Kristus Sang Feminis Sejati

Best Regards, Live Through This, 17 June 2020
“Dalam kesetaraan, Kasih Allah juga terus mengalir kepada kita melalui PutraNya, dan kita pun juga bisa mengasihi sesama kita tanpa memandang apapun yang dimiliki oleh orang itu.”

Memasuki kelas 11, aku mulai dihadapkan dengan berbagai kepengurusan ekstrakurikuler di SMA aku sendiri, salah satunya ialah kepengurusan dalam ekstrakurikuler Rohani Kristen, yang disingkat sebagai Rohkris. Dalam Rohkris, terdapat seksi kepengurusan yang didominasi oleh perempuan semua, yaitu seksi Humas, dan ada pula seksi yang didominasi oleh laki-laki semua, yaitu seksi Perlengkapan. 




 


Aku berharap bahwa aku dapat ditempatkan dalam anggota seksi kepengurusan selain Humas dan Perlengkapan. Namun, ternyata namaku justru masuk ke dalam seksi Humas, dan benar saja, aku merupakan satu-satunya anggota seksi kepengurusan itu yang laki-laki. Aku sempat bertanya kepada temanku yang merupakan bendahara ekstrakurikuler itu mengenai namaku yang ada dalam seksi Humas, dan dia menjawab, “Tenang aja. Gue ama anak-anak BPH udah ngerundingin ini, dan emang lo cocok di Humas.” 

Lalu temanku yang lain bertanya demikian kepada sang wakil ketua, dan dia pun menjawab, “Dia masuk ke Humas soalnya koneksinya dia di luar Rohkris banyak.” Memang saat itu aku memiliki banyak teman yang berasal dari Rohkris sekolah lain, dan aku merupakan seorang extrovert, jadi bukan lagi sebuah kejutan bagiku setelah aku mengetahui alasan BPH Rohkris sekolahku menempatkanku dalam seksi Humas, ternyata BPH Rohkris sekolahku lebih melihat kemampuan setiap anggotanya daripada gender yang para anggotanya miliki.

Dalam setahun kepengurusan angkatanku dalam seksi Humas yang didominasi teman-temanku yang perempuan, kami semua tetap mendapat hak dan kewajiban yang sama, tidak ada yang dibeda-bedakan maupun diberi perlakuan yang spesial. Semua tetap bekerja sama dalam kepelbagaian acara, maupun urusan ekstrakurikuler yang membutuhkan seksi Humas.

Seiring berjalannya waktu, aku pun mulai sadar akan adanya kesetaraan gender dan mulai mengimplementasikan hal tersebut di kehidupanku sehari-hari, terlebih lagi saat aku masuk ke salah satu perguruan tinggi di Jawa Barat dalam program studi Ilmu Hubungan Internasional. Saat itu, aku mulai mengenal lebih dalam akan salah satu perspektif yang menjadi perspektifku dalam melihat berbagai isu, yaitu feminisme.

Feminisme sendiri merupakan serangkaian gerakan sosial, gerakan politik, dan ideologi yang memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mendefinisikan, membangun, dan mencapai kesetaraan gender di lingkup politik, ekonomi, pribadi, dan sosial, bahkan feminisme juga berpihak terhadap kaum marjinal yang dianggap hina di mata normativitas masyarakat. Feminisme juga merupakan pergerakan dalam melawan budaya yang seringkali terjadi dalam peradaban manusia, yaitu patriarki dan misoginis. Hadirnya 2 budaya yang toxic ini menyebabkan terjadinya ketidaksetaraan terhadap sesama manusia, terlebih lagi ketiga budaya ini memandang apapun berdasarkan gender, seksualitas, ras, kasta sosial, dsb.

Yesus sendiri merupakan salah satu figur yang tak memandang hal apapun, bahkan gender sendiri, dalam melayani umat manusia, seperti ketika Dia berbicara kepada perempuan Samaria, menolong perempuan sundal dari penghakiman orang Farisi, bahkan bersikap bijaksana kala salah satu perempuan meminta kebijaksanaan kepada-Nya saat anaknya kerasukan setan. Yesus juga berpihak kepada kaum marjinal yang tertindas oleh masyarakat saat itu, seperti orang-orang yang miskin, kaum disabilitas, bahkan orang-orang yang tertawan sekalipun.

saat Yesus berbicara kepada perempuan Samaria

Dalam Galatia 3 : 26-28, Paulus berkata demikian,

“Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”

Jadi, kita semua adalah anak-anak Allah yang karena iman di dalam Anak-Nya, yakni Yesus Kristus, kita tidak lagi dipandang sebagai laki-laki, perempuan, bahkan non-binary sendiri, karena kita semua adalah satu di dalam nama Yesus. Kita juga tidak lagi dipandang sebagai orang berkulit putih, sawo matang, ataupun hitam, karena kita merupakan satu kesatuan di dalam tubuh Yesus Kristus. 

Bahkan Yesus sendiri dalam Hukum Kasih mengajarkan kepada kita untuk saling mengasihi antar sesama manusia sama seperti kita juga mengasihi diri kita sendiri

Bagiku sendiri, Yesus merupakan salah satu tokoh feminisme yang dapat kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Kita dapat meneladani pengajaran-Nya dengan merangkul sesama kita yang merupakan kaum marjinal tanpa memandang apapun itu stratifikasi sosialnya, karena Yesus sendiri telah mengajarkan kita untuk selalu mengasihi sesama kita layaknya kita telah mengasihi diri kita sendiri.


LATEST POST

 

"Ibadah seharusnya memelihara kehidupan bukan malah mengancam kehidupan"Minggu, 19 Juli 20...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 11 Aug 2020

Lee Ha-yi, atau yang lebih dikenal dengan nama Lee Hi, merupakan seorang singer-songwriter asal Kore...
by Jerell Michael Cussoy | 11 Aug 2020

Sudah bertahun-tahun aku melihat anakku terkulai lemah di atas ranjangnya. Tubuhnya panas, sewaktu-w...
by Hendrik Siboro | 11 Aug 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER