam rumah penduduk. Entah kandang yang digunakan Yusuf dan Maria untuk bermalam berwujud kandang yang kita jumpai saat ini atau sesuai dengan penemuan arkeolog, kita dapat memastikan bahwa kandang bukanlah tempat yang semestinya ditempati manusia, apalagi jika ditempati oleh seorang ibu yang akan melahirkan!


Photo by Travis on Unsplash


Sampai di sini, kita menyadari bahwa peristiwa Natal adalah peristiwa yang penuh dengan tragedi kemanusiaan. Apalagi di masa pandemi yang telah berlangsung selama dua tahun ini, berbagai macam kasus yang melukai kemanusiaan justru semakin banyak terjadi. Ketika wabah varian baru menyebar, kita bisa melihat kebijakan-kebijakan pemerintah yang dibuat demi menyelamatkan jutaan nyawa manusia. Memang kebijakan tersebut akhirnya mampu menekan jumlah korban, tetapi penyimpangan dari rasa kemanusiaan juga muncul bersama-sama.


Tidak hanya pemerintah, sesama rakyat juga melakukan yang demikian. Pengabaian protokol kesehatan terjadi dimana-mana, mulai dari rakyat kecil hingga golongan elit. Beberapa oknum dari pihak medis yang seharusnya menjadi garda paling depan dalam penanganan wabah ini justru memanfaatkan wabah ini demi kepentingan pribadi. Kita berharap kondisi bisa kembali normal bukan hanya agar kehidupan berjalan normal seperti pra-pandemi, tetapi juga karena kita sudah muak dengan tragedi kemanusiaan yang terjadi selama pandemi.


Kita kembali ke kisah Natal. Walaupun mereka "dipaksa" keadaan untuk tinggal dan bersalin di kandang, Maria tetaplah melahirkan bayi yang merupakan inkarnasi dari Sang Firman Allah, Yesus Kristus. Ini menjadi sebuah paradoks. Di balik sukacita karena kelahiran seorang bayi, kondisi saat bayi lahir sangat memprihatinkan, bahkan sangat tidak manusiawi. Tetapi dalam kondisi "terkarantina", kelahiran Yesus Sang Anak Allah justru memberi suatu harapan dan semangat bagi kita saat ini, bahwa Allah tetap merengkuh kerapuhan dan tetap tinggal bersama kita di dunia dalam masa pandemi sekalipun. Para gembala yang datang pasca kelahiran-Nya memperkuat harapan ini, bahwa Allah hadir dalam Yesus untuk memulihkan keadaan kita saat ini. Suatu saat nanti kita dapat terbebas dari pandemi dan menjalani kehidupan yang benar-benar normal seperti sediakala.


Di momen Natal dan tahun baru ini, marilah kita merefleksikan kembali makna Kekristenan kita. Natal tidak hanya sebatas momen peringatan akan kelahiran Yesus Kristus untuk penebusan dosa manusia. Lebih dari itu, Natal juga menjadi momen partisipasi Allah untuk hidup dalam kemanusiaan yang rapuh dan memperjuangkan kemanusiaan itu. Maka kita juga harus turut berpartisipasi untuk memperjuangkan kemanusiaan yang rapuh ini. Tahun baru juga kita maknai tidak hanya sebagai momen pergantian tahun yang baru, tetapi juga momen kita meretas diri dari kehidupan yang lama dan memasuki perubahan hidup menjadi hidup yang bermakna bagi sesama.


Selamat merefleksikan Natal, dan selamat berziarah di tahun yang baru!

LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER