Perempuan merangkul Laki-laki: Menanti Datangnya Allah atau Menanti Datangnya Mukjizat Allah? (Pt. 1)

Best Regards, Live Through This, 24 January 2023
Perempuan Samaria pergi memberitakan kedatangan Mesias meski tidak ada mukjizat terjadi dalam kehidupannya. Meski setiap hari orang Israel, jantung hatiNya melihat mukjizatNya dan tanda-tandaNya, tapi adanya perbedaan kehendak Bapa dan kehendak orang Israel, selain itu, tingginya ekspektasi orang Israel akan sosok Mesias yang datang dari awan-awan berujung pada penyaliban Tuhan Yesus.

Hi, Ignite People!

Hope this article finds you well!


Kiranya damai sejahtera dari Tuhan kita, Yesus Kristus selalu menyertai kita.


Sejujurnya, aku sudah mati rasa untuk berelasi, tetapi pada pertengahan tahun 2022, aku mendengar khotbah pendeta di salah satu gereja bilang begini,

Biasanya, kalau mau ketemu jodoh itu ada dug-dugnya. Ada nyetrum-nyetrumnya.

Lalu, aku merenung, “Apa maksud khotbah itu? Kenapa aku ke-trigger dengan khotbah itu?”

Kemudian, aku merespons firman itu dengan mendoakan kriteria cowo yang aku (rasa) butuhkan: setia, tidak selingkuh, tidak kasar, tidak melakukan kekerasan, dan dia harus gemar melayani Tuhan karena aku mau kami bisa pelayanan bersama-sama.

Singkat cerita, aku ketemu seorang laki-laki yang dua tahun lebih muda dariku. Gilanya, aku baru kali ini ngerasa deg-degan sama cowo. Sejak pertama kali dia ngajak ngobrol, aku udah deg-degan. Padahal, aku belum diajak ngedate olehnya.

Aku jadi sering mendoakan dia, 

Apakah ini orang yang Engkau pilih? Apakah yang harus aku lakukan? Berikanlah aku suatu tanda.

Lalu, sejak pertama kali aku mempertanyakan hal tersebut. Aku menantikan firman Tuhan di hari Minggu. Aku tidak sabar untuk ibadah online hanya untuk menanti jawaban Tuhan. Puji Tuhan, Tuhan merestui aku berteman-lebih-jauh dengannya. Aku ke-trigger dengan khotbah pelayan Firman di salah satu gereja yang kurang lebihnya begini,

Berikanlah belas kasihmu sebagaimana Bapa memberikan belas kasihan kepada anak yang bungsu. Jadilah sarana Allah dalam mengasihi seseorang yang ada dihadapanmu.


Photo by Kelly Sikkema on Unsplash  

Singkat cerita, kami menjalin hubungan pertemanan dengan kesepakatan. Biasanya, aku berteman, ya, berteman aja. Namun, entah kenapa pertemananku dengannya ada kesepakatan tersendiri. Kemudian, kami ketemuan beberapa kali dan teleponan sebanyak kali. Aku sangat bersyukur pada Tuhan setiap kali ada di dekatnya. 

Awalnya dia sering menunjukkan bahwa dia berdoa di depanku. Namun, pada saat kami menjalin hubungan pertemanan itu, dia mulai menunjukkan kekurangannya. Kekurangan yang paling fatal adalah dia mengaku tidak pernah berdoa. Selain itu, aku merasa bahwa dia tidak mengasihi aku karena sering dibuat menangis dengan cara bicaranya yang sering menyakiti hatiku.   

Akhirnya, aku berdoa seakan-akan minta mukjizat seperti air menjadi anggur, 

Tuhan, aku ingin dia mengasihiku. Aku sudah capek menderita disakiti oleh laki-laki.

Adakah mukjizat seperti air menjadi anggur itu? Tidak.

Tiba-tiba, ada suatu peristiwa yang tidak sesuai dengan rancanganku: aku di-block oleh cowok itu.


Photo by Kelly Sikkema on Unsplash  


Ignite People, pengalaman di atas hanya sebuah contoh bahwa apa yang kita harapkan ada kalanya tidak sesuai dengan keinginan kita. Dalam masa-masa yang tidak menentu seperti itu, mungkin kita (dengan iman yang dimiliki) masih berani berkata, "Aku nungguin apa yang Tuhan mau kerjain, kok, di hidupku." Namun, benarkah kita menantikan kedatangan Tuhan? Jangan-jangan kita hanya menantikan mukjizat-Nya, bukan mengharapkan kehadiran Tuhan sepenuhnya?

Sebenarnya, tidak salah kalau kita mengharapkan ada mukjizat Tuhan. Soalnya, sejak sekolah minggu, kita sering mendengar Tuhan Yesus dari mukjizatNya, kan? Oke, tetapi apakah kita memahami alasan Tuhan Yesus melakukan mukjizat?

Mari kita coba perhatikan kisah Tuhan Yesus menyembuhkan orang penyakit kusta. Dalam peristiwa pentahiran ini, kita perlu memahami konsep hukum pentahiran kusta pada Imamat 14:1-32, yaitu imam perlu mengadakan korban persembahan sebagai pendamaian antara orang yang kena kusta dengan TUHAN agar dia menjadi tahir.

Faktanya, ketika Tuhan Yesus mentahirkan orang kusta itu tidak ada korban persembahan untuk mentahirkan orang kusta tersebut. Sebab, Matius 8:3 dan Lukas 5:13 menjelaskan pentahiran itu terjadi seketika


Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.

Mari kita juga memperhatikan kisah Tuhan Yesus membangkitkan orang mati. Ada suatu pernyataan Tuhan Yesus yang unik sebagaimana dimaksud Yohanes 11:14-15 bahwa Ia bersyukur tidak hadir pada waktu itu,

11:14 Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: "Lazarus sudah mati;


11:15 tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya."

Rupanya, pada zaman Perjanjian Lama, ada juga peristiwa membangkitkan orang mati sebagaimana dimaksud dalam perikop Elia dan Janda di Sarfat 1 Raja-raja 17:7-24. Saat itu, Elia berseru kepada TUHAN agar TUHAN memulangkan nyawa anak Janda Sarfat kembali kedalam tubuhnya sehingga Janda Sarfat pun percaya bahwa Elia adalah abdi Allah. Bedanya, Tuhan Yesus tidak berseru kepada Allah Bapa, tetapi langsung berseru kepada Lazarus agar dia keluar dari dalam kubur sebagaimana dimaksud dalam Yohanes 11:41-43. Sebelumnya, Ia mengucap syukur terlebih dahulu bahwa Bapa selalu mendengarkan-Nya.

11:41 Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.


11:42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku."


11:43 Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah ke luar!

Akhirnya, orang Yahudi yang melawat Maria dan menyaksikan perbuatan tersebut percaya kepada Yesus. 

Terakhir, perhatikan Yohanes 9 dengan perikop "Orang yang buta sejak lahirnya". Menurutku, alasan orang tersebut dilahirkan buta tidak dapat dipisahkan dari Imamat 21:17-23 yang berarti disabilitas adalah sebuah simbol adanya suatu pelanggaran kekudusan. Namun, ketika Yesus melihat orang tersebut dan para murid-Nya menanyakan apakah dia telah melakukan dosa atau orang tuanyalah yang berdosa, Yesus menjawab bahwa yang menjadi poin utamanya adalah agar Allah dipermuliakan melaluinya. Yesus pun menyembuhkan orang buta itu, tetapi masalahnya adalah peristiwa itu terjadi di hari Sabat, hari peristirahatan sehingga tidak boleh ada pekerjaan yang dilakukan. Penyembuhan orang buta itu menimbulkan pertentangan di antara orang Yahudi (Yohanes 9:16).

9:16 Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: "Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat." Sebagian pula berkata: "Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mukjizat yang demikian?" Maka timbullah pertentangan di antara mereka.


Photo by Karl Fredrickson on Unsplash  


Ah, ya. Ada kalanya Allah tidak merancangkan sesuatu seperti  yang aku inginkan, karena Dia tahu apa yang aku butuhkan: sebuah perjumpaan pribadi dengan-Nya, meskipun itu berarti aku harus masuk ke dalam situasi yang menyakitkan. Aku teringat pada cowok yang berkata tidak pernah berdoa dan saat itu pun aku menudingnya sebagai orang berdosa. Bagaimana bisa aku menghakimi dia ketika aku sendiri berada di posisi yang sama dengannya di hadapan Allah yang sempurna?


Singkat cerita, pergumulan itu membawaku pada sebuah evaluasi diri selama masa Adven tahun lalu, "Sebenarnya, hal yang kunantikan ini mukjizat Allah atau Allah sebagai Allah?"


Sambil bergumul merenungkan maksud dan makna mukjizat, akhirnya, Tuhan menegurku dan menjawab doaku pada malam Natal lalu. Dalam khotbah "Menyambut Tuhan dalam Keterbatasan" yang disampaikan Pdt. Daud Naibaho di GKI Cikarang, aku ke-trigger dengan khotbahnya yang kira-kira seperti ini:

Ketika orang jarang berdoa dianggap pendosa, Allah mau menghampiri kita yang paling berdosa.  

Meski aku menganggap dia yang jarang berdoa sebagai pendosa, ternyata, akulah yang paling berdosa dan Allah mau menghampiri aku yang paling berdosa. Oleh sebab itu, aku harusnya menyambut Tuhan dalam keterbatasan sarana-Nya.


Bersambung

LATEST POST

 

Pemerintahan di dunia ini dilaksanakan dalam berbagai metode, namun pada intinya adalah mengatur sec...
by Oliver Kurniawan Tamzil | 29 Feb 2024

Image on PexelsMarilah kita membayangkan diri kita sendiri ketika kita sudah tua nanti? Apakah kita...
by Samuel wangsa | 18 Feb 2024

Lagu Kidung Jemaat no. 249 berjudul "Serikat Persaudaraan" mungkin sudah tidak asing lagi...
by Alviedo Yuda | 14 Feb 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER