BERSAMA SEMESTA

, What's Next, 02 June 2019
Fenomena mengenai lingkungan hidup dan gaya hidup hijau yang ditawarkan di depan mata kita serupa peradaban baru yang membukakan mata. Benar, Bumi kita sedang tidak baik-baik saja. Bumi ini serupa seorang perempuan yang disakiti berkali-kali, hanya dieksploitasi tanpa disayangi, lalu ia patah hati, berkomunikasi dengan tangisan penuh amarah yang mendatangkan bencana, luka, serta penyakit.

Dear Youth,

Sebuah publikasi di EurekaAlert! Pada 19 Juli 2017 lalu menjelaskan, bahwa sejumlah ilmuwan mengkalkulasikan jumlah sampah plastik yang telah diproduksi hingga tahun 2015 adalah sebanyak 8,3 miliar ton. Sebanyak 6,3 miliar ton sampah plastik hanya berakhir di tempat sampah tanpa pengolahan yang benar. Tahun 2016, Indonesia telah menjadi penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia dengan capaian 187,2 juta ton sampah plastik dan terus mengalami peningkatan. 

November 2018 lalu, Indonesia dihebohkan dengan sejumlah pemberitaan mengenai hewan-hewan laut yang ditemukan mati karena limbah plastik. Berita pertama datang dari Kepulauan Seribu, dengan ditemukannya penyu yang mati akibat memakan limbah plastik. Bangkai penyu itu ditemukan di perairan Kepulauan Seribu pada Selasa, 27 November 2018. Berita kedua, ditemukan seekor paus yang mengapung mati di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Sejumlah peneliti dari Academy of Marine and Fisheries Community in Wakatobi, the World Wildlife Fund (WWF) menemukan 115 gelas plastik, 19 plastik keras, 4 botol plastik, 25 kantong plastik, 6 pecahan kayu, 2 pasang sandal karet, 1 karung dengan bahan nilon, dan lebih dari 1000 tali plastik di dalam perut paus tersebut. Total sampah plastik yang ditemukan? 5,9 kilogram!

Yang paling baru adalah isu ekologi di seputar lokasi operasional tambang yang dipaparkan dalam film dokumenter kontroversial besutan Dandhy Laksono, Sexy Killers. Meskipun film tersebut perlu dikritisi di berbagai sisi, harus diakui film tersebut sedikit banyak memaksa kita berpikir kembali tentang Bumi yang saat ini kita jejaki, udara yang kita hirup, air yang kita konsumsi, hingga nasi yang kita makan.

Bersamaan dengan bergulirnya isu tersebut, berapa banyak kita melihat promosi stainless straw di dunia maya hari-hari ini? Atau, sudah berapa kali kita melihat kampanye sosial zero-waste? Seberapa sering kita ‘diteror’ dengan ajakan-ajakan untuk membawa botol minum pribadi, tempat makan sendiri, membawa tas belanja yang dapat dipakai berkali-kali, menggunakan alat mandi ramah lingkungan, mematikan listrik saat tidak digunakan, mengefektifkan penggunaan air, mengadopsi hewan yang terlantar, atau dalam langkah lebih radikal: Memperjuangkan ruang terbuka hijau, mulai berkebun dan mengolah sampah rumah tangga secara mandiri? Hal-hal baik yang kita baca dan dengar itu katanya dapat mengurangi sampah, meminimalisir polusi, menyelamatkan hewan-hewan laut, menyediakan ruang publik bagi makhluk hidup, memperjuangkan hidup manusia, dan merawat semesta.

Fenomena mengenai lingkungan hidup dan gaya hidup hijau yang ditawarkan di depan mata kita serupa peradaban baru yang membukakan mata. Benar, Bumi kita sedang tidak baik-baik saja. Bumi ini serupa seorang perempuan yang disakiti berkali-kali, hanya dieksploitasi tanpa disayangi, lalu ia patah hati, berkomunikasi dengan tangisan penuh amarah yang mendatangkan bencana, luka, serta penyakit. Lalu kini, manusia kebingungan.

Dalam kebingungan ini mari bersama-sama menggumulkan guna kita di hadapan semesta. Guna yang sesungguhnya telah dimandatkan Allah dalam rangkaian proses penciptaan yang indah dalam Kitab Kejadian : “…Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.”

Semesta yang indah dan baik telah dimandatkan Allah kepada manusia yang kemudian jatuh dalam dosa dan bergumul hingga hari ini. Namun Allah telah menjadi manusia melalui Yesus Kristus dan memberikan nyawaNya untuk mengadakan rekonsiliasi vertikal dan horizontal melalui salibNya. Horizontal adalah pendamaian Allah dengan manusia;vertikal adalah pendamaian Allah dengan Bumi dan segala makhluk yang menempatinya. Pendamaian itu membawa sebuah janji paling optimis dan manis mengenai pemulihan atas segala ciptaan. 

Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi.” – Wahyu 21:1

Tema IGNITE bulan ini adalah Bersama Semestamelalui tema ini, mari kita sebagai manusia, anak muda, dan gereja mulai mempertanyakan, mempertanyakan ulang, menemukan jawaban, menyuarakan, dan bersama-sama menggumulkan guna kita di hadapan Allah dan semesta. Mari bersuara tentang udara yang kita hirup, gunung yang kita daki, lautan yang pernah kita selami, petani yang pernah kita temui, ruang yang membuat manusia lebih hidup, gaya hidup hijau, cara lingkungan berkomunikasi, dan bagaimana Allah berbicara dengan kita melalui pagi dan petang yang telah diciptakan-Nya.

Semoga kamu tidak ragu, supaya semesta tidak lagi pilu. Kamu dapat berkontribusi dalam rupa tulisan, visual, maupun audiovisual. Kamu bisa bertanya pada Mimin IGNITE melalui Instagram @ignite.gki atau email langsung ke [email protected] jika belum mengerti mengenai prosedur kontribusi. Bersama semesta dan Sang Pencipta, kami menunggu karya-karyamu!

 

RELATED TOPIC

LATEST POST

 

“Dek, kamu mau gak ikut pelayanan?”“Engga.”Yups, aku yakin bahwa k...
by arthia anada | 17 Aug 2019

Bulan ini, Ignite GKI sedang membahas serba-serbi gereja. Bagiku, seiring dengan beredarnya akun-aku...
by Chintya | 17 Aug 2019

Pagi ini, sebelum ada yang datang, lelaki itu sudah tiba, mendirikan motornya, membuka pagar, mengge...
by Prioutomo | 17 Aug 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER