Melangkah untuk Kemuliaan-Nya

Best Regards, Live Through This, 28 April 2019
Jika kita sanggup memuliakan-Nya, itu pun tidak akan pernah terlepas dari kasih karunia Allah

Muliakanlah, muliakanlah Tuhan Allah, Tuhan Allah, Mahatinggi! Damai sejahtra, turun ke bumi Bagi orang, bagi orang, pengasihan-Nya.

Kurang lebih, demikian sepenggal lagu yang dinyanyikan paduan suara di gereja saya pada pekan terakhir bulan Desember 2018. Saya rasa lagu tersebut cukup nanggung untuk dinyanyikan karena masih di dalam suasana Natal. Tetapi terlepas dari rasa nanggung itu, ternyata lewat lagu ini saya diingatkan kembali makna mendalam tentang tugas manusia memuliakan nama-Nya. Hal itu karena tak lain Allah sendiri yang menciptakan kita sebagai manusia untuk kemuliaan-Nya (Yesaya 43:7).

Namun kenyataannya, di dalam perjalanan memuliakan nama Allah sendiri, manusia dihadapkan dengan berbagai pencobaan. Salah satunya adalah godaan untuk “curi kesempatan” demi memuliakan diri sendiri, terutama dengan hal-hal yang berbau materi. Begitu mudah kita tergiur dengan nafsu kepemilikan segala harta yang sebenarnya tidak akan bisa kita bawa ke mana-mana saat meninggal nanti.

Ini bukan soal tidak boleh menambah materi selama kita hidup. Tentu saja kita perlu untuk mencukupkan diri. Namun sayangnya, banyak dari kita melupakan bahwa sejatinya yang akan dikenang orang, lebih dari segala harta benda yang dimiliki, adalah karakter (semoga yang unik dan baik) dari diri kita yang memberi dampak bagi orang lain selama kita hidup. Dan cita-cita kekristenan dalam meninggalkan jejaknya di dunia, tidak lain adalah dengan kehidupan yang bersaksi mengenai pengalaman penebusan serta atas pertolongan yang Allah berikan pada hidup kita.

Photo by Franciele Cunha on Unsplash

Di dalam perjalanan kehidupan untuk terus memuliakan Tuhan, kita akan menyadari bahwa kita sangat lemah. Kita memang perlu untuk terus dilengkapi, diteguhkan, dikuatkan dan dikokohkan. Ini adalah konsekuensi sebuah perjalanan yang terus menerus sebagai manusia berdosa di dunia yang jatuh dalam dosa. Dan jika kita sanggup memuliakan-Nya, itu pun tidak akan pernah terlepas dari kasih karunia Allah, seperti perjalanan Rasul Paulus.

Kasih karunia membutuhkan kesadaran akan ketidaklayakan kita. Itulah yang dipahami dengan baik oleh Rasul Paulus, yang merasa paling hina dan tidak layak dari semua rasul karena telah menganiaya jemaat Allah. Di balik ketidaklayakan yang dicerminkan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 15:8-9, kasih karunialah yang ternyata memberikan kehidupan yang baru.

Karena kasih karunia Allah kita bisa menjadi sebagaimana kita ada sekarang. Karena kasih karunia Allah kita tahu hidup kita tidak sia-sia. Dan karena kasih karunia Allah itu juga kita dapat bersukacita dalam proses menghasilkan buah-buah kehidupan serta melangkah maju walau kadang tidak mudah.

Photo by Dustin Dagamac on unsplash

Satu hal yang unik di sini adalah bagaimana kasih karunia Allah dinyatakan melalui kelemahan kita. Lebih jelasnya tersurat di dalam 2 Korintus 12:9-10 berikut ini:

“Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.”

Ayat ini seakan menantang kita untuk berserah kepada-Nya dan mengakui keperkasaan-Nya justru saat menghadapi situasi down alias terpuruk, ketika realitas yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Bukankah adalah kabar gembira dan melegakan untuk mengetahui bahwa saat menanggung dan memikul Salib, kita tidak sendirian? Bahwa kasih karunia Allah senantiasa dinyatakan dalam hidup kita, meskipun caranya berbeda-beda bagi setiap orang.

Kesadaran akan indahnya Allah bekerja dalam kelemahan kita ini adalah penguatan yang saya rasa akan memampukan kita bekerja lebih keras, dan lebih setia lagi bagi Allah, termasuk untuk menjalani tahun 2019 ini.

Photo by Ben White on Unsplash

“Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.” (1 Petrus 5:10)

Akhir kata, marilah kita menunjukkan kepada dunia bahwa oleh kasih karunia Allah, kita menyadari betapa tidak layaknya kita, tetapi kita bersemangat mengerjakan panggilan sebagai delegasi-delegasi kerajaan Allah yang terus melangkah maju dalam dan untuk kemuliaan Allah.

Tuhan Yesus memberkati!

LATEST POST

 

“Swing low, sweet chariotComing for to carry me homeSwing low, sweet chariotComing for to carr...
by Christan Reksa | 18 May 2019

Belakangan ini sering terjadi perdebatan, bahkan perpecahan dari kedua kubu politik dimana para pend...
by Priska Aprilia | 18 May 2019

“Untuk beli bibit.. ““Untuk beli obat, Neng...”“Kemarin harga jatuh. P...
by Surya Hadi | 18 May 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER