Gereja Menurut Pembacaan Seorang Muslim

Best Regards, Live Through This, 12 May 2020
"Gereja adalah komunikasi iman". Nah! Seketika pikiranku mekar dan bertambah luas. Berangkat dari sini, dialog yang konstruktif dan inklusif mestinya dapat terjadi, yakni komunikasi antar iman yang beragam dan puspa warna yang lalu membawa perluasan makna "gereja" itu sendiri, tidak hanya komunikasi internal komunitas Kristen.

Sebagai seorang santri yang berasal dari tradisi di luar Kristen, saya kali ini menantang diri saya untuk belajar lebih jauh. Kali ini tentang gereja di mata saya--sebagai seorang pengikut Nabi Muhammad SAW, namun pengikut Isa atau Yesus sekaligus--setidaknya itulah keuntungan besar saya. Seperti umumnya dipahami oleh outsider—seperti saya, ketika berbicara tentang gereja, titik berangkatnya adalah gereja yang berbentuk fisik atau berupa bangunan. Dalam kurun waktu selama satu semester, saya belajar banyak dari ustad (dosen) saya di kelas mengenai berbagai ragam pendapat tentang apa itu “gereja” beserta model dan semua hal yang mengitarinya.

Perlahan definisi yang saya punyai tentang gereja berangsur tidak tunggal lagi—hanya sebagai gedung atau institusi belaka. Ia punya definisi serta model yang beragam. Avery Dulles SJ dalam bukunya yang berjudul “Model-Model Gereja” menerangkan tentang model-model gereja, yang dimulai dari gereja sebagai institusi, gereja sebagai pewarta, gereja sebagai persekutuan mistik, gereja sebagai sakramen, gereja sebagai hamba hingga gereja sebagai persekutuan murid-murid. Tentu tipe atau model gereja ini baru pertama kali saya dengar meski beberapa kali terlibat dialog dengan beberapa rekan Kristen saya.

Lebih lanjut, gereja tidak sekadar dan tidak melulu berkaitan dengan gedung atau institusinya--sebagaimana umumnya umat Kristen sudah paham. Ia berkaitan erat dengan komunitas orang beriman (community of believers)--tentu saja beriman kepada Yesus sebagai Juru Selamat (al-mukhalish al-'alam). Berangkat dari sini, tidak berbeda jauh dengan komunitas pengikut Nabi Muhammad SAW yang membawa agama Islam di belakangan hari. Komunitas pengikut Nabi Muhammad SAW ini bersama umat Yahudi dan Kristen disebut sebagai komunitas umat beriman pada era awal Islam sedang didakwahkan atau istilah lainnya diwartakan.

Fred M. Donner dalam bukunya "Muhammad and The Believers: At The Origins of Islam" menjelaskan Islam dan sejarah awal kedatangannya. Sebagai kesinambungan dari tradisi agama Abraham; Yahudi, Kristen dan Islam di era awal disebut secara khusus oleh Al-Qur’an dengan istilah mukmin--yang berarti umat beriman sebelum kemudian muncul perseteruan politik dan teologis yang memisahkan ketiga komunitas ini secara permanen dan mengambil distingsi satu sama lain. 

Muslim pun, yang awalnya bermakna semua orang beriman yang berserah diri kepada Tuhan--yang tentu ketiga agama ini sama meyakini serta melakukannya menjadi tereduksinya maknanya, hanya berlaku untuk pengikut Muhammad yang belakangan membuat institusi agama yang bernama Islam. Jika ditinjau lebih jauh, Donner ingin mengatakan bahwa Islam awal lebih bercorak ekumenis daripada hari ini yang lebih tampak perseteruannya yang berakibat pada makin tegangnya hubungan antar komunitas agama Abraham yang notabene masih berasal dari rahim yang sama. 


Pada konteks gereja hari ini, khususnya pasca reformasi 503 tahun yang lalu—gereja kemudian dituntut untuk selalu tetap relevan agar dapat kontekstual dengan zaman dan tempat yang selalu berubah di mana pun ia berada. Ide reformasi tentang gereja yang harus selalu mereformasi dirinya adalah titik poin yang paling krusial. Tanpa reformasi terus-menerus, gereja tidak akan dapat bergerak dinamis menyesuikan diri dengan dunia yang mengalami perkembangan begitu pesat.

Konteks Indonesia yang majemuk misalnya, yang memiliki aneka ragam gereja hingga ragam komunitas agama serta tradisi, gereja yang tak memiliki semangat dialogis—akan sulit aktual di tengah keragaman tersebut. Di abad modern yang menuntut toleransi serta kerja sama antar agama, dibutuhkan gereja yang bisa menjadi jembatan dialog bagi perdamaian antara agama di tengah tantangan-tantangan yang dihadapi gereja, terlebih di masa pandemi Covid-19 ini.  Aktivitas gereja yang pada awalnya tidak terlalu akrab dengan teknologi, akhirnya terkondisikan untuk menyesuaikan dengan segala kondisi-kondisi eksternal tersebut agar tetap dinamis dalam pelayanannya sebagaimana "gereja sebagai hamba" dimaknai.

Masih segar di ingatan saya, pada akhir perkuliahan Eklesiologi semester lalu--saya kembali bertanya tentang "apa sebenarnya gereja itu?" kepada sang dosen. Dengan segera beliau menjawab, "gereja adalah komunikasi iman." Nah! Seketika pikiranku mekar dan bertambah luas. Berangkat dari sini, dialog yang konstruktif dan inklusif mestinya dapat terjadi, yakni komunikasi antar iman yang beragam dan puspa warna yang lalu membawa perluasan makna "gereja" itu sendiri, tidak hanya komunikasi internal komunitas Kristen.

Jika gereja adalah komunikasi iman, lantas apa bedanya dengan masjid yang juga merupakan sarana untuk komunikasi iman antar pengikut Nabi Muhammad SAW ? Wallahu a’lam.

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER