Mindful Me

, What's Next, 04 March 2021
Salah satu alasan kita tidak akan pernah bisa mindful terhadap diri sendiri adalah karena kita selalu ingin berdiam di masa lalu, dan tidak ingin meninggalkannya karena kita akan kehilangan alasan untuk menyalahkan orang lain maupun diri sendiri.

“Jangan lupa bahagia, yaa!”

Bahagia.

Satu kata yang mungkin kehadirannya bukan hanya pada saat kita sedang baik-baik saja, tapi juga dalam situasi yang sangat tidak ideal seperti satu tahun terakhir. Pandemi yang kita “rayakan” kemunculannya di Indonesia sejak 2 Maret 2020 membuat kata “bahagia” semakin terasa klise. Bagaimana kita bisa tetap berbahagia kalau kondisinya tidak sesuai dengan keinginan kita? Kalaupun ada peringatan Hari Berbahagia Internasional tanggal 20 Maret ini, lalu apa gunanya jika keadaan kita penuh dengan keluhan dan keputusasaan? Bukankah kalau kita berpura-pura tertawa sementara hati ingin menangis keras, itu sama saja artinya dengan kita sedang menyangkali the painful sorrow?

Jika demikian, lalu apakah kita tidak akan pernah bisa berbahagia?

Bisa, ketika kita melatih mindfulness,

dan merangkul penderitaan menjadi pelajaran berharga.




Sebagai pemantik untuk rangkaian karya dari Ignite People sepanjang Maret-April ini, Minbi mau cerita sedikit tentang apa yang Minbi pelajari tentang mindfulness. Meskipun punya latar belakang psikologi dan pernah mempelajari variabel tersebut, Minbi tidak benar-benar menginternalisasinya dalam kehidupan sehari-hari. Ada sebuah unnecessary problem yang bercokol dalam diri Minbi selama bertahun-tahun, dan itu memengaruhi kehidupan Minbi. Iya, disebut unnecessary karena sebenarnya Minbi punya hak untuk segera mengakhirinya tapi dasar masih remaja, Minbi tidak mau karena merasa akan semakin tidak bergairah untuk hidup.

Anehnya, justru setelah masalah itu selesai, Minbi baru menyadari ada banyak waktu yang terbuang karena tidak memberanikan diri untuk menyambut kerapuhan hidup Minbi.  Di satu sisi, Minbi justru baru belajar bahwa selama bertahun-tahun itulah tumpukan penyangkalan emosi negatif dan pikiran buruk semakin menjadi. Padahal kalau mau jujur, permasalahan itu mungkin hanya faktor pencetus yang menyadarkan Minbi terhadap ketidakmampuan untuk mengasihi diri sendiri. Ya, saat itu Minbi sangat takut untuk mengakuinya karena juga tidak ingin merusak harapan orang-orang yang percaya pada Minbi. Meskipun ada banyak hal berubah sejak itu, Minbi justru bersyukur karena akhirnya bisa menjadi lebih mindful pada diri sendiri, menerima apapun yang diterimanya, dan mengolahnya menjadi pelajaran berharga. Dari situlah kebahagiaan itu muncul, karena dalam setiap proses itu Minbi merasakan dengan sangat jelas ada Bapa di surga yang memimpin, menguatkan, bahkan menegur untuk tidak terus-menerus terpaku pada masa lalu.

Minbi teringat ada seorang teman yang bertanya mengenai permasalahan di atas, “Gimana, nih? Cepet forget ga?” Pertanyaan itu mungkin sederhana, tapi membuat Minbi terus memikirkannya hingga sekarang. Bukan karena tidak bisa melupakannya (well, the problem is really hurt yet helps me to find and deal with myself), tapi karena Minbi disadarkan pada satu hal:

Salah satu alasan kita tidak akan pernah bisa mindful terhadap diri sendiri adalah karena kita selalu ingin berdiam di masa lalu, dan tidak ingin meninggalkannya karena kita akan kehilangan alasan untuk menyalahkan orang lain maupun diri sendiri.





Bagaimana dengan Ignite People?

Ada cerita mengenai perjuangan dalam meraih mindfulness?

Mari bagikan kisahmu di sini! Kiranya setiap goresan kata di website ini maupun coretan gambar yang Ignite People bagikan bukan hanya menjadi berkat bagi mereka yang berkunjung, namun juga menjadi sarana bagi Ignite People dalam merefleksikan apa yang sedang terjadi pada diri sendiri.

Selamat berkarya,

selamat menyelami diri sendiri dan merangkulnya,

karena Kristus telah terlebih dulu melakukannya demi kita.


With a virtual high-five,

Minbi

NB: Kepada teman Minbi di atas, 谢谢 karena telah menanyakan pertanyaan reflektif itu. Semoga kita sama-sama dimampukan Allah untuk berdamai dengan diri masing-masing, ya.

 

RELATED TOPIC

LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER