Ohana dan Negeri Seberang Pelangi

Best Regards, Live Through This, 29 September 2020
Ohana means family. Family means nobody gets left behind, or forgotten.

Inilah saya, pemudi 21 tahun, yang sedang membuka mata menghadapi realita hidup, yang sebentar lagi benar-benar akan saya alami. Bahwa hidup itu manis dan pahit seperti cokelat, ada kejutan dan pelajaran yang tidak terduga di dalamnya.

Bulan Desember 2018 adalah masa Natal teraneh dalam hidup saya. Begitu janggal sekaligus sedih melihat ayah saya tiba-tiba gencar mengunjungi kakek yang sakit setiap hari di rumahnya. Bag yang terikat kanan-kiri di motor yang berisikan barang jualan tidak serta-merta membuatnya lelah. ditambah lagi harus antar-jemput adik saya sekolah, ikut Kaum Pria setiap Minggu; benar-benar waktu untuk keluarga drastis berkurang. Jujur saja, saya ingin ayah selalu ada untuk keluarga seperti biasanya.

Sebagai cucu, mungkin saya pikir ini hanya sakit diare dan tidak nafsu makan biasa, mengingat fisik kakek saya biasanya masih cukup kuat. Tetapi ternyata saya salah. Dia terbaring lemah di kasur dan tubuhnya mulai kurus kering kerontang. Masuk kamarnya pun saya tidak tega. Saya hanya bisa murung dan memutar beberapa lagu rohani untuk memberikan kekuatan lewat speaker bluetooth setiap minggu ketika berkunjung ke rumahnya.

31 Desember 2018. Saya ingat jam 22.00 seorang sepupu voice call saya. Alih-alih menanyakan soal liburan, perbincangan “lintas tahun” ini berujung dengan curcol tentang keadaan ayah saya yang bolak-balik rumah kakek setiap hari. Harapan mendapatkan kekuatan dan ketabahan darinya pun pupus mendengar pendapatnya tentang pro-euthanasia yang dilontarkannya dengan nada yang agak tinggi. Sontak kedongkolan mengakhiri perbincangan selama dua jam lebih itu.


1 Januari 2019. Tahun baru yang penuh derai air mata bagi saya. Kami sekeluarga mengunjungi rumah paman yang mengalami kesulitan berjalan pada kedua kakinya. Ketika diminta mendoakan paman, saya menangis terisak-isak. Rasa kasihan kepada ayah yang sebulan lama tertumpuk dipicu dengan keadaan paman saya yang kesulitan berjalan membuat air mata ini berderai mengalir. Saya bertanya kepada Tuhan, sekalipun ada adik-adik ayah saya yang lain, yang peduli dan bekerja secara nyata dalam kesunyian, mengapa ayah saya harus mengalami “proses kehidupan” seperti ini?

Pertanyaan itu ada di benak saya setiap hari sambil berharap ayah meluangkan waktunya sedikit untuk keluarga. Ternyata tidak disangka dua minggu setelah tahun baru tepatnya hari Selasa, ayah mengajak saya dan adik untuk berkunjung ke rumah seorang kerabat di Kota Sumedang. Tetapi sayang, karena satu dan lain hal akhirnya keberangkatan diundur menjadi hari Sabtu.

19 Januari 2019, ya. Sabtu pagi itu ketika saya sudah mandi dan bersiap-siap, tiba-tiba ayah membatalkan lagi rencana keberangkatan ke Sumedang. Karena ternyata nenek tiba-tiba menelepon ayahku sambil menangis, memberi kabar bahwa kakek sedang kritis dan berada di rumah sakit sekarang. Bodohnya saya tidak percaya dan malah marah kepada ayah saya kalau ini adalah acting semata agar kami tidak jadi pergi ke Sumedang. Benar-benar kekecewaan saya sudah mencapai puncaknya. Sampai ibu saya yang mendengar ucapan saya memberitahu bahwa itu adalah kabar sungguhan. Langsung saya kabari paman yang saya kunjungi saat tahun baru lalu, bahwa kakek dilarikan ke rumah sakit. Hingga 17 menit kemudian saya mendapat kabar darinya bahwa kakek sudah tiada, diiringi lagu Tak Kutahu Kan Hari Esok yang menjadi playlist sepekan ini.


Saya heran, terpukul dan seketika merasa bersalah. Saya meminta maaf kepada paman terlebih ayah saya, jikalau saya pernah melakukan kesalahan kepada mendiang kakek saya selama hidup terlebih “keegoisan terselubung” terhadap ayah saya. Langsung saya dan adik menyiapkan foto mendiang kakek kami. Kami menyesal karena beberapa hari belakangan kami memang diminta untuk menyiapkan foto tetapi kami selalu menyepelekan.

Saya ingat ketika di rumah duka, ayah saya menangis ketika memberikan kata sambutan. Seketika terbayang kembali di benak saya, seberapa besar ketabahannya mengurus dan merawat kakek yang seringkali mengeluh atas lelahnya menjalani hidup, di tengah kesibukannya di sana-sini. Seharusnya saya bangga mempunyai ayah seperti itu, bukan malah harus kesal kepadanya.

Anak-anak, cucu-cucu, keponakan dan kerabat pun berdatangan ke rumah duka. Di sinilah saya mulai mengerti betapa berartinya support dari sesama keluarga dan orang-orang terdekat. Kehadiran mereka sungguhlah memberi kekuatan kepada kami sekeluarga. Bahkan beberapa sepupu yang dulunya saya rasa cuek, ternyata mereka sangatlah peduli dan telah banyak membantu.

Yang paling diingat ialah sepupu saya yang membuat dongkol di voice call saat malam Tahun Baru yang lalu. Ternyata dia dan adiknya masih memiliki hati yang peduli. Mereka berdua menangis saat penutupan peti. Saya juga ikut terharu dan menangis melihat kelembutan hati mereka walaupun dibalut dengan gaya high class yang mereka punya. Saya merangkul dan menenangkan mereka sambil berkata kesalahan kalian dimaafkan, juga mengambilkan tisu untuk salah satu dari mereka yang mimisan.

Tidak lupa juga saya menulis sepucuk surat yang saya selipkan di dalam peti mati kakek, yang berisikan rasa terima kasih untuk kakek karena sudah mau menjemput saya kala TK, meminta maaf kalau ada kesalahan, juga menyampaikan kalau kita nanti akan bertemu di negeri seberang pelangi alias di surga. Ayat Mazmur 73:26 juga saya tulis sebagai ayat pengingat dan penguat, bahwa sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batu dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.

Saat pemakaman peti, saya kagum kepada rasa solidaritas dari semua sepupu saya yang izin sekolah untuk menghadiri pemakaman, yang awalnya tidak diizinkan oleh orang tua mereka. Begitupun saya, Tuhan secara ajaib dengan caranya mengundur waktu kursus dan masuk kuliah saya. Ternyata Tuhan ingin memberikan saya pelajaran bahwa inilah siklus kehidupan yang cepat atau lambat pasti akan saya alami dan hadapi. Dan di balik negeri seberang pelangi, ternyata di sana ada harta yang paling indah dan berharga yang Tuhan berikan, yaitu adanya kasih Kristus yang dinyatakan melalui keluarga.

Ohana means family. Family means nobody gets left behind, or forgotten.






LATEST POST

 

            Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga di Malang mend...
by Yawan Yafet Wirawan | 20 Oct 2020

"Aku yakin kamu pasti senang kalau orang lain menganggap kamu ‘incredible’!"(...
by Timothy Aditya Sutantyo | 20 Oct 2020

Mungkin aku hanyalah seorang mahasiswa biasa dan masih jauh sekali untuk membicarakan pernikahan. Te...
by Yeheskiel Dewabrata | 19 Oct 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER