Jemaat Rasa Simpatisan: Kisah Awal Pelayananku di Gereja

Best Regards, Live Through This, 22 May 2019
Minggu sore itu, aku beribadah di gereja bersama keluarga, ya seperti biasanya. Terkadang aku menganggap ibadah menjadi suatu rutinitas mingguan yang wajib kuhadiri. Aku pun sering merasa bosan, malahan pernah terlintas pertanyaan, “Kenapa sih aku harus ke gereja, cuma duduk mendengarkan pujian, pulang. Aku pun nggak ngapa-ngapain, mending dengerin khotbah dari Youtube aja.”

Aku tergolong remaja yang cukup sering hadir di komisi remaja, tapi ya sama saja. Banyak hadir tanpa absen di remaja namun aku tetap tidak punya teman di gereja, aku selalu sendiri. Setiap ibadah aku selalu bersama keluargaku saja, sehabis itu pulang. 'Jemaat rasa simpatisan' mungkin itu kalimat yang cocok untukku.

Ibadah hari itu dilayani oleh komisi remaja. Sempat dalam hati aku berkata, “Ah sialan kenapa aku harus berangkat coba. Malu, ya kan... aku juga remaja tapi tidak terlibat sama sekali.” Saat ibadah fokusku malahan tertuju pada seorang remaja bukan pada firman yang disampaikan, sungguh semoga Bapa mengampuniku. Ia tergolong baru di komisi remaja, ya kira-kira dua tiga kali pertemuan. Namun ia saat ini ikut andil ambil bagian dalam pelayanan menjadi lektor, sedangkan aku dari lahir di gereja ini, masih duduk manis di bangku jemaat. Menyedihkan bukan?

Seketika pikiran-pikiran negatif karena iri pun muncul dalam pikiranku. Betapa berdosanya aku, saat ibadah gagal fokus, dan ditambah berpikir negatif pula. Aku berasumsi begini “Ya iyalah, dia sudah ikut pelayanan, kan dia dekat dengan bidang liturgi dan penatua. Jadi gampanglah dia bisa ikut pelayanan.” Betapa hina dan tercelanya aku ini sampai bisa berpikir seperti itu.  Sadar atau tidak sadar aku telah iri kepada remaja tadi dan membiarkan diriku dikuasai pikiran negatif.


Beberapa saat kemudian setelah pikiran negatif itu terlintas, abang bertanya “Loh yang tugas pelayanan itu korem, kan? Kamu kok nggak ikut, kamu bolos ya kemarin jadi nggak diajak.” Saat itu aku jawab “Nggak lah, nggak mungkin bolos. Kalo bolos nanti pasti pak satpam laporin ke papah, kan papah cs-nya pak satpam,” jawaban yang disertai sedikit candaan namun membuatku berpikir keras kemudian.


Ibadah umum yang dilayani komisi remaja memang sudah dibahas dalam pertemuan remaja dua minggu sebelumnya. Mereka membagi tugas pelayanan dua minggu lalu, memang benar aku juga diminta terlibat namun aku menolaknya. Beberapa kali ajakan pelayanan oleh penatua pun aku tolak. Aku lebih lagi merasa berdosa karena sadar aku sudah berpikir negatif sebelumnya. Ditambah lagi Firman Tuhan kali ini membahas mengenai kesanggupan untuk berkata “Utuslah aku."

Sampai di rumah, kalimat terakhir yang aku dengar saat khotbah itu selalu menggema di telingaku. Entah khotbah apa yang disampaikan tadi, aku tidak terlalu fokus. Tapi satu kalimat “Sudah sanggupkah kita berkata Tuhan, ini aku, utuslah aku” itu bisa masih menggema sampai aku di rumah. Aku sempat berpikir, mungkin karena aku terlalu banyak dosa dan menolak pelayanan. Ah tapi tidak deh kayaknya, aku kan rajin ke gereja juga. Lah tapi kok aku yang jemaat dari lahir kok malahan kalah sama simpatisan dalam hal pelayanan?


Sampai di ujung hari, aku lelah mendengar suara itu terus. Aku membawanya ke dalam doa, ya bandel-bandel gini aku masih ada alimnya sedikit. Dalam perenungan itu aku menyadari sesungguhnya banyak yang harus diubah dari diriku, terutama bagian relasi dengan sesama. Sering aku terlalu mengurung diri dari lingkungan, apalagi lingkungan gereja, dan hanya fokus pada diri sendiri. Terkadang aku merasa tidak butuh mereka, yang penting kan aku sering membaca Firman Tuhan dan tidak bolos ke gereja? Tapi apalah arti semua itu kalo aku mengurung diri terus? Bukankah Tuhan pun memerintahkan kita melayani di tempat kudus? Bukan hanya berdiam diri???


“Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu?” Rasul Paulus pernah berkata kepada jemaat di Korintus dalam salah satu suratnya.

Setelah malam tersebut, aku menghubungi penatua dan bidang liturgi untuk minta dilibatkan dalam pelayanan. Memang aku malu untuk mengatakannya karena sudah berkali-kali menolaknya. Lagipula aku tidak tahu akan ditempatkan sebagai apa, tapi aku yakin Tuhan pasti tempatkan aku di tempat yang tepat sesuai talentaku. Mungkin saat ini aku dapat dibilang sudah sedikit mempunyai keberanian untuk berkata, “Tuhan ini aku utuslah aku.” Ya diakhir doaku aku memohon supaya aku tidak dipanggil Tuhan sebelum aku bisa terlibat dalam pelayanan, karena meninggal dunia pun bisa kapan saja. Betapa naifnya aku, soal mati selalu ingat tapi melayani tidak dilakukan.

***

Setelah momen itu, aku mulai bergabung dalam pelayanan; diawali sebagai kolektan, dan semoga besok bisa dipakai lebih lagi. Aku pun merasa mendapat keluarga baru, yaitu keluarga di gereja. Memang tidak seharusnya disebut keluarga baru, tapi tidak mungkin juga kan aku bilang 'keluarga yang hilang.' Ya seperti itulah, tentunya kalian mengerti yang saya maksud. Aku pun sekarang merasa nyaman di gereja, bersenda-gurau dengan remaja lain setelah selesai ibadah, dan berbagi pengalaman. Ternyata dengan menghancurkan dinding rasa malu, hidup lebih indah juga. Pernahkah kalian merasa sepertiku? Bila pernah mari kita sama-sama belajar untuk berubah dan turut menjadi pelayan Tuhan. Kalau bukan dengan cara melayani lalu dengan cara apa lagi kita mempersembahkan talenta kita untuk Tuhan? Lalu bagaimana kita akan diberi talenta lagi bila tidak mengusahakannya?



LATEST POST

 

*in collaboration with Olivia Elena HakimSepanjang tahun 2016-2019, kita kerap membaca berita t...
by Ari Setiawan | 18 Sep 2019

Sebagian besar di antara kita menginginkan bisa berada di tempat yang kita inginkan atau kita impika...
by Aditya Seto Nugroho | 18 Sep 2019

Hai Gereja, bagaimana kabarnya? Kulihat wajahmu semakin banyak rupa Masihkah engkau setia membawa su...
by radith trinanda | 18 Sep 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER