“Kakak-Adik”-an di Gereja?! Waspada Bahaya Latennya

Best Regards, Live Through This, 15 November 2019
“Dek, sebagai kakak rohani, mending kamu jangan deh pacaran sama cowok itu, karena …” “Wah bro, masalahmu berat banget. Mending kamu cerita deh ke kakak rohani kita, pasti ada solusinya.”

Ungkapan-ungkapan di atas mungkin pernah terdengar dalam komunitas anak muda #10 (baca: Kristen), baik di gereja ataupun komunitas parachurch. Konsep “kakak-adik” rohani menjadi sebuah tren, di mana dalam sebuah komunitas terdapat satu figur yang memiliki pengalaman dan pengetahuan rohani yang dirasa lebih, lalu memimpin serta membimbing peserta lainnya dalam komunitas tersebut. Bisa dipahami juga “kakak” rohani seperti figur guru atau pengajar dengan rentang usia yang tidak terlalu jauh dengan sang murid, yang kemudian dipanggil “adik” rohani.

Tentu salah satu harapan dari komunitas #10 ialah pertumbuhan spiritualitas yang makin mengenal Allah. Bahkan dalam surat Paulus kepada jemaat di Galatia pasal 6:1, tertulis:

Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan. (Terjemahan Baru)

Bagi sebagian orang, ulasan ini semakin memperkuat bahwa konsep “kakak-adik” rohani dapat berdampak positif dalam komunitas #10. Namun kita perlu mengkaji juga potensi lain dari konsep “kakak-adik” rohani ini dalam kehidupan rohani kita.



Ketergantungan

“Tiap ada masalah, inget ya dek, kamu harus cerita ke aku…”

Pernah mendengar kalimat ini? Atau pernah mengucapkannya? Mungkin saya pun juga pernah secara refleks mengucapkan hal tersebut. Tetapi sadarkah Ignite People, bahwa kalimat-kalimat dengan nada seperti itu memaksa secara halus “adik” rohani bergantung pada “kakak” rohaninya terus menerus. Jika ketergantungan terus-menerus terjadi, maka sangat mungkin “adik” rohani kesulitan menjadi pribadi yang mandiri dalam menjalani kehidupan, termasuk dalam mengenal Allah secara langsung.

Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap? - Yesaya 2: 22


Anti kritik-kritik club

“Udahlah, kamu ikut aja omongan kakak, ga usah banyak komentar!”

Pernah mendapatkan kalimat ini dari “kakak” rohani kalian? Suatu ketika saya pernah mendengar seseorang “kakak” rohani menyampaikan kalimat ini kepada “adik” rohaninya yang ingin mengomentari latihan bersama yang diadakan di gereja. Terkadang seorang “adik” rohani juga berpikir, karena sang “kakak” berada di strata yang lebih dari dirinya, maka sang adik merasa ragu untuk mengritik “kakak” rohaninya. Tentu perlu didialogkan bersama, apakah seorang “kakak” rohani selalu benar dan tidak bisa dikoreksi?

Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan. - 1 Tesalonika 5:11

 


Mengaburkan “Dia” yang terutama

“Ikuti saja apa yang kakak nasihati dan contohkan ya.”

Pernahkah Ignite People mendengar seorang “kakak” rohani yang menyampaikan bahwa dirinya layak menjadi contoh bagi orang lain? Figur “kakak” rohani tentunya dipilih karena dinilai memiliki spiritualitas yang baik. Namun kita perlu sadar bahwa “kakak” rohani juga merupakan manusia yang juga tak lepas dari dosa dan kesalahan, yang mungkin juga bisa salah memberikan nasihat maupun contoh tindakan nyata. Maka seharusnyalah “adik” rohani bijak memilah hal yang baik dari “kakak” rohaninya dan tetap menjadikan Yesus sebagai “kiblat” kehidupan kita.

Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. - Mazmur 146:3


Lantas, kalau Yesus jadi “kakak” rohani gimana?

Dalam komunitas para murid di Injil, Yesus—yang saat itu berusia sekitar 30-33 tahun—menjadi seorang guru yang memimpin murid-murid yang umurnya mungkin tak jauh berbeda dengannya. Kita dapat memandang Yesus sebagai figur “kakak” yang membimbing komunitas para murid, yang bisa kita anggap sebagai “adik” untuk mengenal dan mengalami Allah secara langsung. Lebih dari sebagai “kakak” atau guru, Yesus menyatakan relasi yang terjadi antara para murid dan dirinya jauh lebih intim, seperti tertulis dalam Yohanes 15:13-15 

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

Pernyataan di atas melengkapi konsep “kakak-adik” rohani dengan menggambarkan kepemimpinan yang bersahabat (bahasa Yunani: filiarki), sebuah kepemimpinan yang setara. Tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi di antara pemimpin dan yang dipimpin. Yesus meneladankan model kepimpinan ini mulai dengan menebus kita dari dosa, status kita pun berubah bukan sekedar hamba, pengikut, ataupun murid dari Sang Penebus. Lebih dari itu, Yesus mengangkat derajat kita menjadi sahabat-Nya.



Sebagai sosok yang menyatakan diri sebagai sahabat, Yesus memberi dirinya secara penuh bagi para sahabatnya. Bersama komunitas para murid, selama bertahun-tahun mereka makan bersama, melakukan mujizat bersama-sama, mengenal kehendak Allah bersama-sama. Yesus tak hanya menyatakan kuasa penyembuhannya seorang diri, Yesus juga memberdayakan komunitas para murid untuk bisa menyembuhkan dan mengusir setan dalam nama-Nya (Lukas 10:1-2). Dalam kondisi yang berat pun di Taman Getsemani, Yesus yang sebelumnya mengingatkan para murid untuk berjaga dan berdoa, Ia pun memaklumi kondisi murid yang terlelap karena kelemahan fisik yang dimiliki manusia (Matius 26:43-44).

Yesus pun menawarkan relasi persahabatan bagi orang-orang yang dianggap pendosa dan yang terpinggirkan secara sosial. Kepada Zakheus, Ia menyampaikan tawarannya untuk saling mengenal dengan tinggal di rumahnya (Lukas 19:5). Bersama Nikodemus, salah satu dari orang Farisi yang kerap diberikan label bebal dan licik, Yesus tidak memusuhinya—Ia justru berdialog bersamanya (Yohanes 3:1-21). Kepada seorang janda Samaria, yang saat itu seharusnya dianggap hina oleh pria Yahudi, Yesus justru meminta air kepadanya, bercakap-cakap hingga akhirnya Yesus tinggal di sebuah kota di Samaria (Yohanes 4:6-41). Melalui beberapa contoh ini, kita bisa melihat bagaimana Yesus menyampaikan persahabatan yang inklusif, lebih dari komunitas para murid, dan melepas sekat-sekat budaya.



Sebuah ajakan persahabatan dalam relasi “kakak-adik” rohani

Yesus telah menawarkan relasi persahabatan bagi setiap kita. Setelah kenaikan Yesus dan turunnya Roh Kudus, para murid pun menghidupi persahabatan tersebut, baik bersahabat dengan Allah maupun dengan sesama. Dalam kehidupan para rasul pun kita juga dapat melihat relasi persahabatan tersebut diterapkan antara Paulus, sebagai “kakak” rohani dari Timotius. Kita pun juga bisa belajar menerapkan wujud persahabatan dalam komunitas #10, baik saat kita dianggap “kakak” rohani, maupun yang menjadi “adik” rohani.

Mengutip kembali Galatia 6:1 yang telah tertulis di awal, terjemahan Bahasa Jawa 2006 menggunakan kata “nuntun” yang menggantikan kata “memimpin”. Menuntun bukan berarti seorang “kakak” rohani jauh lebih hebat ataupun sang “adik” terlalu buruk; menuntun berarti berjalan bersama, sebagai kawan, yang dengan setara berproses mengenal Dia bersama-sama. Layaknya lagu dari Banda Neira yang bisa kita nikmati dengan klik gambar di bawah ini, mari buatlah relasi "kakak-adik" rohani yang ada dalam komunitas #10 layaknya sebagai kawan dalam Kristus.



Jangan berdiri di depanku

Karena 'ku bukan pengikut yang baik

Jangan berdiri di belakangku

Karena 'ku bukan pemimpin yang baik

Berdirilah di sampingku

Sebagai kawan

Kawan

Kawan

Kawan

Kawan

Sebagai kawan


Baca juga: Menghidupi Kepemimpinan dalam “Tubuh Kristus”

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER