Triggered

, What's Next, 11 April 2019

Dear Youth. 

April 2019 ini akan menjadi bulan yang akan dikenang banyak orang, setidaknya selama lima tahun ke depan. Bagaimana tidak, bangsa kita akan menyelenggarakan hajatan terbesar lima tahunannya. Kemeriahannya kini dengan mudah kita rasakan di setiap sudut jalan. Bendera, spanduk, serta poster bergambar calon kandidat serta lambang Parpol memenuhi hampir seluruh ruang publik yang biasanya sepi. Paling penting, keputusan bersama yang kita buat sebagai bangsa inilah yang juga akan kita nikmati sampai 2024 nanti. 

Perasaan saya—dan mungkin kita—sebagai warga negara Indonesia bercampur aduk. Senang, karena setidaknya demokrasi hasil reformasi 21 tahun yang lalu dapat kita nikmati sampai saat ini; tak ada lagi represi pemerintah dalam proses pemilu. Kita bebas memilih siapa pun, bahkan bebas mengekspresikan diri secara terbuka untuk mendukung salah satu pihak. Namun di sisi lain, terlintas kegemasan, kegentaran, bahkan kesedihan setiap menemui kericuhan yang timbul di tengah masyarakat dalam proses demokrasi ini. 

Kita, pemuda, sebagai pribadi yang memiliki daya kritis tinggi, tentu sadar betul bahwa penyelenggaraan pemilu negara kita masih jauh dari kata ideal. Perubahan besar aturan pemilu, dari yang sebelumnya hanya dilakukan oleh anggota legislatif menjadi pemungutan suara langsung oleh masyarakat memang membutuhkan kedewasaan berpolitik yang prosesnya tak singkat. 

Kedewasaan politik sendiri tentu bukan menjadi masalah pribadi semata, melainkan juga golongan serta kelompok masyarakat. Sebagai pemuda Kristen yang tumbuh dalam lingkungan Gereja, tak jarang kita melihat Gereja gamang dalam mengambil sikap politik, pun dengan jemaatnya. Kita ragu- ragu sejauh mana politik dapat dibahas dan disuarakan dalam Gereja—baik terkait dengan regulasi pemerintah maupun apa yang tertulis di Alkitab. 

Kesenjangan antara sebuah proses pemilihan langsung yang ideal, realitas di masyarakat, serta pendewasaan politik yang mau tidak mau harus dialami oleh individu maupun komunitas inilah yang akan kita angkat sebagai keresahan bersama di tema IGNITE bulan ini. Berlandaskan pada kapasitas pemikiran kaum muda yang kreatif, imajinatif, dan eksplosif, mari kita—pemuda—jelajahi ruang tersebut dan memunculkan pemantik yang konstruktif. Triggered, ya itu tema kita bulan ini. 

Pentingnya partisipasi masyarakat dalam menjalankan sebuah proses berbangsa dan bernegara tertulis dalam Amsal 14:28 yang berbunyi, “Dalam besarnya jumlah rakyat terletak kemegahan raja, tetapi tanpa rakyat runtuhlah pemerintah.” Di tengah segala hikmat serta kemegahannya sebagai raja Israel, Salomo sadar betul bahwa rakyat merupakan komponen penting dalam sebuah proses penyelenggaraan negara. Mustahil suatu negara dapat terus berkembang dan menjadi negara maju, jika rakyat di dalamnya tidak berjalan ke arah yang sama. 

Di masa Perjanjian Baru, Yesus berfirman, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Melalui ayat ini, Yesus ingin mengingatkan bahwa sejatinya manusia adalah makhluk yang multi-dimensi dan multi- identitas. Misal, di rumah sebagai anak, sedangkan di kampus sebagai mahasiswa serta ketua organisasi; di rumah adalah seorang ibu, dalam pekerjaan sebagai seorang pemilik toko; dan lain sebagainya. 

Keberagaman peran dan tanggung jawab yang dipikul seseorang tidak membuat masing-masing identitasnya saling menggantikan, melainkan dijalankan bersama-sama. Demikian pula identitas 

sebagai seorang Kristen dan Warga Negara Indonesia (WNI), keduanya seharusnya tidak terpisahkan walau dikotomi antara keduanya umum terjadi. 

Tema IGNITE bulan ini adalah triggered, karena kali ini kami ingin menggugah sekaligus mengundang kegelisahan kalian tentang lika-liku politik yang akan kita hadapi bersama sebagai sebuah bangsa. Kami di IGNITE senang bercerita dan menikmati cerita. Mari saat ini kita saling berbagi gagasan, menguatkan, serta menajamkan pemikiran—sebagai seorang Kristen, sebagai Gereja, serta sebagai pemuda bangsa. Kalian bisa menceritakan segala hal tentang politik, mulai dari politik praktis, ideologi, keberpihakan, hingga bias (prejudgment). 

Kolose 2:7 berbunyi “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” Lewat semangat ini, kami yakin bahwa berbagi dan saling menguatkan di dalam Tuhan merupakan bentuk ungkapan syukur yang konstruktif, yang dapat dilakukan oleh siapa pun. Sebab itu, jangan ragu untuk turut berkontribusi. Kalian dapat mengirimkan karya baik dalam rupa tulisan, visual, maupun audiovisual. Jika riak keraguan mulai timbul, jangan sungkan untuk menghubungi kami lewat kanal sosial media yang kami miliki. 

Selamat berkarya! 

 

RELATED TOPIC

LATEST POST

 

“Swing low, sweet chariotComing for to carry me homeSwing low, sweet chariotComing for to carr...
by Christan Reksa | 18 May 2019

Belakangan ini sering terjadi perdebatan, bahkan perpecahan dari kedua kubu politik dimana para pend...
by Priska Aprilia | 18 May 2019

“Untuk beli bibit.. ““Untuk beli obat, Neng...”“Kemarin harga jatuh. P...
by Surya Hadi | 18 May 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER