Serba-serbi COVID 19

Best Regards, Live Through This, 22 March 2020
Setiap keputusan dan/atau tindakan adalah hal yang baik, dinilai dari itikad baiknya.

Hai Ignite People

Hope this article finds you well.

Saya berharap kita semua dalam keadaan sehat dan yakin kita semua dalam lindungan tangan TUHAN. 


Kita semua sangat prihatin dan berempati atas wabah pandemik Covid 19 yang melanda beberapa negara, tak lepas Indonesia. Saya sangat memberi apresiasi pada seluruh pihak dan jajaran, khususnya tenaga medis yang berada di garda terdepan dalam memerangi Covid 19 ini. Meskipun beberapa pihak telah dikerahkan untuk melawan penyakit Covid 19, tetapi banyak dari kita yang masih dalam keadaan panik atas wabah ini.

Respons masyarakat pun beragam. Ada yang banyaknya mengritik, bahkan yang cenderus celaan, terhadap kebijakan yang dipilih oleh pemimpin, dan ada pula yang merasa ketakutan kehabisan kebutuhan dasar. Contohnya saja temanku, seorang guru yang kesal dengan pemerintah karena dirasa lambat dalam mengambil keputusan untuk lockdown sehingga, wabah Covid 19 lebih cepat menyebar dan angka kematian terus meningkat. Ada juga yang memohon-mohon di kolom komentar Pak Jokowi selaku Presiden kita agar jangan terjadi lockdown. Para pekerja harian memohon-mohon karena gaji hariannya otomatis terpotong apabila tidak bekerja. 

Ada lagi kawanku yang kesal dengan sikap atasannya yang belum juga mengambil keputusan work from home. (WFH) Padahal, sudah ada himbauan dari pemerintah terkait WFH itu sendiri, bukan? Tak hanya itu, karena masyarakat juga berebut Alat Pengaman Diri (APD), sehingga banyak Tim Medis yang kehabisan APD. Padahal, mereka lebih membutuhkan dibandingkan kita, lho.


Lockdown atau tidak lockdown

Banyak pihak yang debat kusir terkait keputusan ini. Tak hanya  yang memahami ekonomi dan yang bergerak di bidang kemanusiaan tetapi kita juga turut memikirkan keputusan ini yang diutarakan lewat social media. Perdebatan tersebut tidaklah salah karena sebuah keputusan harus diambil berdasarkan informasi yang benar dan diukur dari seluruh aspek. Namun, apabila kita melihat pada UU Kekarantinaan Kesehatan, sebetulnya ada empat cara yang dapat pemerintah ambil terkait penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan di wilayah, yaitu Karantina Rumah (self-issolation), Karantina Wilayah (lockdown), Karantina Rumah Sakit (ruangan isolasi RS tersebut), Pembatasan Sosial Berskala Besar (work from home atau social distancing). 

Karantina rumah dan karantina wilayah menjadi tanggung jawab  Pemerintah Pusat, dengan melibatkan Pemerintah Daerah, untuk menjamin ketersediaan kebutuhan hidup dasar . Sedangkan, ketersediaan kebutuhan hidup dasar Karantina Rumah Sakit menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah. Sedangkan pembatasan sosial berskala besar diselenggarakan dengan koordinasi dan kerja sama para pihak. Selain itu, ada beberapa kriteria lain yang diatur dalam peraturan pemerintah dalam mengambil keputusan tersebut.

Meski pada akhirnya, Pemerintah memutuskan untuk tidak lockdown, dan memilih rapid test massal dan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Itu juga keputusan yang baik.

Saya yakin keputusan ini menjadi keputusan yang baik karena, setiap pihak maupun stakeholder, dituntut untuk bergotong-royong dan bahu-membahu dalam memerangi Covid 19 ini. Tim Medis di garda terdepan dalam memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan protokol yang ada, Pemerintah Pusat berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah dan pihak lainnya dalam menjamin seluruh pelayanan publik terkait Covid 19, pegiat masyarakat menjadi volunteer tim medis dalam memerangi Covid 19, pengumpulan dana untuk pembelian APD tim medis dan lain sebagainya. 

Sebagai orang Kristen selain bergereja online dalam menuruti imbauan pemerintah, kita juga perlu untuk menyumbangkan dan saling bahu-membahu memerangi Covid 19 ini. Kalau saya lihat di berbagai kanal seperti kitabisa.com, banyak lho, organisasi masyarakat yang membutuhkan uluran tangan kita dan perlu dibantu dalam memerangi Covid 19 ini. Selain itu, menjadi relawan tim disinfektan juga hal yang baik untuk dilakukan, dan lain sebagainya.


Kebijakan perusahaan dalam kepatuhan hukum

Teman-teman mungkin juga merasa kesal apabila mendengar imbauan WFH tetapi masih saja perusahaan menyuruh masuk. Sebetulnya, setiap perusahaan punya kebijakan sendiri dalam mematuhi kepatuhan hukum maupun atas setiap imbauan yang disampaikan pemerintah. Kebijakan tersebut diukur berdasarkan kesanggupan perusahaan itu sendiri. Misalnya, memang perusahaan tidak sepenuhnya memberikan pegawai hak untuk WFH, tetapi diberikan jadwal piket antara yang masuk kantor dengan yang kerja dari rumah. Mungkin, tidak sepenuhnya dua minggu kerja di rumah, tapi sampai wabah selesai ditangani, perusahaan meliburkan dua hari kerja dan tiga hari kerja untuk masuk kantor dan memberikan vitamin kepada pegawai, masker, serta tes suhu badan setiap hari, atau penerapan social distancing di lift kantor dengan memberikan pembatas memakai isolasi. Menurut hematku, perusahaan tetap harus dapat beroperasi agar pendapatan tetap terus berjalan sehingga, kita semua masih tetap bisa digaji dan fungsinya juga untuk membeli kebutuhan kita juga, kan?


Homo Homini Lupus

Kita sering mendengar istilah "Homo Homini Lupus" di manapun kita berada. Kita pun memahami arti istilah tersebut bahwa manusia bisa menjadi serigala bagi sesamanya. Istilah tersebut pertama kali dicetuskan dalam karya Plautus berjudul "Asinaria" pada tahun 195 SM. Rupanya, istilah tersebut memberikan gambaran jelas terhadap setiap perbuatan kita yang egois dan tak mementingkan orang lain. Misalnya saja dalam hal menyetok kebutuhan hidup.

Kita sering dengar nih bahwa RS kehabisan APD, atau kebutuhan barang lainnya di mana-mana habis, kalau mau beli pun kemahalan. Sehingga, tim medis menggunakan masker medis yang dicuci sekali sehari dan menggunakan jas hujan untuk melindungi diri.  Kalau kita ingat pelajaran SMA, hal tersebut bisa saja terjadi akibat dari semakin banyak permintaan terhadap barang yang dibutuhkan, semakin tinggi pula penawaran yang diberikan. Lain halnya dengan kelangkaan (scarcity), yaitu kondisi di mana ketersediaan barang dan jasa tidak sebanding dengan cara memperolehnya atau membutuhkan pengorbanan lebih besar.

Apabila manusia bisa menjadi serigala bagi sesamanya. Maka, manusia seharusnya juga bisa menjadi teman bagi sesamanya, istilahnya "Homo Homini Socius". Kita sebagai orang Kristen yang menjadi gambar dan rupa Allah di bumi dan ditugaskan untuk menjadi terang dan garam dunia harus bisa menggambarkan kasih TUHAN dalam hidup kita sehari-hari dong. Minimal dalam mengontrol pembelian kebutuhan saat wabah Covid 19 ini dan menanamkan di pikiran kita bahwa orang lain juga butuh barang yang kita beli tersebut. Sehingga, kita tidak menjadi serakah. Sebetulnya, untuk masyarakat biasa tidak perlu masker n95 atau masker medis karena kita tidak berhadapan langsung dengan suspect Covid 19, seperti tim medis. Saya sendiri menggunakan masker kain yang dicuci sehari sekali dengan sabun antiseptik. Biarkan, masker medis digunakan oleh tim medis yang betul-betul membutuhkan. 

***

Kalau menurut konsep yin and yang, selain ada hitam dan ada juga putih. Ada juga orang jahat dan orang baik. Ada orang baik yang tetap tidak menaikkan harga bahan pangan dan kebutuhan medis lainnya atas dasar kemanusiaan. Ada juga orang jahat yang menimbun barang-barang tersebut bahkan menggunakan bahan yang tidak layak pakai dengan standar yang tidak sesuai karena masker dan APD adalah produk bisnis yang sangat menggiurkan saat ini. Ada juga pejabat yang bekerja sebaik-baiknya untuk kemaslahatan umat. Ada juga pejabat yang korupnya gila-gilaan sehingga ketersediaan pangan pun tidak bisa dipenuhi dan dijadikan dasar pertimbangan untuk tidak lockdown. 

Ada pimpinan baik yang memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan pegawainya. Ada juga  perusahaan sudah tidak mengizinkan WFH, tidak aware akan kesehatan pegawai, justru atasannya sendiri yang tidak masuk kerja. Ada lagi masyarakat yang diizinkan untuk beraktivitas di rumah, justru malah  pergi liburan dan jalan-jalan, padahal setiap orang bisa menjadi virus carrier di tengah kerumunan. Meskipun begitu, ada juga yang self aware terhadap penyakit COVID 19 ini.

Para manusia baik, aku berterima kasih kepada kalian dan tetaplah jadi orang yang baik. Para manusia naughty, ah aku hanya mau bilang, “Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tak tahu apa yang mereka perbuat.”


LATEST POST

 

Tahun baru, seringkali dijadikan momen untuk orang-orang membuat resolusi yang baru. Semua orang ber...
by Mikhael Artur Darmakesuma | 28 Jan 2023

Tahun 2023 baru saja berjalan selama 13 hari, tetapi tanggal 13 Januari lalu adalah momen ketika Tuh...
by Azarya Zefanya | 28 Jan 2023

Selamat tahun baru 2023 (dan 新年快乐), Ignite People!Kalau Ignite People ingat, awal tahun 2023 ini...
by Yessica Anggi | 23 Jan 2023

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER