Kristen Tapi Kok Nganu?

Best Regards, Live Through This, 07 August 2019
Apakah memaksakan sebuah aliran yang dianggap benar adalah perkenanan-Nya? Apakah memaksa sesama untuk mengikutmu dan aliranmu adalah perintah dari Yesus?

"Kamu agama apa?"

"Aku Kristen."


Percakapan kita sudah menunjukan bagaimana kita memperkenalkan identitas kita, bahwa kita orang Kristen atau Kristiani atau Nasrani. Tentu kita boleh berbangga sebagai orang Kristen, tetapi dengan identitas kita sebagai orang Kristen, apakah hal itu membuat kita semakin serupa atau segambar dengan Kristus?


Kristen menurut definisi dari Wikipedia adalah agama Abrahamik yang berasaskan Yesus Kristus. Secara spesifik penyebutan kata KRISTEN dijelaskan di Alkitab pada kitab Kisah Para Rasul 11 : 19 - 26. 


Jemaat Kristen—atau umat Kristen—mengalami pertumbuhan dan perkembangan setiap tahunnya di seluruh dunia, baik secara kuantitas maupun kualitas sehingga memunculkan banyak denominasi atau aliran. Khususnya di Indonesia, meski bukan agama yang mayoritas, jumlah sinode gereja yang tercatat di PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) cukup banyak: ada sekitar 89 sinode yang tercatat, terlepas dari denominasi apapun. 


Berbicara soal Kristen, definisi di atas menyebutkan bahwa asas kita adalah Kristus atau Yesus Kristus, sehingga kita dapat simpulkan bahwa umat Kristen adalah semua umat yang mengikut Kristus—atau sederhananya: umat yang Tuhannya Kristus atau Yesus Kristus dan ibadahnya di gereja.


Gereja sendiri berasal dari kata igreja dalam bahasa Portugis (karena Indonesia pernah dijajah Portugis) dan dalam bahasa mula-mulanya adalah EKKLESIA yang artinya "jemaat/umat yang bersekutu".

unsplash.com


Gereja bukan Gedung, Gereja adalah Orangnya


"Aku Gereja, kau pun Gereja, kita sama-sama Gereja dan pengikut Yesus di seluruh dunia kita sama-sama Gereja.

Gereja bukanlah gedungnya, dan bukan pula menaranya

Bukalah pintunya, lihat di dalamnya, Gereja adalah orangnya." - KJ 257


Sadar atau tidak, gereja tidak akan pernah berjalan kalau tidak ada orang. Mari sederhanakan seperti ini:


Bagaimana jika tidak ada Pendeta yang berfungsi sebagai gembala untuk menggembalakan umatnya? Juga, bagaimana jika umat tidak ada dan hanya pendeta seorang di sana? Tentu tidak jalan bukan? Berjalannya sebuah gereja ditentukan oleh orang-orang yang berada di dalamnya. Bukan hanya pelayanan dalam bidang gerejawi saja tetapi bidang non-gerejawi, seperti peran satpam dan tukang parkir. 


Terkadang pelayanan jemaat sering dipersempit menjadi pelayanan gerejawi karena keanggotaan mereka di dalam gereja. Alhasil, esensi dan fokus pelayanan yang sesungguhnya sering dilupakan oleh kita (mengrnai esensi pelayanan ini, telah ditulis tegas di dalam Kolose 3:23).


Seringkali dalam pelayanan di dalam gereja pun kita memilih pelayanan setengah hati karena banyak faktor, entah karena status keanggotaan jemaat (sehingga berpotensi berlari ke kesombongan), karena hanya ingin keluar rumah, bahkan yang terparah karena ada gebetan (sehingga ujung-ujungnya jatuh ke nafsu karena menuhankan si gebetan dan terjadi skandal). 


Sesuai dengan Kolose 3 : 23, pelayanan tidak harus di dalam gedung gereja. Bisa dengan kita mendengarkan sedikit keluh-kesah teman yang mungkin berbeda dan mendoakannya, itu pun sudah dianggap pelayanan. Atau pun hal sederhana seperti membantu orang tua, itu juga sudah dianggap pelayanan.


Sebenarnya, bagaimana pelayanan yang benar? 

Matius 25:40 (TB)  "….Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."



Karena kita telah hidup karena Kasih Allah akan dunia ini dan kita sadar bahwa Tuhan kita Yesus Kristus telah mengasihi kita terlebih dahulu, kita pun harus berani untuk memberikan kasih kepada sesama kita manusia dengan kerelaan hati. Karena dalam berbelas kasih kita perlu rela hati untuk melakukannya dan bukan keterpaksaan apalagi dianggap kewajiban. Karena kita sendiri adalah gereja dan sudah seharusnya perbuatan, perkataan, dan pikiran kita sudah menghadirkan Kristus di tengah-tengah lingkungan kita yang mungkin belum mengenal Kristus.


Kristen sih, tapi kok Nganu?


Pada perkembangan teknologi seperti sekarang, tidak bisa dipungkiri bahwa kita sebagai gereja (jemaat) ikut dalam perkembangan tersebut sehingga tercipta masyarakat saat ini yang melek tentang internet. Smartphone, social media, social platform sudah menjadi bagian dalam kehidupan kita dan mungkin menghiasi aktivitas sehari-hari kita. Sayangnya, perkembangan internet di dunia kita saat ini sering disalahgunakan, seperti dengan adanya berita bohong, cuci otak atas nama agama, dan penyebaran teror. Bahkan tidak jarang internet menjadi media untuk berdebat siapa yang paling benar, agama mana yang benar bahkan mirisnya ini dilakukan oleh orang Kristen. 


Fenomena akun satir yang menjamur di mana-mana menggiring beberapa pendeta untuk ikut menyindir gereja lain. Hal ini sampai meresahkan seorang pendeta, yang akhirnya angkat suara, "Murid Kristus itu jadi martir bukan satir."


Saya pribadi pun sebenarnya dalam menyikapi fenomena ini di satu sisi resah, satu sisi lain tidak peduli. Saya tidak peduli karena masalah kekristenan yang benar, menurut saya, berbicara tentang keintiman hubungan dengan Tuhan dan melakukan perintahnya sesuai apa yang ada di Alkitab. 


Tidak terlepas dari denominasi mana pun dan metode apapun, namanya Kristen seperti di definisi sebelumnya bahwa Kristen itu adalah agama yang percaya bahwa KRISTUS adalah Tuhannya. 


Yesus hanya berkata "Ikutlah Aku" dan bukan "Ikutlah aliran A maka kau akan selamat". Sekali lagi, aliran adalah bentukan manusia terlepas dari sejarahnya maupun metodenya. Juga perlu diketahui bahwa Tuhan Yesuslah yang menghakimi perbuatan baik dan buruk kita pun dihitung oleh-Nya di akhir zaman nanti, jadi kita sebagai manusia biasa tidak berhak menghakimi sesama ciptaan. 


Mengkritik memang diperbolehkan selama masih dalam etika yang benar, bukan menjadi media untuk memaksakan sebuah aliran adalah aliran yang paling benar. Kritik yang baik dan benar disampaikan melalui dari berbagai perspektif terlebih lagi karena konteks kekristenan, harus dilandaskan oleh firman Tuhan bukan semata-mata memakai artikel yang belum jelas sumbernya sehingga mengarah ke provokasi dan perpecahan umat. Semua dibutuhkan kebijaksanaan bukan untuk melampiaskan emosi sesaat atau lebih parahnya perang antar aliran. Perlu diketahui juga bahwa aliran itu adalah buatan manusia jadi tidak ada yang sempurna


Apakah kita mau disebut umat yang agamanya sering ribut satu sama lain? Atau menjadi umat Kristen yang cuma mabuk pelayanan? Atau menjadi umat apatis? Semua di tangan kita karena identitas kita sebagai pengikut Kristus di dunia

LATEST POST

 

Yesus pergi ke Yerusalem,meninggal di sana, meninggalkan pinggiran dan remahan...Begitulah gere...
by Prioutomo | 11 Nov 2019

Pernahkah kita memikirkan alasan di balik kelahiran kita ke dunia?Banyak motivator, pengkhotbah, mau...
by Lay Lukas Christian | 06 Nov 2019

Ia adalah es kopi pertama yang kau reguksetelah episode batuk yang panjangIa adalah sambal pertama y...
by Olivia Elena Hakim | 30 Oct 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER