Rumah ke Rumah, Gereja ke Gereja

Best Regards, Live Through This, 17 July 2020
“Pindah berkala, rumah ke rumah Mengambil pelajaran jika berpisah Jikalau suatu saat berujung indah Catat nama kita dalam sejarah”

Baskara Putra, atau yang lebih akrab disapa Hindia, memang selalu membuat lagu-lagu yang menggerakkan para pendengar untuk merefleksikan diri mengenai hal-hal yang menjadi permasalahan hidupnya. Dengan lagunya yang terkesan sederhana namun memiliki arti yang kuat, Hindia dapat menjawab setiap permasalahan yang dialami oleh semua orang. Mungkin, sebagian dari kita telah mengetahui lagu berjudul "Evaluasi" yang mengajarkan kepada kita akan pentingnya introspeksi diri, Secukupnya yang mengafirmasi kesedihan kita. Spesial pada artikel kali ini aku akan mengupas salah satu lagunya yang berjudul “Rumah ke Rumah”. Maybe you guys, have to listen that song!

“Rumah ke Rumah” menceritakan tentang bagaimana seseorang dapat mengambil pelajaran dari hubungan yang pernah dia jalani bersama "barisan para mantan"-nya, walaupun ternyata dia masih menyimpan harap akan ujung yang indah bersama salah satu dari mereka. Tatkala orang ini juga memberi pesan kepada para mantannya itu untuk selalu hidup bahagia dan kuat karena mereka yang sudah mengajarkan dia akan segala hal di dalam hidup.

Memang, melalui lagu ini aku harus mengakui, aku mendapat pelajaran tentang "hikmah" yang dapat kupetik dari hubunganku dengan beberapa orang yang pernah berlabuh  dalam hidupku. Namun, tak hanya itu yang kudapat, melainkan juga mengenai hubunganku dengan persekutuan yang sejati, yaitu gereja.

Aku sudah beberapa kali merasakan yang namanya "pindah gereja" sejak aku masih tinggal di tempat kelahiranku, Denpasar. Beberapa kali pula aku harus beradaptasi dengan lingkungan yang ada di gereja tersebut. Terkadang, aku juga menjumpai dua kejadian yang berkesan: datangnya orang baru, dan perpisahan dengan orang yang sudah dari lama bersekutu di gereja itu. 

Sudah biasa bagi aku untuk menghadapi yang namanya kedatangan dan perpisahan ini, karena menurutku :

“People come and go, but memories still stay.”

Wajar bagi kita semua untuk merasakan momen "datang dan pergi" ini, apalagi dalam lingkup  gereja sendiri. Ada yang karena pekerjaan harus berpindah gereja, ada juga yang harus pindah gereja karena pindah rumah. Ada yang karena dia memiliki masalah dengan seseorang di dalamnya, lantas membuat orang itu atestasi ke luar, ada juga yang atestasi karena mengikuti pasangan hidupnya.

Lantas, bagaimana jika kita yang melakukan ‘datang dan pergi’ tersebut? 

Pergumulan mengenai atestasi gereja yang kurasakan sekarang ini menjadi sebuah polemik di dalam hati dan pikiranku. Di saat orang-orang bisa bertahan dalam berbagai ujian dan pencobaan yang mereka rasakan di gereja, seperti masalah pribadi dengan seseorang yang berjemaat di gereja itu dan juga masalah yang terjadi dalam mengurus gereja atau komisi atau bidang tertentu, baik ibadahnya maupun acara-acaranya. Lantas apakah semua hal di atas membuat pergumulanku ini berhasil mengubahku menjadi seorang yang kekanak-kanakan dalam kerohanianku? Belum tentu. 

Aku dididik oleh kedua orang tuaku yang sejak dini memintaku untuk selalu melayani di gereja, dan ketika aku memasuki masa katekisasi, aku mulai memahami akan tugas dan panggilan gereja, yaitu koinonia (persekutuan), diakonia (pelayanan), dan marturia (kesaksian). Ketiga elemen ini selalu aku lakukan dengan segenap hatiku untuk memuliakan nama Tuhan, karena bagiku sendiri, 

Tugas dan panggilan ini bukan bertujuan untuk mencari ketenaran semata ataupun menjadikan ini sebagai pelarian kita atas setiap masalah yang terjadi dalam hidup kita, melainkan tugas dan panggilan itu memang ditujukan untuk kemuliaan-Nya yang ajaib atas hidup kita.

Aku tidak bermaksud untuk mendiskreditkan ataupun menjatuhkan gerejaku sendiri, namun aku mulai merasakan kehilangan esensi akan ketiga elemen itu sejak pertengahan tahun 2019, di mana saat itu aku akan melanjutkan studiku di Bandung. Justru, aku  mendapatkan esensi tersebut kembali setelah aku beribadah di salah satu gereja di Bandung, dan mulai terjun dalam pelayanan di sana menjelang akhir tahun. Walau aku hanya bisa beribadah dan melayani di sana selama 5 bulan saja, namun esensi dari tugas dan panggilan gereja itu masih terasa dalam hati dan pikiranku hingga saat ini.

Bisa dibilang bahwa berbagai polemik yang ada di dalam gerejaku ini membuatku mulai merasakan bahwa orang-orang yang terlibat dalam pelayanan di gerejaku ini tidak menjadikan pelayanan ini sebagai wadah untuk memuliakan nama Tuhan, namun justru menganggap bahwa pelayanan ini diibaratkan seperti seorang "budak korporat" di suatu perusahaan, sehingga membuat esensi tersebut menjadi pudar dan bahkan hilang.

Lalu, aku pun mulai mencari jawaban atas pergumulanku ini. Aku pernah membaca sebuah artikel yang ditulis oleh salah satu kontributor Ignite, yaitu Sakit Hati Berujung Atestasi, dan juga aku pernah mendengar salah satu podcast yang membahas mengenai topik yang sama dengan pergumulanku ini, yaitu Gibahin Gereja, Dosa Gak Tuh?. Dari kedua hal ini, aku memahami betul jika sebuah "rumah" yang rusak haruslah kita perbaiki, bukan kita tinggalkan karena "rumah" itu ada dalam diri kita, bukan tentang gedungnya, maupun organisasinya. Namun, yang menjadi pertanyaanku sekarang ini ialah:

Bagaimana jika orang yang menetap dalam "rumah" tersebut menolak perbaikan dari diri kita? 

Apakah harus tiap hari Minggu kesehatan mental dan rohani kita sakit oleh karena penghuni "rumah" itu sendiri?

Lalu akupun mulai membicarakan hal ini kepada Papaku yang merupakan anggota Komisi Teologi di gereja. Aku sempat khawatir jika aku akan dimarahi oleh Papa oleh karena keinginanku untuk mundur dari pelayanan ini dan berpindah ke gereja lain, namun ternyata Papa berkata kepadaku:

“Kalau memang pelayananmu disana sudah tidak dapat dirasakan lagi dan kamu merasakan arti dari tugas dan panggilan itu di gereja lain, ya silakan saja, yang penting dari personal kamu, kamu benar-benar merasakan pertumbuhan rohani di tempat baru itu.”

Namun Papa menganjurkanku untuk menggumuli ini kira-kira hingga tahun depan karena diriku yang masih belum tahu akan perkuliahanku selanjutnya di tahun ini. Setelah aku memutuskan untuk mengikuti UTBK-SBMPTN lagi aku tetap mencari jawaban dan pertolongan Tuhan akan pergumulanku ini. Toh pergumulan itu tidak harus ada jawabannya saat ini kan? Selama kita berproses melalui pergumulan-pergumulan yang kita hadapi, kita pun dapat mengetahui pula akan jawabannya.

Dari pengalamanku yang bergumul mengenai keinginan untuk atestasi gereja ini, aku mulai tersadar akan suatu hal yang dapat kupetik, yaitu bahwa beribadah dan melayani merupakan suatu hal yang personal antara kita dengan Tuhan. Kita memiliki hak untuk merasakan hadirat Tuhan melalui ibadah dan pelayanan entah itu di gereja sendiri maupun harus atestasi ke gereja lain. 

Jikalau memang atestasi adalah sebuah jawaban atas apa yang menjadi pergumulan kita, maka kita pun harus siap dengan berbagai konsekuensi yang kita dapatkan, salah satunya ialah melakukan "datang dan pergi", berpindah dari “Rumah ke Rumah”, dan mengambil pelajaran jika berpisah.

LATEST POST

 

"Ibadah seharusnya memelihara kehidupan bukan malah mengancam kehidupan"Minggu, 19 Juli 20...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 11 Aug 2020

Lee Ha-yi, atau yang lebih dikenal dengan nama Lee Hi, merupakan seorang singer-songwriter asal Kore...
by Jerell Michael Cussoy | 11 Aug 2020

Sudah bertahun-tahun aku melihat anakku terkulai lemah di atas ranjangnya. Tubuhnya panas, sewaktu-w...
by Hendrik Siboro | 11 Aug 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER