Kuliah Filsafat = Jadi Ateis? Simak Dahulu Artikel Berikut Ini!

Going Deeper, God's Words, 17 May 2019
Keberadaan Allah memang diukur dengan iman bukan rasionalitas. Tetapi, perbuatan kita yang mencerminkan iman adalah bukti dari rasionalitas Kristen.

Adakah teman-teman yang pernah mendengar kata "filsafat"? Atau apa ada teman-teman yang tertarik kuliah pada jurusan "filsafat"? Teman-teman yang senang membaca buku Plato, Marx, Cicero dan filsuf lain, umumnya bercita-cita untuk kuliah jurusan Filsafat. 

Realitanya, ketika beberapa teman berdiskusi dengan keluarga, tanpa pikir panjang orang tua berkata, "Jangan pilih jurusan Filsafat, nanti kamu jadi ateis!" Belum menjalani saja, teman-teman yang tertarik kuliah di jurusan filsafat sudah berhadapan dengan konflik keputusan dengan keluarga. Lantas, benarkah seseorang menjadi ateis ketika belajar filsafat? Bagaimana kalau kondisinya adalah kamu kuliah di salah satu jurusan dan harus berhadapan dengan mata kuliah filsafat sebagai mata kuliah wajib, lalu dosen menyuruh kamu membuktikan secara empiris keberadaan Tuhan seperti di film "God's Not Dead"?


Kita Nggak Bakal Jadi Ateis Akibat Berfilsafat

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, "filsafat" adalah 1 pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya; 2 teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan; 3 ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi; 4 falsafah. Sehingga, kata kunci dari dari filsafat adalah akal budi atau pikiran sehat.

Image by Mystic Art Design from Pixabay 

Secara etimologis, "filsafat" diambil dari bahasa Yunani yaitu philosophia. Dalam bahasa Yunani, kata philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri atas philo dan sophia;  philo artinya cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu; sophia artinya kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam. Jadi, menurut namanya saja, filsafat boleh diartikan sebagai keinginan mencapai pandai, cinta pada kebijakan[1] (kebijakan berarti kepandaian, kemahiran, dan kebijaksanaan).  

Pemazmur dalam Mazmur 49:4 menyampaikan bahwa:

mulutku akan mengucapkan hikmat (wisdom), dan yang direnungkan (meditation) hatiku ialah pengertian. 

Artinya, dalam hal kebijaksanaan atau mencari pengertian dan kepandaian ─ istilah sekarang berfilsafat ─ Pemazmur pun melakukannya; bukan hanya Socrates yang berfilsafat. Meskipun Pemazmur adalah orang yang senantiasa berfilsafat, Pemazmur begitu mengagungkan TUHAN dalam setiap nyanyiannya dan kata-katanya . Artinya, bukan karena berfilsafat orang menjadi ateis.

Aaron Burden on Unsplash  


Iman dan Rasionalitas Kristen

Pengetahuan manusia dibagi menjadi 3 jenis Sains, Filsafat, dan Mistik. [2]

Macam PengetahuanObjekParadigmaMetodeUkuran
SainsEmpirisPositivistisSainsLogis dan bukti Empiris
FilsafatAbstrak LogisLogisRasioLogis
MistikAbstrak SupralogisMistisLatihan MistikRasa, Yakin, Kadang-kadang Empiris


Secara umum, agama, kepercayaan, tradisi, dll masuk ke dalam pengetahuan mistik. Mistik sendiri diambil dari bahasa Yunani mysterion yang artinya rahasia.[3] Di dalam Kristen, penguasaan pengetahuan tentang Allah adalah hal yang tidak dapat dicapai karena manusia adalah makhluk yang terbatas, kecuali Allah berkenan untuk menyingkapkan rahasiaNya. Karena Allah adalah abstrak-supralogis -- yang berarti "tak terdefinisikan" dan "tak dapat dijangkau oleh manusia" (1 Timotius 6:16) -- sehingga tiada satupun yang dapat kita ketahui tentang Rahasia Kerajaan Allah tanpa izin Allah sendiri (Kolose 1:25-26). 

Image by Free-Photos from Pixabay 

Setiap Firman Tuhan yang disampaikan melalui Nabi dan Rasul terjadi melalui kehendak Allah sendiri. Namun, kita tidak serta-merta dapat mengetahui Rahasia Allah atau Firman-Nya tanpa bersekutu dengan Bapa melalui Kristus, sebagai latihan iman kita. Caranya adalah dengan berdoa dan membaca Kitab Suci jika ingin mengetahui sabda Tuhan dalam kehidupan kita. Tapi, untuk dapat melakukan perkara yang lebih besar ada tuntutan berpuasa sebagai bagian dari latihan iman kita (Matius 17:14-21). Jika, kita sering berdoa, membaca kitab suci (renungan malam dan saat teduh), bahkan berpuasa, maka iman kita akan semakin bertumbuh. 

Tapi, pertumbuhan iman hanya kita sendiri yang merasakan dan hanya teman persekutuan saja yang tahu bahwa kita bertumbuh dalam iman. Karena hanya kepada kita sajalah Tuhan berkehendak untuk ditemui, diberitahukan rahasiaNya, seperti Wahyu Allah yang hanya disingkapkan kepada rasul Yohanes (Wahyu 1:1) untuk diteruskan kepada kita yang percaya. Sehingga orang yang tidak mengenal Allah, seperti dosen anda yang ateis, tidak tahu tentang kebenaran firman-Nya. Orang-orang ateis dapat mengenal Allah melalui kita, dengan menunjukkan perbuatan dari iman, seperti yang dirangkum dalam Galatia 5:22-23, yaitu tentang Buah Roh. Saat kita mengaku mengenal Kristus, tetapi dosen melihat kalau kita menyontek di kelas, maka iman kita adalah omong kosong belaka (Yakobus 2:14-26). Ketika kita dituntut menjadi garam dunia tetapi kita sendiri tawar, apa gunanya? (Matius 5:13) Bibir yang mengaku percaya dengan perbuatan yang jahat adalah hal yang sangat irasional.


Alasan Orang Menjadi Ateis

Pertama, zaman dahulu gereja menganggap  orang awam yang memikirkan hal yang "di atas" dan yang "di bawah" sebagai penentang agama. Sehingga, zaman dahulu gereja mengekang kebebasan berpikir seseorang. Contohnya: Galileo Galilei yang diadili oleh Gereja Katolik Roman.[2] Ini adalah bukti dari kesalahan keputusan gereja pada waktu itu. Andai saja Gereja Katolik Roman mau menerima setiap perbedaan pendapat dan argumentasi, maka semua orang niscaya akan memuji dan memasyhurkan nama Allah atas kepandaian yang dilimpahkan pada Galileo Galilei. Begitu pula Galileo Galilei akan memuji dan memasyhurkan nama TUHAN, seperti raja Salomo yang memasyhurkan nama TUHAN melalui hikmat, kebijaksanaan, pengertian, dan kepandaian sebagai anugerah dari TUHAN semata (2 Tawarikh 1:11). 

Photo by DDP on Unsplash 

Kedua, ALLAH yang Maha Pengasih, Maha Pengampun dan Maha Baik, tetapi berbanding terbalik dengan kondisi dunia yang miskin dan penuh penderitaan. Seharusnya, jangan salahkan ALLAH kenapa dunia ini kacau balau. Koreksilah diri sendiri, kenapa kita tak sanggup untuk menjadi segambar dan serupa dengan Allah dan kenapa tidak mampu untuk bertanggungjawab atas segala kuasa yang diberikan  (Kejadian 1:26-31). 

Ketiga, kesombongan. Orang yang intelek biasanya menganggap pikiran orang zaman dahulu (hal yang berkaitan dengan roh, iblis, dll) adalah pikiran yang kolot dan kuno yang harus ditinggalkan. Padahal Tuhan berfirman dalam Matius 22:37 

Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 

Artinya, segenap akal budi kita atau kepandaian kita haruslah digunakan untuk mengasihi Tuhan. Misalnya, mencari Tuhan (Matius 6:33) karena rindu akan hadirat-Nya, bukan karena menunjukkan bahwa kita pintar beragama.

Image by TeroVesalainen from Pixabay 

Sesudah memahami hal-hal di atas, bagi kita yang ingin menggumuli filsafat, tetaplah bawa dalam doa keinginan tersebut agar orang tua menyetujui. Sampaikan perihal filsafat dengan sudut pandang positif dan prospek kerja ke depan. Yakinkan orang tua bahwa tiada satupun alasan yang akan menjadikan kita untuk mengingkari iman. Apabila, teman-teman tetap tidak diizinkan atau kenyataannya teman-teman di terima di jurusan dan fakultas lain, ingatlah Allah lebih mengetahui apa yang baik untuk kita semua.

Teman-teman yang menghadapi dosen ateis atau yang tidak mengenal Dia, jangan pernah ingkar iman hanya untuk sekedar keamanan nilai, karena bisa jadi itu adalah ujian iman untuk dapat naik kelas. Hanya saja kita tidak tahu cara meresponsnya dan argumentasinya. Lulus dengan cum laude itu penting sekali untuk kemuliaan nama Tuhan dan bisa membuat orangtua bahagia, tetapi bulir darah Kristus untuk menyelamatkan kita, jauh lebih berharga dari sekedar nilai A di Transkrip Nilai (Filipi 3:8).

[1] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000, hlm. 9

[2] Ibid

[3]Rm. Ferry Hartono  Georgius Paulus, Mistik Kristiani, diakses dari https://www.carmelia.net/index.php/artikel/spiritualitas/155-mistik-kristiani

[4]Ervan Hardoko dalam Kompas Online, Hari ini dalam sejarah: Galileo dan Galilei Diadili dalam Gereja Katolik, berita, https://internasional.kompas.com/read/2018/02/13/13193451/hari-ini-dalam-sejarah-galileo-galilei-diadili-gereja-katolik?page=all


LATEST POST

 

*in collaboration with Olivia Elena HakimSepanjang tahun 2016-2019, kita kerap membaca berita t...
by Ari Setiawan | 18 Sep 2019

Sebagian besar di antara kita menginginkan bisa berada di tempat yang kita inginkan atau kita impika...
by Aditya Seto Nugroho | 18 Sep 2019

Hai Gereja, bagaimana kabarnya? Kulihat wajahmu semakin banyak rupa Masihkah engkau setia membawa su...
by radith trinanda | 18 Sep 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER