Ketika Hamba TUHAN Goyah (Part I)

Going Deeper, God's Words, 14 August 2019
Kita kadang-kadang keliru dalam membedakan ilmu. Kita kadang-kadang merasa tahu segala hal. Kita lupa bahwa Allah tak terselami manusia yang terbatas.

Siapa yang tak kenal Marty Sampson? Penulis lagu yang terkenal dari Hillsong Worship ini baru saja menyatakan bahwa is tak percaya Yesus lagi, karena "Apparent struggles with science and contradictions in the Bible.  Saya perlu mengulas ini karena saya kuatir ada orang yang tidak beriman juga, mengikuti Bang Marty.

Mengutip dari Relevant Magazine, Bang Marty mengunggah sebuah pernyataan seperti ini

Time for some real talk. I’m genuinely losing my faith, and it doesn’t bother me. Like, what bothers me now is nothing. I am so happy now, so at peace with the world. It’s crazy.

This is a soapbox moment so here I go … How many preachers fall? Many. No one talks about it. How many miracles happen. Not many. No one talks about it. Why is the Bible full of contradictions? No one talks about it. How can God be love yet send four billion people to a place, all ‘coz they don’t believe? No one talks about it. Christians can be the most judgmental people on the planet—they can also be some of the most beautiful and loving people. But it’s not for me.

I am not in any more. I want genuine truth. Not the “I just believe it” kind of truth. Science keeps piercing the truth of every religion. Lots of things help people change their lives, not just one version of God. Got so much more to say, but for me, I keeping it real. Unfollow if you want, I’ve never been about living my life for others. 

All I know is what’s true to me right now, and Christianity just seems to me like another religion at this point. I could go on, but I won’t. Love and forgive absolutely. Be kind absolutely. Be generous and do good to others absolutely. Some things are good no matter what you believe. Let the rain fall, the sun will come up tomorrow.


Marty Sampson on Relevant Magazine


Filsafat, Sains, Misteri agama adalah cabang ilmu pengetahuan manusia, pernah saya bahas dalam tulisan Kuliah Filsafat = Jadi Ateis? Simak Dahulu Artikel Berikut Ini! yang pernah dipublikasikan beberapa waktu lalu. Namun, saya akan copy-paste dan bahas secara singkat tentang pengetahuan manusia.

Macam Pengetahuan

Objek

Paradigma

Metode

Ukuran

Sains

Empiris

Positivistis

Sains

Logis dan bukti Empiris

Filsafat

Abstrak Logis

Logis

Rasio

Logis

Mistik

Abstrak Supralogis

Mistis

Latihan Mistik

Rasa, Yakin, Kadang-kadang Empiris


Dalam Sains atau Ilmu Pengetahuan, baik sosial atau alam, segala sesuatu dikaji dengan pengamatan empirikal. Artinya 5 indra yang ada pada manusia harus bermain dalam setiap pertanyaan-pertanyaan. Selain itu, setiap cabang ilmu memiliki metode penelitiannya sendiri. Dalam ilmu hukum, metode penelitiannya yuridis normatif atau ngeliatin undang-undang "sampai muntah". Segala sesuatu pertanyaan setelah dikaji dan diamati, ditambah dengan wawancara sebagai penguatan argumentasi, maka akan ditemukan jawaban tersebut dikatakan logis atau masuk akal. 

Dalam filsafat, segala sesuatu yang dikaji, sifatnya di luar nalar, tetapi masih masuk akal. Misalnya ketika Socrates dan teman-temannya melakukan simposium hanya untuk mencari tahu apa itu cinta dan bagaimana wujudnya, yang dicatat kembali oleh Plato. Wujud cinta kan tidak ada, abstrak, tapi semuanya masih masuk akal. Karena, kita melihat dan menyaksikan banyak manusia yang jatuh cinta dan menjadi bucin.

Mistik atau mysterion atau bahasa umumnya rahasia illahi, merupakan pengetahuan agama. Kita mencari Allah yang tidak tahu keberadaan dan wujudnya di mana, bahkan sampai orang naik ke angkasa yang ditemukan hanya bulan, bintang, tapi Allah itu tetap tak kelihatan dan tak terdengar. Inilah yang dinamakan abstrak supralogis, di luar keterbatasan manusia.  Karena Allah adalah abstrak-supralogis -- yang berarti "tak terdefinisikan" dan "tak dapat dijangkau oleh manusia" (1 Timotius 6:16) -- sehingga tiada satupun yang dapat kita ketahui tentang Rahasia Kerajaan Allah tanpa izin Allah sendiri, Kolose 1:25-26.Image by Dariusz Sankowski from Pixabay 

Tercampur-baurnya metode penelitian pengetahuan mengakibatkan kesimpulan yang keliru. Contoh saya ingin mencari tahu, kenapa masih ada hukuman mati padahal HAM telah mengatur tentang hak asasi untuk hidup. Kemudian saya datang ke laboratorium kedokteran, untuk mengetahui alasan hukuman mati diterapkan padahal ada HAM. Tapi, saya tidak menemukan jawaban, di sana hanya ada jenazah, pisau, dll. Kemudian, saya kebingungan sendiri menggunakan alat-alat tersebut.

Setiap cabang ilmu dapat saling membantu dan menopang, apabila diolah dengan metode penelitian cabang itu sendiri. Contoh saya ingin memastikan apakah tersangka yang saya tangkap memang gila atau pura-pura. Lalu, saya datang ke psikolog untuk melakukan uji psikologis. Kemudian, psikolog itu melakukan beberapa tes. Setelah disimpulkan bahwa dia gila, saya mengambil kesimpulan bahwa orang tersebut tidak dapat dipidana karena gila. Kemudian, hipotesis tersebut perlu diuji lagi dalam persidangan, merujuk ke dalam berkas BAP, saksi dan psikolog itu diminta untuk memberi keterangan.

Begitu juga dengan agama. Tidak usah jauh-jauh ke Alkitab. Kita baca saja kesaksian Bang Joy Christian dalam Keraguan Mendatangkan Iman yang Merdeka yang bulan lalu dipublikasikan. Bagaimana ketika bang Joy datang ke salah satu pendeta, pendeta itu tidak tahu, lalu Bang Joy menjadi agnostik. Tetapi, ketika abang itu berdoa dan bertanya langsung padaNya, abang itu dituntun ke sebuah Seminar Apologetika. Artinya, Bang Joy diizinkan oleh Allah untuk mengetahui Rahasia Kerajaan. Setelah itu, Bang Joy bilang, ”Tuhan menjawab doa saya.” Saya pun turut melihat konteks perikop ayat yang ditulisnya dan saya menjadi semakin yakin atas kesaksian tersebut. 

Photo by Ben White on Unsplash

Hal yang keliru yang dilakukan kita semua adalah kita menganggap diri kita mampu mengutak-atik sebuah ilmu. Tanpa, kita belajar terlebih dahulu itu ilmu. Selamanya, saya tidak akan bisa meneliti tentang apa pun dalam dunia kedokteran, karena saya tidak pernah belajar akan hal itu. Tapi, saya bisa meneliti ilmu hukum dan seluk beluknya karena saya telah belajar untuk itu. Begitu juga dengan Firman ALLAH, kita kadang mengutak-atik Firman TUHAN, tanpa kita sendiri terbiasa baca Alkitab dan berdoa.




Baca :

Keraguan Mendatangkan Iman yang Merdeka oleh Joy Christian 

Kuliah Filsafat = Jadi Ateis? Simak Dahulu Artikel Berikut Ini! oleh Yessi N G Saragih

LATEST POST

 

"Ayo, kita naik gunung bersama!" Demikian beberapa teman mengajakku, dan aku menyetujuinya...
by Olyvia Hulda | 05 Dec 2020

Satu lagi karya ajaib buatan tangan Tim Dapur Visinema yang diberkati dengan kreativitas tanpa batas...
by Grifith Mercia | 05 Dec 2020

Note: Silahkan membaca Part 1 dan Part 2 terlebih dahulu.Kini kita telah memasuki bagian akhir dari...
by Alviedo Yuda | 05 Dec 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER