Bagaimana Seharusnya Kita Berbicara Kepada Sang Liyan?

Best Regards, Live Through This, 24 June 2020
Metode dialog Sokratik semacam ini masih harus diperjuangkan dan digalakkan ketika prasangka masih disuburkan dimana-mana. Minimnya dialog hanya akan membuat wacana kita makin agresif satu sama lain. Meski ada dialog, zaman kita ini malah lebih membawanya ke tataran debat (yang tentu berakhir menang-menangan), bukan dialog yang menghasilkan buah pengetahuan.

Bagaimana seharusnya kita berbicara kepada sang liyan? Adakah "sang liyan" itu, atau dia justru hanya sesuatu asing yang menempel di kepala kita yang selalu membelah “aku” dan “dia” atau “kita” dan “mereka”?

Adakah sebenarnya sang liyan itu? Atau lagi-lagi kita hanya ikut-ikutan cara berpikir orang lain yang membuat kita makin gagal paham melihat kesatuan semesta yang termanifestasi dalam puspa warna ini?

***


Tersebut seorang filsuf Yunani kuno bernama Socrates (469-399 SM) yang selalu menghadirkan diri sebagai orang yang tidak tahu apa-apa dan karena itu ia ingin belajar, bukan mengajar. “Satu-satunya yang saya tahu adalah saya tidak tahu apa-apa,” ungkap filsuf yang dijatuhi hukuman mati dengan minum racun ini. 

Dalam lintasan kehidupannya, Socrates berhadapan dengan banyak kalangan. Pertama, terhadap para kosmolog dan fisikawan, dia menyindir atas kealpaan mereka memahami manusia, segalanya dicari jawabannya dalam hukum alam fisik. 

Kedua, terhadap kaum sofis, dia menyindir atas kesombongan mereka yang merasa tahu segalanya. Ketiga, terhadap para ilmuwan lain, politisi, seniman, pemahat, dll, dia menyindir atas anggapan mereka yang merasa tinggi dan penting karena menguasai satu disiplin ilmu

Dari sini terlihat bahwa Socrates meluncurkan berbagai sindiran serta kritik. Tidak hanya itu, Socrates lebih tertarik untuk mengembangkan satu gaya komunikasi, yakni dialog. Socrates menggunakan metode dialog (dia-logos). Dia artinya melintasi/menyeberangiLogos artinya kata atau nalar. 

Dalam dialog, kesadaran tentang ketidaktahuan akan membawa Ignite People untuk terus mencari tahu. Akhir metode dialog adalah etika dan edukasi. Socrates mau mengajak orang agar memperhatikan dan memuaskan jiwanya dan lewat dialog harus menelanjangi jiwa dan berefleksi agar orang menjadi sadar akan hidupnya. 

Namun sayang seribu sayang, metode dialog Sokratik semacam ini masih harus diperjuangkan dan digalakkan ketika prasangka masih disuburkan dimana-mana. Minimnya dialog hanya akan membuat wacana kita makin agresif satu sama lain. Meski ada dialog, zaman kita ini malah lebih membawanya ke tataran debat (yang tentu berakhir menang-menangan), bukan dialog yang menghasilkan buah pengetahuan.

Pengetahuan adalah awal dari kebijaksanaan. Penghakiman atau bahkan pengkafiran itu berasal dari minimnya pengetahuan atau pengenalan. Oleh karena itu, “tak kenal maka tak sayang” yang selalu didengungkan bukan sekadar ungkapan klise di mulut saja tanpa mengubah pikiran atau bahkan mengubah tindakan Ignite People terhadap sang liyan.

***

Metode dialog akan membawa kita menuju suatu sikap empatik. Empati tertinggi dalam kontemplasi terdalam kita adalah ketika menyadari bahwa perbedaan aku dan sang liyan sudah tidak terlihat lagi. Kita berada pada tubuh yang sama, namun dalam manifestasi wujud yang berbeda.

 “Aku adalah kamu dalam tubuh yang lain,” kata Sri Krishna.

Hingga pada hakikatnya, jika Ignite People melukai perasaan sang liyan—maka sama halnya melukai perasaan diri sendiri. Jika Ignite People melakukan kejahatan terhadap sang liyan—maka sama artinya melakukan kejahatan terhadap diri sendiri.

"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”, demikian yang tertuang di Matius 7:12. Pesan serupa berulang di kitab Lukas 6:13, “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.

Pesan ini dengan makna yang sama ini setidaknya dapat ditemukan dua kali dalam kitab Injil dan mungkin sebagian dari kitab menghapalnya di luar kepala. Ini menjadi penanda bahwa pesan tersebut punya penekanan dalam bentuknya yang sama. Hal serupa juga tidak ketinggalan berulang dalam tradisi Islam, dimana Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, 

Tidaklah beriman seorang di antara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Berangkat dari semangat serta pesan-pesan tersebut, kemudian mendorong munculnya Kaidah Emas atau yang biasa disebut Golden Rule yang lalu diekstraksikan dari berbagai tradisi spiritual dan agama-agama: “Perlakukan orang lain/sang liyan sebagaimana Ignite People ingin diperlakukan.” 

Tampak sederhana dalam tataran konseptual, entah seperti apa dalam laku sehari-hari?

Golden Rule memberi isyarat bahwa sang liyan itu sebenarnya adalah diri kita sendiri. “Dia” atau “mereka” adalah bagian dari “aku” dan bagian yang tak terpisah dari “kita”. Jika belum berhasil mengintegrasikan hal tersebut,  Ignite People perlu memulai langkah yang paling sederhana, melakukan dialog diri. Mengenali diri sendiri. Berdamai dengan diri sendiri.

Ignite People tidak mungkin dapat merangkai harmoni antara diri sendiri dengan sang liyan tanpa berdialog dengan diri sendiri terlebih dahulu. Tanyakan dan jawablah dengan jujur kepada diri sendiri—apakah Ignite People selama ini berbicara kepada sang liyan, sudah untuk memahami atau sekadar untuk menjawab guna memenangkan (ego) pembicaraan alias menang-menangan?



LATEST POST

 

“How Can I Keep From Singing” Merupakan sebuah himne yang kemungkinan besar dikarang ole...
by Eka Gilroy Kharis | 26 Sep 2020

"Play with Life" merupakan tagline yang saya baru tahu dari life simulation game kesu...
by Eveline Meilinda | 26 Sep 2020

Family Drama – tidak dipungkiri bahwa ini merupakan hal yang sudah pasti ada dalam setiap kelu...
by Monica Petra | 26 Sep 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER