Liquid-Solid Church

, What's Next, 27 April 2020
Seperti halnya minuman kopi, mau menggunakan gelas dengan bentuk apa pun, ia tetaplah kopi. Demikian juga gereja, mau ragam bentuknya seperti apa pun, gereja harus tetap memiliki nilai dan fundamental yang tidak berubah, yaitu Kristus.

Welcome to May!!!  

Apa sih yang langsung terlintas di kepala kita kalau mendengar kata 'Mei'? Tentu saja May Day! Brummm, brummm, brummm ngeng, ngeng, ngeng. Ya Hari Buruh Sedunia, eh atau temen-temen punya pikiran lain soal bulan Mei? Apakah ada hari spesial bagi kita di bulan Mei? Setahukuku,  bulan Mei menjadi bulan yang paling mendebarkan bagi sebagian orang khususnya mahasiswa (Pengumpulan skripsi, tesis, ataupun disertasi) atau juga bulan Mei memiliki kenangan tersendiri bagi kita entah itu duka ataupun suka yang tidak akan pernah dilupakan. Nah apa pun itu, nampaknya bulan Mei kali ini akan menjadi bulan Mei yang 'berbeda' dari Mei lainnya. Mengapa? Tentu kita semua tahu, karena CORONA!!! Ya, nampaknya 'perang' melawan Virus Corona a.k.a COVID-19 masih akan berlanjut di bulan Mei ini. Bahkan BPMS GKI sudah mengumumkan bahwa Ibadah di gereja ditiadakan hingga akhir Mei.

Setelah pandemik Corona ini usai, tentu kita sudah memiliki daftar kegiatan yang akan kita lakukan; terlebih lagi, pasti setiap kita rindu untuk berjumpa dengan keluarga (bagi perantauan), sahabat, teman, pelayanan di gereja ataupun masyarakat, pekerjaan (apa iya :3), dan tentu saja kekasih hati (jika ada). Tentu saja kegiatan yang diprediksi akan naik daun setelah pandemik ini usai adalah nongki . Sebenarnya nongki sudah hitz sebelum wabah ini menyebar, namun sudah 1 bulan lebih pandemik ini menjangkit sehingga kegiatan yang menjadi favorit banyak orang tidak bisa dilakukan.

Nongki tentu saja identik dengan makan dan minum sebagai rekan dalam berbincang dengan sahabat, yang biasanya dilakukan di coffee shop, angkringan dan warung. Berbicara soal minuman, pernahkah kita melihat dengan jeli bentuk dari gelas yang menjadi media minuman kita? Kalau di angkringan biasanya kalau kita memesan minuman dingin akan disajikan dengan gelas transparan berukuran sedang dengan gagang di pinggirnya. Jika kita pesan kopi panas biasanya disajikan dengan gelas belimbing. Nah, kalau di cafe atau coffeeshop yang Instagramable ala-ala anak Indie, gelas yang disajikan justru makin beragam. Ada yang melengkung bak gitar spanyol, ada yang berukuran raksasa, ada yang bentuknya kotak, dan ragam model lainnya. Pernahkah kita bertanya mengapa gelas tersebut harus berbeda-beda? Toh mau apapun bentuknya yang penting kan isinya, enak atau enggak?


Wujud gelas yang beraneka ragam tentu memiliki maksud tertentu, yaitu memberikan nilai estetika dari minuman yang disajikan dengan tujuan menarik minat pembeli. Apalagi kalau kita beli minuman di cafe dengan harga 2 kali harga makan anak kost, tentu kita menuntut lebih, tidak hanya soal rasa namun juga estetika. Hal ini juga secara tidak sadar memberikan nilai lebih dari minuman yang kita pesan dan kita minum meskipun itu tergantung dari masing-masing individu dalam melihatnya. Nah tema kita bulan ini adalah Liquid-Solid Church.

"Loh apa hubungannya gelas sama tema ini?"

Dengan pertanyaan yang sama pernahkah teman-teman bertanya mengapa gereja berbeda-beda? Beberapa dari kita mungkin tahu mengenai sejarah gereja, dan ragam aliran teologi gereja. Namun kita ga akan bahas ke sana, yang akan kita bahas adalah soal Liquid-Solid Church.

Jika diterjemahkan Liquid-Solid Church berarti Gereja yang Cair dan Padat. Loh jadi cair atau padat? Jika menengok ke pelajaran IPA di masa sekolah tentu kita tahu sifat-sifat benda ada cair, padat, dan gas. Benda cair mudah beradaptasi sesuai dengan medianya, jika diletakkan di ember, ia akan menyesuaikan bentuk ember, jika ditaruh di gelas ia akan menyesuaikan bentuk gelas. Sebaliknya, benda padat tetap kokoh pada dirinya sehingga bentuknya tidak dipengaruhi oleh medianya. Dengan demikian Liquid-Solid Church dapat dipahami sebagai gereja yang cair, namun tetap padat (kokoh). Gereja berdasarkan sejarahnya dari gereja mula-mula, zaman Patristik (Bapa-Bapa Gereja), zaman abad kegelapan (pra-modern), abad pencerahan (abad modern), hingga sekarang mengalami dinamika yang beraneka ragam namun tetap eksis hingga saat ini. Dinamika yang paling nyata adalah singgungan budaya, geografis, dan situasi sosial dimana gereja berbeda. Dari ragam dinamika inilah gereja diajak untuk dapat cair namun tetap padat (kokoh).

Gereja harus cair dengan mampu beradaptasi pada situasi sekitarnya baik itu budaya ataupun geografisnya. Bukti nyata yang dapat kita lihat adalah kultur Gereja Katolik ataupun Protestan yang bersinggungan dengan kultur Eropa, seperti suasana musik dan peribadatan yang khas barat. Lalu dampak geografis mempengaruhi bentuk bangunan gereja Barat yang menjulang tinggi dan kotak. Namun sebatas apa gereja harus cair? Apakah gereja harus larut saja pada situasi dunia? Tentu tidak, seperti halnya minuman kopi, mau menggunakan gelas dengan bentuk apa pun, ia tetaplah kopi. Demikian juga gereja, mau ragam bentuknya seperti apapun gereja harus tetap memiliki nilai dan fundamental yang tidak berubah, yaitu Kristus. Maka dari itu gereja yang cair dan padat mengajak kita untuk memahami gereja yang mampu merespons realita dunia, mengambil nilai positif dari kemajuan zaman , namun dengan tetap menjunjung nilai dan fundamental yang tetap yaitu Kristus.

Nah, apa pendapat dari Ignite People mengenai Solid-Liquid Church khususnya dengan pengalaman teman-teman bertumbuh di dalam gereja masing-masing? Bagaimana 'Gereja yang seharusnya' bagi Ignite People

Mari sampaikan pengalaman dan pemikiran teman-teman dengan berkontribusi melalui Ignite GKI, berupa tulisan, seni visual, audio, maupun video. Cara berkontribusinya sangat mudah, untuk mengunggah tulisan, login ke dalam situs IGNITE GKI dan buka menu New Article. Untuk mengunggah seni visual, podcast monolog, maupun video, hubungi admin Ignite GKI, baik melalui e-mail ([email protected]) maupun direct message Instagram dan chat Facebook.


Kami tunggu jelajah pikiranmu!



 

RELATED TOPIC

LATEST POST

 

Mungkin saya akan memulai artikel ini dengan sebuah pernyataan kontroversial Ayub. “Mengapa or...
by Lay Lukas Christian | 31 May 2020

Ketika mendengar bahwa di Surabaya Raya akan diterapkan PSBB pada pertengahan April lalu, sedikit ba...
by Kevin Susanto | 31 May 2020

Salah satu hobi saya adalah menonton konser, terutama grup musik cadas (rock). Selain musiknya, sela...
by Christan Reksa | 30 May 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER