Manusia, Parasit Bagi Semesta(?)

Best Regards, Live Through This, 01 July 2019
Saya rasa, kita dan bahkan hampir seluruh manusia pun juga pernah dan hingga kini masih melakukan hal yang sama seperti keluarga Kim, menjadi parasit… bagi semesta.


Sekali lagi, sebuah karya epik dihasilkan oleh negeri ginseng. Parasite, sebuah film garapan Boong Joon-ho memenangkan penghargaan Palme d’Or, karya tertinggi di ajang bergengsi Cannes Film Festival 2019. Walaupun film ini hanya berada di bioskop tertentu di Indonesia, beberapa lembaga reviewer bahkan seorang Joko Anwar, sutradara top Indonesia, memberikan rating dan penilaian yang sangat memuaskan. Tontonlah di bioskop dan hindari mengunduh dari internet (kampanye anti pembajakan!).

Tentu artikel dalam ini saya tidak akan membahas detil demi detil film Parasite, namun ada dua hakekat yang melekat pada diri manusia dan perlu direfleksikan bersama. Pertama, manusia akan selalu berusaha mencari celah agar dapat bertahan hidup. Tak dapat diingkari, di dalam kondisi tertekan manusia juga memiliki insting yang hampir sama seperti hewan, berusaha melihat kelemahan orang lain, memanfaatkannya dengan luar biasa.

Photo by ToooPRaaak on Pixabay

Survival of the fittest theory atau kita kenal sebagai teori seleksi alam yang dicanangkan oleh Darwin merupakan realita yang nyata dalam kehidupan semesta. Banyak hewan dan tumbuhan yang menjadi langka ataupun punah, tanpa mereka inginkan. Sedangkan makhluk yang tersisa hingga saat ini ialah mereka yang bukan hanya kuat menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan, tetapi juga cerdas melihat celah agar dapat hidup.

Hal kedua yang dapat kita bisa temukan dalam film Parasite adalah hakekat manusia yang kadang tidak pernah merasa cukup akan kenikmatan hidup. Beberapa motivator ataupun orang kaya baru kerap melantangkan ucapan, “Agar kita bisa sukses, jangan pernah cepat merasa puas dengan kondisi kita saat ini. Kita bisa menikmati hidup jauh lebih luar biasa.” Beragam kalimat motivasi lainnya kerap terucap oleh mereka, yang mendorong para pendengarnya untuk berusaha lebih mencapai kenikmatan hidup dengan abstraksi yang berbeda-beda.

Beberapa pakar etika, psikologi maupun teologi tentu bisa memberikan penilaian yang berbeda-beda akan hakekat tersebut. Namun saya sedikit tegas menyatakan bahwa hakekat rasa tak pernah puas akan menjadi buruk ketika kita mengeksploitasi hal-hal yang berada di sekitar kita. Dengan cara eksploitasi, secara material kita berada dalam kondisi yang lebih, namun lingkungan di sekitar kita akan berada dalam kondisi yang memburuk.

Photo by Tumisu on Pixabay

Dari dua hakekat tersebut, walaupun hal tersebut tak bisa kita katakan mutlak, manusia berpotensi memiliki sifat dan karakter seperti parasit. Dalam film tersebut, kita bisa melihat keluarga Kim menjadi parasit bagi sesama manusia, mencari dan menggunakan celah kebodohan dari keluarga yang kaya raya dan mengekploitasinya terus-menerus.

Saya rasa, kita dan bahkan hampir seluruh manusia pun juga pernah dan hingga kini masih melakukan hal yang sama seperti keluarga Kim, menjadi parasit… bagi semesta. Agar bertahan hidup, manusia berusaha mencari celah dari sesama ciptaan lainnya lalu menaklukkannya. Setelah berkuasa, manusia terus melakukan eksploitasi bagi kepuasan diri. Manusia yang dulunya takut akan keberingasan hewan-hewan liar, membuat ragam senjata untuk tidak mati terbunuh. Tak puas dengan sekadar bertahan hidup, manusia menangkap hewan-hewan liar, manusia menangkapnya, menjadikan sebagai hiburan di sirkus maupun kebun binatang. Lebih memilukan lagi, ada beberapa hewan yang diperlakukan kasar atau bahkan diburu untuk diambil bagian tertentu dari tubuhnya untuk memuaskan keinginan manusia.

Tak hanya hewan-hewan saja, semesta kita, baik tumbuhan, udara, laut dan perut bumi pun juga manusia ‘perkosa’ demi kepuasan pribadi. Pandangan keagamaan dan pesan-pesan Alkitab pun dijadikan landasan demi tindakan jahat tersebut. Nats yang menyatakan manusia diciptakan sesuai dengan gambar Allah, membuat manusia semena-mena, merasa berada di puncak strata penciptaan. Begitu pula perintah untuk berkuasa atas segala binatang-binatang, menjadi klaim yang melegalkan manusia boleh mengeksploitasi semesta. Apakah gereja atau komunitas kita melakukan penafsiran seperti itu?

Photo by PublicDomainPictures on Pixabay

Karakter manusia sebagai parasit tersebut merupakan hal yang bersumber dari ego, yang seharusnya tidak diharapkan oleh Allah. Kitab Kejadian pasal 9 ayat 17-18 mencatat bagaimana Allah berharap manusia bukan berada di puncak, melainkan manusia dapat hidup bersama-sama, bahkan merawat sesama ciptaan.

Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu. Dan dari segala yang hidup, dari segala makhluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama dengan engkau; jantan dan betina harus kaubawa.

Allah dalam segala kemahakuasaan-Nya, di mana Ia bisa melenyapkan segala sesuatu dan menciptakan kembali bumi beserta isinya, memiliki kasih yang besar. Kasih tersebut bukan hanya dinyatakan pada keluarga Nuh saja, Allah ingin agar hewan-hewan yang telah Ia ciptakan dengan baik adanya (seperti tertulis dalam Kejadian pasal 1), tetap bertahan hidup dan melangsungkan kehidupan. Tentu tidak semua hewan dapat hidup bertahan dari air bah, oleh sebab itulah Allah memerintahkan Nuh untuk memelihara dan menjaga mereka dalam satu bah dalam selang waktu yang lama.

Photo by @recoverterra on Instagram

Tentu masih banyak penggalan pesan dari Alkitab mengenai pentingnya manusia menjalin relasi dengan semesta, terlebih dalam kitab kebijaksanaan seperti Mazmur dan Amsal. Dalam Mazmur 104, kita akan sadar betapa besar-Nya Tuhan dan semesta ini dibandingkan manusia seperti kita.

Dengan kelebihan kita, yang tercipta segambar dengan rupa Allah, seharusnya kitalah yang memancarkan kasih Allah di tengah ciptaan lainnya, bukan menjadi parasit. Banyak tindakan praktis yang bisa kita lakukan untuk menjalin relasi dengan sesama. Saya pun berusaha melakukan langkah-langkah praktis, seperti mengurangi pemakaian plastik untuk belanja di minimarket, menggunakan stainless straw dan menggunakan botol sendiri  agar tidak menambah sampah plastik. Saya dan keluarga pun yang hobi memiliki hewan peliharaan, tentu memberikan makanan dan nutrisi yang cukup serta perhatian yang tepat.

Mungkin banyak hal-hal praktis yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari semesta dan hidup bersama semesta. Kita sebagai manusia, adalah makhluk yang diberikan hikmat oleh Allah, tentu tidak untuk menjadi parasit bagi semesta, namun sebagai wakil Allah yang menjaga, merawat dan mengasihi semesta.

LATEST POST

 

Kita semua tentu tidak asing dengan DC Comics—salah satu perusahaan komik terbesar di Amerika...
by Febrian Eka Sandi Nugroho | 09 Oct 2019

Beberapa tahun lalu, saya mengerjakan penulisan untuk sebuah majalah ‘untuk kalangan Kris...
by Sobat Anonim | 09 Oct 2019

Kekacauan di Indonesia yang terjadi beberapa pekan terakhir melukai hati saya. Bisa dibilang, setiap...
by Eleazar Evan Moeljono | 05 Oct 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER