My Profession, My Confession

, What's Next, 03 August 2020
Mimpi bekerja di perusahaan multinasional, gaji besar dan posisinya menjanjikan?

Mungkin itu juga mimpi sebagian banyak orang. Namun bukan jaminan orang yang sudah mendapatkan hal di atas, merasa bersukacita dengan apa yang ia kerjakan.



Karir, diserap dari kata "carrier" yang berarti membawa. Di era COVID19 ini, sering kita "alergi" mendengar kata "carrier", namun mari melihatnya dari sisi berbeda kali ini. Ya, memang menurut etymonline.com, "carrier" bermakna  "person or animal that carries and disseminates infection without suffering obvious disease" - namun pada sisi lain "carrier" juga memiliki arti sebagai pembawa pesan; layaknya burung merpati yang pada masa itu menjadi media berkirim surat (diikat di kaki mereka) yang ditunggu kedatangannya.

Dalam pekerjaan yang kita lakukan, kita selalu membawa sesuatu. Seperti saat mendaki gunung, kita pun membawa "carrier", bukan? Maka dalam mendaki tangga karir, kita diajak berefleksi apa yang kita bawa? Pemahaman Calvin berkata, "biara" kita adalah dunia kita sehari-hari, termasuk pekerjaan kita. Konfesi, alias Pengakuan Iman, tak hanya kata-kata terucap di tengah kebaktian, melainkan aksi nyata dalam pekerjaan setiap hari.  Confession, yang semula hanya bermakna "vows taken upon entering a religious order," kemudian bergeser menjadi "public declaration," lalu juga "occupation one professes to be skilled in".

Di dunia pascapandemi, ketika WFH menjadi kelaziman baru buat kita, ketika bekerja diiringi dengan jantung berdisko karena munculnya cluster COVID19 perkantoran atau isu pemotongan gaji, PHK massal...ya, tidak mudah untuk terus mengingat pemaknaan Calvin tadi dalam pekerjaan setiap hari.  



***

"Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."
-Matius 6:21

Karir punya dua wajah - sebuah profesi dan konfesi. Profesi atau profession, adalah ketika kita sungguh-sungguh menaruh hati kita dalam karir yang dibangun (profess = affirm one's faith in or allegiance to a religion).

Dalam masa pandemi Covid-19, atau mungkin juga dalam keseharian kita, sering kali, kita dihadapkan pada pemikiran, apakah kita akan meloncat pada pekerjaan yang baru, atau bertahan? Atau, karena satu dan lain hal, harus banting setir ke karir yang lain? Semuanya sama-sama membutuhkan adaptasi yang cantik, hati yang siap dan iman kepadaNya.


Salah satu keterampilan yang dibutuhkan oleh dunia yang terus berkembang saat ini adalah kemampuan untuk beradaptasi pada situasi dan kondisi yang serba baru. Kegagalan untuk beradaptasi, dapat berpengaruh fatal bagi kita. Sebagai sebuah contoh, misalnya: saat adanya perubahan era telepon genggam menjadi smartphone dengan menjadi layar sentuh, Nokia, si raksasa telepon genggam itu merasa dirinya akan biasa-biasa saja, dan dengan percaya diri mengatakan, bahwa “Smartphone bukanlah pilihan manusia normal pada era ini”. Namun, dapat kita lihat sekarang, sang raksasa, seakan gagap menjawab kebutuhan masyarakat post-modern dan gagal melihat peta persaingan pasar telepon genggam. Akibatnya, Nokia mati dimakan zaman yang berubah, berubah dan berubah. Demikian juga dengan brand-brand lain yang kita kenal, seperti Blackberry. 



Apakah kita carrier yang mampu menerima perubahan dengan cepat atau justru gagap dan bersiap gagal dalam menjawab tantangan perubahan zaman? Keduanya sama-sama berisiko, tetapi Dessler misalnya mengatakan bahwa, perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi, yang berbeda adalah bagaimana tanggapan bijak kita dalam berhadapan dengannya. Kadang mereka yang merasa masih nyaman, dan enggan untuk berubah, cenderung cepat “mati” dalam persaingan dunia pekerjaan. Sebaliknya, bagi mereka yang sudah “siap senjata”, mereka akan maju dengan sebuah keberanian, dan mengatakan kepada si zaman, “Aku siap! Hadapi aku, dan kau akan lihat, aku mampu mengatasimu!”


Matius 25:1-13 menggambarkannya secara sederhana. Ada sepuluh orang gadis dengan tugas yang sama (menyambut sang mempelai), dan modal yang sama (pelita). Namun, tentu kita mengetahui bahwa, 5 di antaranya yang bijaksana, mempersiapkan satu senjata tambahan: minyak cadangan. Bila kita gambarkan pada dunia karir, mungkin saya akan mengatakannya begini. Kita semua mungkin diberikan tugas yang sama, pilihannya adalah, apakah kita mau mengembangkan kemampuan kita, dan membangun karir dengan sungguh-sungguh, atau hanya puas dengan posisi, dan lupa, bahwa ada aspek konfesi dan profesi dalam pekerjaan kita. 


Yuk, sampaikan pengalamanmu dalam memaknai konfesi dan profesi di karirmu! 


Kamu bisa berkontribusi melalui Ignite GKI dengan berbagai macam bentuk: tulisan, gambar, puisi, komik, video, dan media seni lainnya. Jangan lupa juga untuk tetap ikuti Ignite GKI, karena perubahan akan terus terjadi, dan ayo, jadi bagian di perubahan itu! Kami tunggu karya, dan kontribusi kalian!

 

RELATED TOPIC

LATEST POST

 

Sebuah Pertemuan23 Januari 2019, GKI Gunung Sahari. Sekitar 1 tahun yang lalu, aku mengenal mereka,...
by Jonathan Joel Krisnawan | 22 Sep 2020

Ignite People, awal tahun ini menjadi tahun yang kurang menyenangkan untuk kita. Tidak hanya kurang...
by Regina Megumi Tandiari | 22 Sep 2020

Melayani remaja bisa dibilang merupakan hal yang paling menantang di zaman ini. Aku merupakan seoran...
by Noni Elina | 22 Sep 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER