The Others

, What's Next, 25 May 2020
Saya terdiam sejenak. Lalu dengan suara cemas saya katakan kepadanya, kalau tak salah, “Saya sedih. Kamu akan menjalani hidup yang sulit di masyarakat ini.”

Beberapa waktu lalu, saya berdiskusi serius dengan pacar.

“Hon, kalau misalnya kita punya anak...mana yang lebih kamu pilih di antara dua skenario ini:  ‘Anak kita mau memeluk agama yang berbeda dari yang kita ajarkan’ atau ‘Anak kita mau mengganti jenis kelaminnya’?”

Dulu di kampus, saya pernah menulis sebuah skripsi mengenai representasi perempuan Indonesia dalam majalah gaya hidup yang lisensinya dibeli dari luar negeri. Dari penelitian itu, saya mendapati bahwa citra perempuan lokal masih sering dipandang sebelah mata, sehingga sampul majalah, referensi fashion dan tips kecantikan dalam majalah yang populer waktu itu, didominasi sosok perempuan kaukasia (padahal, tentu apa yang relevan untuk kulit kaukasia belum tentu cocok untuk kita, bukan?). 

Perempuan kaukasia adalah gambaran ideal kecantikan, sementara tipe lain adalah ‘the others’. Dan ‘the others’ diharapkan mengikuti standar kecantikan yang ada, jika ingin dianggap pantas. 

Setelah waktu berlalu, saya melihat konsep ‘the others’ ternyata merasuk dalam hidup kita dengan wujud berbeda-beda. Mungkin sekarang 'the others' itu adalah mereka yang menganut kepercayaan, pilihan politik, maupun orientasi gender yang berbeda dari kita. Dalam kehidupan bergereja pun, saya melihat ada kelompok-kelompok yang dianggap liyan:

Anak-anak 
“Perjamuan Kudus bukan untuk anak-anak!”



Orang Agnostik/Ateis 
“Kok, Pak Pendeta bisa-bisanya melayani pernikahan mereka? Jelas-jelas status suaminya di Facebook itu ‘agnostik’!”



Penganut Agama Leluhur
“Untung ya, Bapak X sudah Kristen sebelum meninggal.”




Orang yang Menikah Beda Agama
“Ga ada orang Kristen yang mau sama kamu ya?”

Orang yang Pindah Agama
“Udah dikasih keselamatan malah ga mau. Siap-siap masuk neraka ya.”




Kaum LGBT 
“Amit-amit jangan sampai ya, punya anak kaya gitu.”




Orang dengan Isu Kesehatan Mental
“Eh, jangan suruh dia ngerjain tugas itu, dia mah labil orangnya.” 



Pemuda/Remaja
“Buat acara ibadah sebesar ini, jangan kasih tugas ke anak remaja/pemuda deh, nggak ada tanggung jawabnya mereka itu.”




...dan seterusnya.


Sebagai sebuah organisme sosial, saya percaya kebijakan kolektif kita akan terus berkembang. Beberapa dekade lalu, Pdt. Em. Suatami Sutedja adalah satu-satunya perempuan yang kuliah teologi dan menjadi pendeta perempuan pertama di lingkungan GKI.  Mungkin saat itu, beliau dianggap ‘liyan’ oleh lingkungan sekitarnya tetapi kini, kita telah menyaksikan banyak perempuan cerdas menjadi gembala di gereja.

Saya pun masih terus belajar dan sering diingatkan Tuhan untuk menomorsatukan hati ketika berinteraksi dengan mereka yang dianggap liyan saat ini. Salah satu tulisan yang membuat saya berefleksi adalah pernyataan Goenawan Muhammad (salah seorang pendiri Majalah Tempo dan suami dari Widarti Gunawan, salah satu pendiri Majalah Femina. Bottom Line: LEGENDARY COUPLE!) dalam situs Melela.org, terkait anak perempuannya yang memiliki orientasi seksual berbeda:

Saya terdiam sejenak. Lalu dengan suara cemas saya katakan kepadanya, kalau tak salah, “Saya sedih. Kamu akan menjalani hidup yang sulit di masyarakat ini.”

Setelah Mita mengatakan yang sejujurnya, seingat saya, saya kemudian menulis surat kepada Mita mengatakan bahwa saya dan ibunya menerimanya dengan penuh. Bagi saya, cinta orang tua, cinta saya kepada anak adalah cinta yang tak bersyarat, unconditional. Mungkin begitulah cinta yang ideal. Mungkin begitulah Tuhan mencintai manusia dan sebaliknya.

Baru-baru ini saya diserang di media sosial, di Twitter. Mereka mempermasalahkan anak saya seorang lesbian. Ada yang bertanya, apakah hal itu benar. Saya jawab, ya benar, benar sekali — lalu saya tambahkan: ayah dan ibunya sangat mencintainya.

Yesus tidak ikut merajam perempuan yang ketahuan berzinah, maupun ‘liyan’ lainnya. Bagaimana dengan Ignite People ketika diperhadapkan pada ‘sang liyan’ atau bahkan menjadi ‘sang liyan’? Adakah kita merajamkan batu, atau menjadi uluran kasih? Menurutmu, bagaimana sebaiknya kita sebagai orang yang beragama, memerlakukan mereka yang dianggap liyan?

Mari tuangkan buah-buah pikiranmu dalam karya yang inspiratif dan membangun. Cara berkontribusi sangat mudah, untuk mengunggah tulisan, login saja ke situs IGNITE GKI dan buka menu New Article. Untuk mengunggah seni visual, podcast monolog, maupun video, silakan hubungi admin Ignite GKI melalui e-mail ([email protected]) atau direct message Instagram dan chat Facebook. 


Kami tunggu kisah dan karyamu!

 

RELATED TOPIC

LATEST POST

 

Memasuki kelas 11, aku mulai dihadapkan dengan berbagai kepengurusan ekstrakurikuler di SMA aku send...
by Jerell Michael Cussoy | 02 Jul 2020

“Biasanya, anak muda itu kalau tidak underused, ya overused,” kata seorang narasumb...
by Sandra Priskila | 02 Jul 2020

Your relationship with God is more important than anything because you know for sure that's...
by Gracella Fidelia Hardy | 29 Jun 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER