Triggered : Sebuah Sinyal untuk Merenungkan Kembali Makna dari Krisis Kehidupan

Best Regards, Live Through This, 13 September 2019
Pernahkah kalian melihat postingan teman kalian di social media dan bereaksi setelahnya? Baik reaksi iri dan mupeng (muka pengen) sehingga terpancing untuk bersaing? Bahasa kerennya, triggered.

Saya beri ilustrasi seperti berikut. Kalian sedang bersantai sambil menikmati sore hari lalu membuka smartphone dan social media. Di sana ada post dari feeds teman kalian yang sedang foto travelling atau makan di restoran mahal atau sedang mendapat hadiah yang adalah barang mewah yang sedang kalian idam-idamkan. Jika satu orang mungkin tidak triggered, bagaimana jika beberapa orang yang dari circle pertemanan kalian memposting hal yang sama tanpa diri kalian. Triggered bukan?

source: unsplash.com

Atas ilustrasi di atas, terbukti bahwa kita hidup di zaman yang pay for experience. 

Pay of experience ini berarti kita membayar untuk merasakan “experience” atau pengalaman atau euforia dalam apa yang trend saat ini. Sah saja bahwa kita melakukan hal itu untuk “treat yourself” namun jika hal itu menjadi sebuah kebutuhan (mungkin juga demi eksistensi), tentu tidak sehat, bukan? 

Oleh karena fenomena tersebut kita sering kali lupa akan siapa jati diri kita. Bahkan fenomena seperti ini cukup sering membuat anak muda saat ini stres karena dianggap kudet dan tidak eksis karena tidak bisa mengikuti perkembangan zaman yang kian hari menawarkan banyak jenis experience berbayar.


Menarik Diri untuk Bersaat Teduh 

Di tengah dinamika kehidupan dunia yang bergerak tanpa henti dan juga menuntut semua tenaga dan pikiran kita membuat kita sedikit merenggang dengan sang Pencipta. Seringkali karena kesibukan kita, kita lupa waktu untuk bersaat teduh dengan Dia, yang telah menciptakan kita. 

Mulailah dengan mencari waktu sendiri sambil meminta bimbingan Roh Kudus untuk merasakan hadirat Allah yang biasa disebut dengan sabat pribadi. Kita dapat melakukan meditasi, berdoa dengan menyanyikan lagu rohani yang menguatkan, ataupun kita dapat melakukan dengan doa secara khusyuk terlepas dari apapun metodenya setiap orang memiliki sabat yang berbeda tergantung dari preference orang tersebut. 

Dengan perjumpaan dengan hadirat Allah ini, kita kembali disadarkan bahwa Allah begitu mengasihi kita terlepas dari apapun kondisi kita. Dalam buku The Gift Of Being Yourself karangan David G. Benner, tertulis:  

Kasih Allah yang dapat merengkuh segalanya menjaga eksistensi kita. Kasih Allah yang tak terpadamkan adalah satu-satunya harapan bagi pemenuhan hidup kita

source: unsplash.com

Melalui saat teduh kita memulai kembali relasi kita dengan Allah, Sang Kasih yang tidak berkesudahan. Betapa dalamnya kita larut dalam kasih-Nya dan akan sadar penuh bahwa sudah banyak yang Allah lakukan dalam hidup kita. Kita diajak mundur sejenak (retreat) untuk flashback bersama Allah sebagaimana kita begitu berharga dan amat dikasihi oleh-Nya tanpa syarat. 

Kembali kita melihat kembali apa siapa diri kita, sadar bahwa kita adalah seorang pendosa yang amat dikasihi oleh Allah. Kita adalah ciptaan-Nya yang berharga karena serupa dan segambar olehNya. Siapapun kita seberdosa apapun kita patut diingat bahwa Allah masih mengampuni kita, meski begitu ini bukan pengecualian untuk tidak bertobat. Tetap bertobat sesering mungkin dan sadar bahwa kita bukan ciptaan yang sempurna.


Memilih Circle 

Setelah kita membangun kembali relasi dengan Tuhan tidak lupa juga kita membangun relasi dengan sesama. Patut diingat kita masih manusia yang hidup di dunia. Sebagai manusia, perlu diketahui bahwa kita adalah hasil dari 5 orang terdekat—kita dibentuk dari lingkaran sosial kita. Maka tidak heran sering kali pribadi orang berbeda waktu kecil sama sudah dewasa. 

Sewaktu kecil kita dididik dari orang tua kita, juga mungkin dari saudara terdekat kita, bahkan oma atau opa kita tidak jauh dari lingkungan keluarga kita dibentuk. Mulai masuk sekolah kita mengenal teman mungkin pacar dan lain-lain. Disitulah berawal kita memulai untuk membuka lingkaran yang lebih luas. Mulai kuliah atau kerja, kenalan dengan teman, mungkin kerabat kerja yang jelas semakin tua semakin luas lingkaran kita. Tidak heran kita mengalami banyak fase karena lingkaran sosial kita. Sehingga menjadi pribadi yang disebut dewasa. Karena begitu luas lingkaran kita sehingga pada akhirnya kita paling banyak bisa menjaga relasi dengan 25 orang saja. 

source: unsplash.com

Mari kita lihat saat ini berapa banyak grup chat yang ada di gawai kita. Apakah kita dapat berelasi dengan semua orang di grup chat tersebut? Bisa jadi perasaan ingin pamer itu muncul dari circle kita yang isinya tukang pamer barang semua. Seperti ditulis di 1 Korintus 15:33

Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.

Hal yang bijak jika kita mulai menyeleksi circle yang menjadi tempat kita bersosialisasi. Tidak lupa juga kita meminta bimbingan Allah dalam berelasi. Bukan hal yang mudah tetapi memang perlu dilakukan agar kita tidak terjebak dalam relasi toxic.


Investasi untuk Diri Sendiri

Tidak lupa untuk kita memperhatikan diri kita sendiri, bukan celah untuk kita menjadi pribadi yang egois dan playing victim menyalahkan keadaan. Diri kita yang kita bawa sejak kita lahir perlu untuk diperhatikan. Kita harus sadar bahwa kita bukan seorang Superman yang kuat menghadapi krisis kehidupan saat ini, perlu kita sadari bahwa life must go on

Selama masa krisis ini, kita harus menerima fase ini dan juga mempersiapkan langkah kedepannya. Selain uang yang bisa kita investasikan, kita pun perlu untuk “berinvestasi” untuk diri kita sendiri. Mungkin bisa dimulai membaca buku untuk Self-Development, buku rohani yang menguatkan, memperluas kapasitas kita, dan masih banyak hal yang perlu kita siapkan. 

source: unsplash.com

Akhir kata, percayalah bahwa Allah pun tidak pernah meninggalkan kita sendirian dan semua yang terjadi dalam fase hidup kita adalah rancangan-Nya yang indah.

Tangan Tuhan sedang merenda

Suatu karya yang agung mulia

Saatnya 'kan tiba nanti

Kau lihat pelangi kasihNya

Refference:

Benner, D. G. (2015). The Gift Of Being Yourself (Anugerah Menjadi Diri Anda Sendiri : Panggilan Kudus untuk Menemukan Jati Diri Anda). Dalam D. G. Benner, The Gift Of Being Yourself (hal. 50-56). Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur.

LATEST POST

 

“How Can I Keep From Singing” Merupakan sebuah himne yang kemungkinan besar dikarang ole...
by Eka Gilroy Kharis | 26 Sep 2020

"Play with Life" merupakan tagline yang saya baru tahu dari life simulation game kesu...
by Eveline Meilinda | 26 Sep 2020

Family Drama – tidak dipungkiri bahwa ini merupakan hal yang sudah pasti ada dalam setiap kelu...
by Monica Petra | 26 Sep 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER